Pengingkaran Ibrahim Kepada tuhan-tuhan Nabi Ibrahim As Bapak Para Nabi (Bagian 12)
Pengingkaran Ibrahim Kepada tuhan-tuhan
Nabi Ibrahim As Bapak Para Nabi (Bagian 12)
Jumat Pon 03 Oktober 2025 - 1 Rabiul Tsani 1447 H
Junsyam Ininnawa
Merangkai sejarah yang berserakan dan merangkainya menjadi kisah yang utuh secara kronologis untuk mencerahkan hati dengan pengetahuan Ilahi.
******
Oneday Azar memanggil anaknya Ibrahim ke bengkel galerinya. Azar meminta Ibrahim untuk membantunya dan mulai belajar membuat berbagai macam patung berhala yang biasa di pesan oleh orang-orang pada waktu itu dan juga patung berhala yang biasa di jual di pasar. Dibengkel miliknya inilah Azar yang pandai seni memahat patung, memproduksi patung-patung yang mewakili simbol-simbol tuhan pada zaman Kerajaan Namrud.
Ibrahim yang waktu itu sudah berusia 7 tahun, sudah memiliki tanda-tanda kebenaran dalam dirinya. Ibrahim kecil selalu mencari kebenaran tentang Tuhan yang seharusnya disembah oleh kaumnya.
Konon Ibrahim kecil tidak pernah menyembah patung berhala yang biasa di sembah oleh kaumnya. Dalam benak Ibrahim selalu berpikir bahwa apa yang disembah oleh kaumnya itu bukanlah Tuhan. Ibrahim meyakini bahwa ada Tuhan yang Maha Benar dibalik penciptaan alam semesta ini. Tuhan itulah yang seharusnya disembah bukannya patung berhala itu yang tidak mempunyai manfaat dan mudarat bagi kehidupan di dunia ini.
Di bengkel seni itulah terjadi dialog antara ayah Ibrahim Azar dan Ibrahim Kecil.
Ibrahim bertanya: Wahai ayahku saya ingin bertanya. Siapakah yang menciptakan manusia?
Azar menjawab:
Yang menciptakan manusia seperti kamu ini adalah aku, dan yang menciptakan aku adalah kakekmu dan begitulah seterusnya sampai ke nenek moyang pertama manusia.
Ibrahim kecil menyanggah pernyataan ayahnya dengan mengatakan. Wahai ayahku, persoalannya tidak demikian, karena ada juga orang yang di beri anak dan ada juga orang yang sudah menikah puluhan tahun tapi belum juga memiliki seorang anak pun.
Wahai ayahku. Ada berapa tuhankah yang engkau miliki?
Ayah Ibrahim menjawab. "Aku tidak mengetahui berapa jumlahnya wahai anakku."
Ibrahim kecil bertanya lagi. Wahai ayahku, apa yang harus aku perbuat apabila aku berkhidmat dan menyembah hanya satu tuhan sedangkan tuhan yang lainnya marah dan mau berbuat jahat kepadaku karena aku tidak berkhidmat kepadanya? Bagaimanapun juga suatu hari pasti akan terjadi pertentangan antara tuhan-tuhan itu dan mungkin juga terjadi perkelahian diantara mereka.
Bagaimana jika ada tuhan yang marah dan ingin berbuat jahat kepadaku dengan membunuh tuhanku, apa yang harus aku perbuat wahai ayahku? Mungkin juga suatu hari nanti, tuhan itu marah kepadaku dan akan membunuhku?
Ayah Ibrahim menjawab pertanyaan anaknya yang menggelitik itu dengan tertawa: "Jangan engkau takut wahai anakku, karena belum pernah terjadi bahkan tidak akan pernah terjadi tuhan yang satu berkelahi dengan tuhan yang lainnya.
Ibrahim menimpali jawaban ayahnya dengan berkata: "Bagaimana mungkin tidak akan terjadi perkelahian antara tuhan-tuhan itu wahai ayah. Di dalam kuil besar itu ada ribuan tuhan-tuhan dan disitu juga ada tuhan yang besar yang bernama Ba'al."
"Wahai anakku, aku telah berumur tujuh puluh tahun. Sampai sekarang ini aku tidak pernah mendengar apalagi melihat ada tuhan memukul apalagi sampai berkelahi dengan tuhan yang lain. Dan sudah menjadi kebiasaan manusia untuk tidak menyembah satu tuhan. Setiap orang menyembah tuhan yang berbeda. Tidak menjadi masalah satu orang menyembah satu tuhan dan orang yang kedua, ketiga dan seterusnya menyembah tuhan yang lain."
Ibrahim kecil memperjelas, berarti antara satu tuhan dan tuhan yang lainnya bisa hidup rukun?
