Membaca Alam Pikiran Rumi(Bagian 12)
Membaca Alam Pikiran Rumi(Bagian 12)
Anak Itik di Koloni Ayam
12 Ramadhan 1446 H
Rabu Pon 12 Maret 2025
Menggali makna terpendam dalam kisah-kisah Maulana Jalaluddin Rumi dalam kitab Matsnawi Maknawi.
Oneday badai telah membuat sekumpulan telur itik terlempar dari sarang mereka di tepi pantai yang dibatasi pepohonan, di mana si induk menciptakan tempat berlindung yang aman bagi mereka. Saat mereka melarung tanpa tujuan di atas ombak yang berbuih, sebutir telur terperangkap dalam pusaran air dan terpisah dari yang lain. Di bawah tekanan air yang berputar-putar, cangkangnya pecah, dan seekor anak itik kecil menjulurkan kepala, mencoba untuk menghirup udara baru. Namun gempuran ombak yang tak henti-hentinya melemparkan telur yang retak itu ke sebuah pantai, memisahkannya selamanya dari telur lain.
Itik mungil itu berjuang untuk keluar dari cangkangnya yang retak dan akhirnya berhasil terkedek-kedek menjauh dari laut yang bergelora ke hamparan pasir kering. Karena tidak mampu mengurus diri sendiri, itik kecil itu merasa kesepian dan ketakutan. Untungnya, seekor ayam betina yang telurnya baru saja menetas berada di dekatnya dan melihat makhluk tak berdaya itu berguling-guling dengan lemah di hamparan pantai tak berujung. Didekatinya itik itu, dan dengan kemurahan hati, menuntun makhluk itu ke bawah sayapnya, membawanya ke anak-anaknya sendiri.
Bayi-bayi yang baru menetas itu tumbuh besar bersama dan dapat mencari makan sendiri tanpa bantuan induk ayam mereka. Namun si anak itik selalu mendapati dirinya tertarik ke air meski terlalu takut untuk masuk, karena dia menyadari tidak satu pun saudaranya yang ingin mencoba. Batinnya tercabik, tidak dapat memahami mengapa dia merasa seperti itu. Adakalanya dia hanya ingin berada di tanah kering, tetapi dilain waktu yang dia inginkan hanyalah berbasah-basahan.
Meski si itik tidak dapat sepenuhnya memahami fitrahnya sendiri, pada saat yang bersamaan, dia juga tidak dapat menyangkalnya. Sama seperti kita manusia, yang termasuk ke dalam dunia spiritual dan selalu ingin kembali tetapi terjebak dalam jerat dunia material, tidak dapat melepaskan diri sepenuhnya.
*****
Hakikat manusia adalah makhluk cahaya di alam malakut yang di kirim ke bumi ke dalam jasad seorang manusia untuk mengarungi kehidupan dunia sepanjang hidupnya. Karena kita adalah makhluk cahaya yang punya kecenderungan spiritual untuk mengenal Allah SWT yang Maha Cahaya. Di dalam dada setiap manusia punya setitik cahaya spiritual yang rindu akan Tuhannya. Kobarkanlah setitik cahaya itu agar bisa menyinari dunia ini.
Jiwa manusia adalah makhluk langit yang di utus ke bumi. Proses menjadi utusan atau khalifah di bumi ini, terjadi secara alami lewat proses biologi yang kita kenal dengan proses pernikahan, kehamilan terlebih dahulu, baru kemudian lahir ke bumi sebagai seorang insan. Dalam diri insan inilah ada 3 entitas pembentuk seorang manusia.
Dalam proses kehamilan dalam rahim inilah jasad, jism (arab) atau jasmani seorang manusia diciptakan oleh Allah SWT Fi Ahsani Taqwin. Ketika umur janin dalam kandungan 120 hari. Di situlah terjadi proses 'persaksian' jiwa manusia yang merupakan makhluk langit di alam spritual ditiupkan kejanin dalam perut seorang ibu bersama dengan Ruh (spirit) untuk menyempurnakan sosok yang namanya manusia. Kejadian ini dalam bahasa Al qurannya "Nafakhtu fihi min ruhihi".
