Maha Suci Allah Yang memperjalankan Hamba-Nya Isra' Mi'raj (Bagian 1)

 Maha Suci Allah Yang memperjalankan Hamba-Nya 


Isra' Mi'raj (Bagian 1)


Senin Kliwon 29 Desember 2025 - 09 Rajab 1447 H


Junsyam Ininnawa


Surat Al Isra (17) ayat 1:


أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم

بِسمِ اللَّهِ الرَّحمٰنِ الرَّحيمِ


سُبْحَـٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًۭا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَـٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَـٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ ١


Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.


*****

gambar hanya ilustrasi buraq

Oneday pada 26 Rajab tahun 620 Masehi, Rasulullah Saw sedang beribadah dan bermunajat di sudut Ka'bah, tiba-tiba di datangi oleh Abu Jahal dan beberapa orang kelompoknya yang tiada lain adalah tokoh-tokoh Mekkah kala itu. Mereka datang untuk menghina Nabi Muhammad Saw. Abu Jahal berkata: Mana mungkin kamu seorang nabi, kamukan seorang anak yatim piatu, buta huruf dan miskin. Seharusnya Tuhan itu memilih diantara kami yang merupakan tokoh terpandang dan kaya raya dalam Bangsa Quraisy.


Mendengar perkataan kaum Quraisy itu, Rasulullah Saw semakin sedih dengan hinaan itu, apalagi beberapa bulan sebelumnya, pamannya Abu Thalib dan istrinya Siti Khadijah telah lebih dulu wafat. Keduanya adalah orang yang selalu setia melindunginya dan mendukung utama dakwah Sang Nabi.

Belum usai kesedihan yang dialami karena wafatnya kedua orang yang dicintainya itu sekarang ditambah dengan tekanan dan hinaan yang bertubi-tubi datang untuk menciutkan nyali dan menghalangi dakwah Baginda Nabi Muhammad Saw. 


Setelah kejadian penghinaan itu, Rasulullah SAW tidak pulang ke rumahnya. Baginda Nabi SAW pulang ke rumah saudara sepupunya, Ummu Hani yang tinggal tidak jauh dari Kakbah, tepatnya di dekat pintu Babussalam sekarang ini. Ummu Hani adalah kakak kandung dari Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib. Nama lengkapnya adalah Fakhitah binti Abi Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim. Dia adalah sepupu Nabi SAW yang dulunya serumah dengannya ketika Nabi SAW hidup dan dibesarkan atas asuhan pamannya Abu Thalib. Nabi SAW terkadang ke rumah Ummu Hani untuk silaturrahmi dengan sepupunya dan bercerita tentang perlakuan Bangsa Quraisy kepadanya. 


Malam itu Nabi Muhammad SAW menginap di rumah Ummu Hani sambil menceritakan tentang penghinaan yang baru saja dialaminya dari Abu Jahal dan kelompoknya. Malam itu Ummu Hani menyiapkan makan untuk Baginda Nabi SAW dan menyiapkan kamar untuk Nabi SAW beristirahat.


Pada Malam 27 Rajab. Rasulullah Saw walaupun dalam keadaan sakit tetap melaksanakan shalat malam dan berdoa dalam derai air mata. Begitu berat beban yang di derita Rasulullah Saw setelah paman dan istri tercinta meninggal dunia. Hinaan dan tekanan dari penduduk Makkah yang setiap hari beliau terima dan rasakan. 


Di saat yang sama di langit telah terjadi dialog antara Allah SWT, Tuhan Semesta Alam dengan Malaikat Jibril. Allah SWT berkata: Ya Jibril, tahukah kamu malam apa ini? Malam 27 Rajab jawab Jibril. Malam ini jawab Allah SWT, akan Aku kirimkan berita baik-Ku kepada seluruh penjuru alam semesta. Malam ini akan Aku bawa kekasih-Ku menuju-Ku. Akan Aku tunjukkan kepada Muhammad, surga-Ku, pepohonan bidara-Ku, Rumah Kemakmuran-Ku, singgasana-Ku. Wahai Jibril, sampaikan kepada Malaikat Israfil agar meninggalkan terompetnya malam ini. Katakan kepada Mikail agar menunda pembagian Rezki malam ini, katakan kepada Malaikat Izrail untuk menunda mencabut nyawa umat manusia malam ini. Katakan kepada Malaikat Malik untuk memadamkan api neraka. Sampaikan kepada Malaikat Ridwan untuk membuka pintu-pintu surga dan bidadari harus bersiap dengan baju sutra dan perhiasan baru untuk menyambut kekasih-Ku Muhammad. Sampaikan kepada para Nabi-nabi untuk bersiap menyambut Muhammad-Ku.


Wahai Jibril, pergilah engkau ke surga untuk mengambil pakaian untuk Muhammad-Ku, ambilkan jubah terbaik dan mahkota, sebuah ikat pinggang dan kendaraan surgawi (buraq). Sampaikan Salam-Ku kepadanya. Dia kini ada di rumah Sepupunya Ummu Hani dalam keadaan bersedih karena hinaan dan tekanan kaum kafir Quraisy Makkah. 


Menurut riwayat Ibnu Abbas Ra. Nabi SAW bersabda, saat itu aku sedang tidur. Menyadari Jibril datang kepadaku. Aku duduk di tepi ranjang. Jibril berkata kepadaku. Wahai Rasulullah, Salam atasmu dari Tuhan Semesta Alam. Allah SWT mengundang anda malam ini menemui-Nya. Aku datang untuk menjemputmu. Malam ini menjadi malam penghormat besar untukmu. Tidak seorang pun sebelum dan sesudahmu yang akan memperoleh rahmat dan berkah setinggi ini.


Rasulullah Saw berkata, setelah mendengar ucapan Malaikat Jibril, aku segera mencari bejana air untuk berwudhu. Malaikat Ridwan datang dari surga membawa bejana air dari Al Kautsar yang dilapisi zamrud untuk kupakai berwudhu.


Setelah itu mereka membawaku ke Ka'bah membaringkanku dan membelah dadaku. Hatiku di keluarkan dan membasuhnya dengan Air Zamzam. Mereka mengisinya dengan cahaya kebijaksanaan. Setelah itu mereka memasukkan hatiku dan menutupnya seperti semula. Mereka membusanaiku dengan pakaian dari surga, memasang serban dan menempatkan mahkota diatas serbanku. Memasangkan sabuk dari permata merah di pinggangku. Malaikat Jibril sudah menyiapkan kendaran surgawi Buraq untuk aku naiki malam itu.



Bersambung pada artikel berikutnya🙏🏼


Allahu A'lam Bissawab

Allahu A'lamu Wa Antum Laa Ta'lamun


Artikel ini bisa juga dibaca di blok kami:



*Hanya belajar berbagi. Aku berlindung kepada Allah SWT dari firman-Nya: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan🙏🏼


#kisahsufi #kisahhikmah #ceritasufi

#ceritahikmah

#hikmahteladan

#kisahteladan

#hikayatsufi

#hikayathikmah

#wisdomstory

#chikensoupformoslem


*gambar diambil dari facebook


🙏🏼junsyam ininnawa🙏🏼

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 2)

Membaca Alam Pikiran Rumi(Bagian 12)