Ayah Ibrahim menjawab: "Benar apa yang kamu katakan itu anakku."
Ibrahim kembali bertanya: "Wahai ayahku benda apakah yang menyerupai Tuhan?"
Azar menjawab anaknya: "Wahai anak bodoh, setiap hari aku membuat tuhan, kemudian tuhan-tuhan itu aku jual kepada orang lain dan uangnya kita pakai membeli roti. Bagaimana bisa engkau bertanya bagaimanakah tuhan itu? Tidakkah kau lihat ayahmu ini sedang membuat patung tuhan? Lihatlah patung tuhan ini terbuat dari Kayu Kurma, kalau ini dari Kayu Zaitun, dan yang kecil itu ayah bikin dari gading gajah. Cobalah kamu lihat baik-baik, tidakkah kau lihat kalau patung-patung tuhan begitu indah yang membuatnya seakan-akan hidup. Sungguh patung-patung ini sangat presisi dan tidak ada kekurangan padanya kecuali roh yang bisa menghidupkannya."
Ibrahim kecil bertanya lagi. "Wahai ayahku, jika benar yang engkau katakan itu, bagaimana bisa tuhan-tuhan ini tidak memiliki roh, sedangkan tuhan-tuhan ini memberi roh kehidupan kepada manusia? Bagaimana mungkin mereka yang tidak memiliki kehidupan bisa memberi kehidupan kepada manusia dan ciptaannya yang lain?
"Dapat dipastikan wahai ayahku bahwa patung-patung tuhan ini bukanlah Tuhan Yang Sebenarnya. Saya bisa mengatakan bahwa apa yang ayah yakini sebagai tuhan dan apa yang disembah oleh kaum kita sebagai tuhan, bukanlah Tuhan yang Maha Benar."
Mendengar ucapan Ibrahim yang mengolok-olok dan merendahkan tuhan yang dia buat dari kayu itu, marahlah orangtua itu dengan mengatakan: "Seandainya engkau sudah dewasa dan mengucapkan kata-kata yang tadi dengan merendahkan tuhan-tuhan kita, niscaya akan kubelah kepalamu dengan kapak ini. Sebaiknya kamu diam saja karena kamu itu belum cukup umur. Akalmu belum sempurna untuk mengetahui hal-ihwal tentang tuhan-tuhan yang kita sembah. Kamu itu masih anak-anak yang masih banyak bermain. Umurmu baru 7 tahun.
Bersambung
Allahu A'lam Bissawab
Allahu A'lamu Wa Antum Laa Ta'lamun
Artikel ini bisa juga dibaca di blog kami:
*Hanya belajar berbagi. Aku berlindung kepada Allah SWT dari firman-Nya: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan🙏🏼
Silahkan baca 11 artikel sebelumnya agar tidak salah faham:
Artikel 1
https://bijaksini-bijaksana.blogspot.com/2025/06/sembelihan-agung-apakah-ismail-atau.html
Artikel ke 2
https://bijaksini-bijaksana.blogspot.com/2025/06/kisah-penyembelihan-ishak-di-bukit.html
Artikel 3
https://bijaksini-bijaksana.blogspot.com/2025/06/nabi-ibrahim-as-mengunjungi-ismail-di.html
Artikel 4
https://bijaksini-bijaksana.blogspot.com/2025/07/harusnya-anak-tunggal-abraham-dalam-al.html
Artikel 5
https://bijaksini-bijaksana.blogspot.com/2025/07/siapa-yang-pertama-kali-membangun-kabah.html
Artikel 6
https://bijaksini-bijaksana.blogspot.com/2025/07/kabar-gembira-kelahiran-ishak-nabi.html
Artikel 7
https://bijaksini-bijaksana.blogspot.com/2025/07/kabar-gembira-kehamilan-siti-sarah-rah.html
Artikel 8
https://bijaksini-bijaksana.blogspot.com/2025/07/tugas-kenabian-ibrahim-as-nabi-ibrahim.html
Artikel 9
https://bijaksini-bijaksana.blogspot.com/2025/08/kematian-siti-hajar-dan-siti-sarah-nabi.html
Artikel 10
https://bijaksini-bijaksana.blogspot.com/2025/08/kematian-mendatangi-nabi-ibrahim-as.html
Artikel 11
https://bijaksini-bijaksana.blogspot.com/2025/09/kenapa-sembelihan-agung-berbeda-antara.html
#kisahsufi #kisahhikmah
#ceritasufi
#kisahnabi
#ceritanabi
#ceritahikmah
#hikmahteladan
#kisahteladan
#hikayatsufi
#hikayathikmah
#wisdomstory
#chikensoupformoslem
*gambar diambil dari facebook
🙏🏼junsyam ininnawa🙏🏼

Komentar
Posting Komentar