Manusia atau insan itu terdiri dari 3 entitas (satuan wujud). Atau dengan kata lain, bersatunya 3 entitas ini terbentuklah seorang manusia. Ketiga entitas itu adalah:
Ruh:
Ruh - Arab / Al-Qur'an
Spirit - English
Atma / atman dalam literatur Hindu sansekerta
Pneuma dalam literatur Yunani dan Parakletos untuk Ruhul Qudus.
Jiwa:
Nafs - Dalam Bahasa Arab dan Al-Qur'an
Soul - English
Jivatman dalam literatur Hindu /sansekerta.
Psyche atau Psuche dalam literatur Yunani kuno
Tubuh / Jasadiyah:
Jism - Dalam Bahasa Arab dan Al-Qur'an
Body adalah tubuh dslam bahasa Inggris dan Corpse ketika tubuh sudah jadi mayat.
Sharira dalam literatur Hindu sansekerta
Soma adalah tubuh dalam literatur Yunani dan Nekros adalah tubuh setelah mati atau sudah jadi mayat.
Jasad manusia itu adalah makhluk bumi yang terbuat dari tanah.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah" (Al-Mu'minun ayat 12)
"Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk" (Al-Hijr ayat 26)
Dalam Al kitab Injil, Kejadian 2:7
"Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup".
Sebagaimana dalam literatur islam, Yunani kuno dan Hindu Sansekerta juga melihat jasad adalah wadah dari jiwa seorang manusia. Jasad / tubuh ini adalah entitas manusia yang fana dan akan mati dan hancur. Sedangkan jiwa adalah entitas manusia yang substansi atau esensi sejati seorang insan yang abadi dan akan melanjutkan perjalanan menuju alam berikutnya setelah dunia fana ini tiada. Jiwa tidak mati atau hancur setelah tubuh fisik mati. Jiwa / Nafs itu entitas tubuh yang kekal (immortal). Dalam Jiwa / Nafs inti manusia yang merupakan tempat kebijaksanaan, pengetahuan, moral, karakter, pencari kebenaran dan tujuan hidup.
Nafs atau jiwa manusia ini makhluk dari Alam Cahaya / Alam Nur yang di kirim ke bumi ke dalam jasad manusia untuk menyempurnakan dirinya menjadi Insan Kamil dengan Nafs Mutmainnah yang menyala / hidup dalam dirinya.
Ruh adalah Ruh Kehidupan yang menghidupkan dan mengikat kesatuan antara jiwa dan jasad menjadi manusia / insan / human. 3 in 1 atau ketiga entitas inilah yang menyusun manusia yang dimulai dalam rahim.
Simbol itik dalam kisah Maulana Rumi diatas adalah simbol Jiwa yang selalu mau mendekati air ini bisa dimaknai Jiwa Manusia yang selalu cenderung mencari Jati Dirinya. Mencari Hakikat Hidupnya.
_____
Saya, anda dan siapapun membaca kisah Maulana Rumi diatas bisa berbeda interpretasi dalam menangkap makna yang tersirat dalam kisah ini. Semoga kita bisa menemukan hikmah terpendam dari kisah ini untuk jadi pelajaran hidup mengenal diri dan mengenal Sang Maha Ilmu, Allah SWT. Kalau ada perbedaan dalam melihat makna di balik kisah maka ingatlah selalu kisah gajah dalam gelap, kita hanya bisa meraba dan menerka binatang apa gajah itu, bukan melihatnya langsung.
* Terkedek-kedek: jalan bergoyang kekiri dan kekanan
Allahu A'lam Bissawab
Allahu A'lamu Wa Antum Laa Ta'lamun
*Hanya belajar berbagi. Aku berlindung kepada Allah SWT dari firman-Nya: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan🙏🏼
#kisahsufi #kisahhikmah #ceritasufi
#ceritahikmah
#hikmahteladan
#kisahteladan
#hikayatsufi
#hikayathikmah
#wisdomstory
#chikensoupformuslim
* foto dari FB Edi Warsono
🙏🏼junsyam ininnawa🙏🏼

Komentar
Posting Komentar