Sembelihan Agung Apakah Ismail atau Ishak? - Ibrahim Bapak Para Nabi (Bagian 1)

 Sembelihan Agung Apakah Ismail atau Ishak?


Ibrahim Bapak Para Nabi (Bagian 1)


Jumat Legi 13 Juni 2025 - 17 Dzulhijjah 1446 H

Oneday dalam sebuah pertemuan, terjadi dialog antara seorang Ulama Muslim dengan seorang orientalis¹. Dalam pertemuan itu, mereka berdua berdiskusi tentang banyak hal, termasuk bagaimana keduanya melihat tentang pengorbanan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim As kepada salahsatu anaknya.


Ulama Muslim itu mengatakan bahwa sebentar lagi musim haji tiba dan dalam bulan suci ini umat muslim akan malaksanakan hari raya Idul Adha / Idul Qurban untuk mengikuti syariah Nabi Ibrahim As yang mengorbankan anaknya Ismail di Mekkah dan Umat Islam mengikutinya dengan menyembelih binatang qurban pada bulan Dzulhijjah setiap tahun.


Tiba-tiba Sang Orientalis langsung memotong pembicaraan Ulama Muslim itu dengan mengatakan. Di Kitab Taurat atau Perjanjian Lama bukan Ismail yang di korbankan tapi Ishak? Lanjut orientalis itu lagi, di dalam Al Qur'an tidak spesifik menyebut nama tentang siapa yang dikorbankan sedangkan di dalam Kitab Perjanjian Lama itu disebutkan secara spesifik dalam Kitab Kejadian 22 - 2 bahwa Ishak yang dikorbankan? Dan juga lanjut orientalis itu, disebutkan secara jelas bahwa Ishak diminta oleh Tuhan Ibrahim untuk mengorbankan di  anaknya Ishak di Bukit Moria?


Siapakah sebenarnya anak Nabi Ibrahim As untuk dikorbankan kepada Tuhan? Apakah yang disembelih itu adalah Ismail anak dari Hajar (Hagar dalam literatur Yahudi Nasrani)? Ataukah Ishak, anak dari Sarah (Sarai dalam literatur Yahudi Nasrani)?


Ketika terdesak dengan pertanyaan dan pernyataan yang di keluarkan oleh Sang Orientalis. Sang Ulama menjawab dengan penjelasan bahwa dalam ajaran Islam, anak Ibrahim yang di korbankan adalah Ismail, putra pertama Ibrahim dan Istri keduanya Siti Hajar.


Ketika Ismail sudah tumbuh besar dipadang gersang Makkah dan usianya sudah mencapai 12 ² tahun. Datang perintah yang sangat berat dari Allah SWT lewat mimpi kepada Nabi Ibrahim As. 


Dalam mimpinya, Nabi Ibrahim melihat dirinya menyembelih anaknya Ismail. Karena mimpi ini terulang beberapa kali maka Nabi Ibrahim meyakini kalau mimpi itu adalah Wahyu Ilahi kepadanya. Karena Iman dan ketaatannya kepada Allah SWT maka  Nabi Ibrahim As membicarakan perihal Wahyu Ilahi lewat mimpinya itu kepada anaknya. Ini termaktub dalam Alquran surah Ash Shafat - 102:


فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ


"Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: 'Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!'" (QS. Ash-Shaffat: 102)


Sangat berat hati Nabi Ibrahim As menyampaikan perihal Wahyu Ilahi ini kepada anaknya. Ismail adalah anak tunggalnya yang selama ini di idam-idamkan dan ditunggu selama puluhan tahun. Ketika anak itu sudah berumur 12 tahun tiba-tiba turun Wahyu Tuhan lewat mimpi untuk mengorbankannya.


Alangkah kaget dan terharunya Nabi Ibrahim As, ketika dia menyampaikan perihal mimpinya itu dan di jawab oleh anaknya Ismail dengan jawaban yang penuh keberserahdirian sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Ash Shaffat - 102:


قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ


"Ia menjawab: 'Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.'" (QS. Ash-Shaffat: 102)


Nabi Ibrahim As terharu sampai meneteskan air mata. Rupanya selama anak semata wayangnya yang dia tinggalkan bertahun-tahun dibawa pengasuhan dan didikan ibunya bisa menjadi anak shaleh dan bijaksana seperti ini.


Setelah Nabi Ibrahim mendengar jawaban yang penuh ketaatan dari anaknya. Keesokan harinya Nabi Ibrahim As mememinta kepada istrinya Hajar untuk menyiapkan baju yang terbaik buat Ismail karena dia ingin mengajak Ismail menuju Lembah Mina.


Di lembah Mina inilah Nabi  Ibrahim As membaringkan Ismail dan bersiap menjalankan perintah Allah SWT. Namun, ketika hendak menyembelih Ismail ternyata pedang sembelihan itu tidak mempan dileher Ismail atas kehendak Allah. 


فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ ۝ وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ ۝ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ


"Ketika keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya, Kami panggil dia: 'Wahai Ibrahim! Sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu.' Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. Ash-Shaffat: 103–105)


Sebagai pengganti Ismail, Allah SWT menurunkan seekor domba dari surga di Lembah Mina. Itulah awal mula disyariatkannya ibadah qurban.


وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ


"Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang Agung." (QS. Ash-Shaffat: 107)


Peristiwa itulah yang selalu diperingati umat Islam setiap 10 Dzulhijjah sebagai Hari Raya Qurban. Umat Islam di seluruh dunia menyembelih hewan qurban sebagai bentuk penghormatan terhadap ketaatan Nabi Ibrahim dan keikhlasan Nabi Ismail yang telah melaksanakan *Penyembelihan Agung*. Mereka bukan hanya teladan dalam keluarga, tapi juga dalam ketaatan dan berserah diri yang total kepada Allah.


Ketika Sang Ulama   selesai penjelasan dari sudut pandang Islam. Dia meminta kepada orientalis itu untuk menceritakan bagaimana penjelasan penyembelihan itu dari sudut pandang Yahudi Nasrani yang Sang Orientalis pahami? 


Bersambung pada Jumat depan🙏🏼


Keterangan:

1 Orientalis adalah seorang yang mempelajari dan berkarya di bidang studi ketimuran, terutama mengenai bahasa, budaya, agama, dan sejarah dunia Timur

2 umur 12 tahun ketika Ismail di sembelih dipercaya juga sebagai angka 12 Imam Maksum penerus dalam Mazhab Ahlul bait.


Allahu A'lam Bissawab

Allahu A'lamu Wa Antum Laa Ta'lamun


Artikel ini bisa juga dibaca di blok kami:



*Hanya belajar berbagi. Aku berlindung kepada Allah SWT dari firman-Nya: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan🙏🏼


#kisahsufi #kisahhikmah #ceritasufi

#ceritahikmah

#hikmahteladan

#kisahteladan

#hikayatsufi

#hikayathikmah

#wisdomstory

#chikensoupformoslem


*gambar diambil dari facebook


🙏🏼junsyam ininnawa🙏🏼

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 2)

Membaca Alam Pikiran Rumi(Bagian 12)

Maha Suci Allah Yang memperjalankan Hamba-Nya Isra' Mi'raj (Bagian 1)