Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 2)

 Membaca Alam Pikiran Rumi(Bagian 2)


Pawang Dan Ular Beku


2 Ramadhan 1446 H

Ahad Pon 2 Maret 2025


Menggali makna terpendam dalam kisah-kisah Maulana Jalaluddin Rumi Al Balkhi dalam kitab Matsnawi Maknawi.



Oneday seorang pawang ular ternama pergi ke daerah pegunungan untuk menangkap ular dengan keahliannya. Saat itu, salju turun dengan sangat deras. Pawang itu pun mencari ke setiap sudut gunung untuk menemukan ular yang besar. Setelah beberapa lama, akhirnya ia menemukan bangkai ular naga yang amat sangat besar.

Pawang itu senang sekali dan ia ingin menyombongkan tangkapannya di hadapan seluruh penduduk kota . Ia membungkus naga itu dan membawanya ke Baghdad untuk dipertontonkan.


Turunlah ia dari gunung dengan menyeret ular sebesar pilar istana. Ia sampai di kota dan segera menceritakan kehebatannya kepada setiap orang yang ia temui. Ia katakan bahwa ia telah bergumul dan berkelahi habis-habisan sampai ular itu mati di tangannya.


Masalahnya, ternyata ular naga itu tidak benar-benar mati. Ia hanya tertidur karena kedinginan akibat salju yang sangat tebal. Si pawang tak mengetahui hal ini. Ia malah mengadakan pertunjukan untuk umum di tepian sungai Tigris.


Berduyun-duyun orang datang dari seluruh penjuru kota untuk melihat pemandangan luar biasa; seekor ular naga dari gunung yang mati di tangan seorang pawang ular.


Semua orang mempercayai cerita pawang ular itu dan mereka tak sabar ingin melihat binatang yang langka ini. Semakin banyak pengunjung, semakin besar pula pemasukan yang didapat sang pawang. Oleh karena itu, pawang itu menunggu lebih banyak lagi orang yang datang sebelum ia membuka bungkusan ular naga.


Dalam waktu singkat, tempat itu sesak dipenuhi para pengunjung. Sang pawang lalu mengeluarkan ular besar itu dari kain wol yang membalutnya selama perjalanan dari gunung.

Meskipun ular itu diikat kuat dengan tambang, sinar mentari Irak yang terik telah menerpa bungkusan ular itu selama beberapa jam, dan kehangatan itu mengalirkan kembali darah di tubuh ular.


Perlahan-lahan, sang naga terbangun dari tidurnya yang panjang. Begitu ular itu bangun, ia segera meronta dari ikatan tambang yang melilitnya. Para penonton menjerit ketakutan. Mereka berhamburan lari ke berbagai arah dengan paniknya.


Kini, naga itu telah

lepas dari ikatan dan ia mengaum keras seperti seekor macan. Banyak orang terbunuh dan terluka karena peristiwa ini. Si pawang ular berdiri terpaku ketakutan. Ia menjerit-jerit, “Oh Tuhan, apa yang telah aku lakukan? Apa yang telah aku bawa dari gunung?” Ular naga lalu melahap sang pawang dalam sekali telan. Dengan cepat ia menyedot darahnya dan meremukkan tulang-tulangnya seperti ranting-ranting kering.


*****


Rumi mengingatkan kita dibalik cerita naga beku ini merupakan simbol nafsu manusia. Cerita tentang hawa nafsu dan syahwat nafsu dan bahaya yang mengintai apabila kita lalai mengendalikan 'naga' nafsu kita.


Setiap manusia memiliki nafsu dalam dirinya. Hendaklah engkau berhati-hati ketika nafsu ini bangkit dari tidurnya, akibat pengaruh dari hawa dan syahwatmu. Bangkitnya 'naga beku' atau 'nafsu tidur' dari dalam dirimu akan melahap dan menghancurkan dirimu. Hawa nafsumu dan syahwat nafsumu harus engkau kendalikan, karena hanya engkau yang memegang kendalinya.


Perumpamaan yang lebih mudah seperti kusir dan kereta delmannya. Hawa dan syahwat itu harus engkau kendalikan sebagaimana engkau mengendalikan kereta kuda (delman). Kalau tidak, kereta delmanmu akan lari tak tentu arah dan membahayakan dirimu dan orang lain. Jangan sampai kereta kudamu mengendalikan dirimu. Engkau yang harusnya menjadi kusir,  bukan sebaliknya kudamu yang menjadi kusir.


Dalam bahasa Alquran, menzalimi diri sendiri itu sama dengan, tidak mengendalikan nafs-mu / jiwamu dari pengaruh hawa dan syahwatmu. Sehingga engkau terus memperturutkan keinginannya (hawa dan syahwat), dan engkau hidup dengan berlumuran dosa sampai akhir hayatmu.

Pernahkan kita mendengar bagaimana kemarahan naga dalam diri bisa menghancurkan segalanya. Atau mungkin melihat dilayar televisi bagaimana bahaya yang diakibatkan oleh naga dalam diri. Akibat kemarahan naga dalam diri bisa kita lihat dalam peperangan yang terjadi di bumi ini. Baik itu perang antara bangsa, suku dan ras. Berapa juta nyawa melayang karena "naga dalam diri" ini marah dalam perang. Kalau antara manusia kita menyebutnya perkelahian yang bisa berakibat pembunuhan antar manusia.


Pernahkah anda merasakan bagaimana "naga dalam diri" anda marah. Marah yang tidak bisa anda kendalikan. Kemarahan yang menyakiti orang lain disekitar anda dengan fisik dan perasaan akibat ucapan yang tidak terkendali. Anehnya, ketika kemarahan "naga dalam diri" sudah selesai dan semuanya sudah terlanjur tersakiti, kita tiba-tiba menyesal dan merasa bersalah dengan apa yang telah kita lakukan barusan akibat tidak bisa mengendalikan emosi "naga dalam diri".


Sudah banyak contoh yang terjadi bahaya dalam sejarah umat manusia yang diakibatkan oleh "naga dalam diri”. Semuanya hancur karena perang. Semuanya hancur karena kekuasaan. Semuanya hancur karena uang. Semuanya hancur karena wanita.


Hati-hatilah dengan naga yang tidur dalam dirimu. Kalau kamu tidak mampu mengendalikannya maka akan merusak dirimu dan orang lain.

Maulana Rumi menutup cerita itu dengan berkata:


Ular naga adalah perlambang nafsu lahiriah. Bagaimana matinya ular itu? Nafsu hanya dapat beku dengan penderitaan dan kekurangan. Berilah nafsu itu kekuatan dan hangatnya sinar mentari, maka ia akan terbangun. Biarkan ia beku dalam salju dan ia takkan pernah bergerak. Namun bila kau melepaskannya dari ikatan, ia akan melahapmu bulat-bulat. Ia akan meronta liar dan menelan semua hal yang ia temui. Kecuali kau sekuat Musa dengan tongkat mukjizatnya, ikatlah selalu ular nagamu dalam lilitan keimanan.


Rumi mengakhiri dengan untaian puisi berikut: 


"Ular naga itu nafsumu: Mana mungkin ia mati?

Ia hanya beku karena miskin dan kelemahan diri.


Jika ia menjadi Firaun dengan segala kekayaannya

sehingga seluruh air Nil mengalir karena perintahnya


Ia akan mulai benar-benar bertindak seperti Firaun

Menelan jutaan orang seperti Musa dan Harun


Ular naga menjadi ular kecil, karena sengsara

Lalat menjadi garuda, karena kaya dan kuasa.


Biarkan ular itu dibungkus salju dari keinginannya.

Awas, jangan biarkan matahari mencairkannya."


Dalam setiap diri kita tersembunyi ular naga. Binatang buas yang sangat berbahaya. Setiap saat ia mengancam keselamatan kita dan semua makhluk di sekitar kita.

_____



Allahu A'lam Bissawab

Allahu A'lamu Wa Antum Laa Ta'lamun


*Hanya belajar berbagi. Aku berlindung kepada Allah SWT dari firman-Nya: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan🙏🏼


#kisahsufi #kisahhikmah #ceritasufi

#ceritahikmah

#hikmahteladan

#kisahteladan

#hikayatsufi

#hikayathikmah

#wisdomstory

#chikensoupformuslim


🙏🏼junsyam ininnawa🙏🏼

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maha Suci Allah Yang memperjalankan Hamba-Nya Isra' Mi'raj (Bagian 1)

Membaca Alam Pikiran Rumi(Bagian 12)