Apakah Shalat Khusyu' Itu? (Bagian 6) Membayangkan Shalat di Titian Shirath
Apakah Shalat Khusyu' Itu? (Bagian 6)
Membayangkan Shalat di Titian Shirath
Jumat Kliwon 23 Mei 2025 - 25 Zulqaiddah 1446 H
Oneday dalam sebuah majlis pengajian, ada seorang yang bernama Isham bin Yusuf bertanya kepada Hatim Al-Asham¹ tentang bagaimana shalat khusyu' itu?
Al-Asham adalah julukan yang disematkan orang buat Hatim bin Alwan. Nama lengkapnya adalah Abdul Rahman Hatim bin Alwan. Beliau adalah seorang sufi yang sering di datangi orang untuk bertanya berbagai hal. Al-Asham mempunyai arti orang yang tuli atau Si tuli.
Oneday ada seorang wanita yang menemui Hatim untuk bertanya tentang suatu hal. Ketika hendak bertanya tiba-tiba wanita mengeluarkan angin (kentut) di depan Hatim bin Alwan tanpa disadarinya. Karena menjaga kehormatan wanita itu agar tidak merasa malu, Hatim berkata kepadanya agar mengeraskan suaranya kalau bertanya karena dia agak tuli. Padahal pendengaran Hatim bin Alwan baik-baik saja, itu dilakukan untuk menjaga aib wanita itu.
Mengenai pertanyaan tentang shalat khusyu', Hatim Al Asham menjawab: "Ketika waktu shalat sudah masuk, aku langsung mengambil air wudhu dengan lahir dan batin."
Mendengar jawaban itu, Isham bin Yusuf pun bertanya lagi: "Bagaimana wudhu lahir dan batin itu?"
Maka Hatim Al-Asham pun menjawab, "Wudhu lahir sebagaimana yang biasa engkau lakukan dengan membasuh semua anggota wudhu dengan air. Sementara wudhu batin ialah membasuh anggota dengan tujuh perkara, yaitu:
1. Bertaubat dari segala dosa
2. Menyesali dosa yang telah dilakukan
3. Tidak tergila-gila akan dunia
4. Tidak mencari dan mengharap pujian dari orang lain (riya')
5. Meninggalkan sifat bangga
6. Meninggalkan sifat khianat dan menipu
7. Meninggalkan sifat iri dan dengki.
Setelah Hatim Al-Asham menyebutkan 7 perkara yang patut dihindari, kemudian beliau melanjutkan penjelasannya: "Kemudian aku menuju ke masjid, aku persiapkan semua anggota badanku untuk menghadap ke kiblat. Aku berdiri dengan penuh kewaspadaan. Dan aku rasakan dalam diriku perkara berikut:
1. Aku sedang berhadapan dengan Allah
2. Surga di sebelah kananku
3. Neraka di sebelah kiriku
4. Malaikat maut berada di belakangku
5. Dan aku bayangkan pula bahwa aku seolah-olah di atas titian "Sirathal-Mustaqim" dan menganggap sholatku kali ini adalah sholat yang terakhir bagiku.
Kemudian barulah aku berniat dan bertakbir dengan berserah diri dalam shalat.
Imam Hatim melanjutkan: "Setiap bacaan dari doa di dalam sholat, aku pahami maknanya kemudian aku rukuk dan sujud dengan tawadhu. Aku bertasyahud dengan penuh pengharapan dan aku memberi salam dengan ikhlas. Beginilah aku bersholat selama 30 tahun."
Mendengar penjelasan dan jawaban dari Hatim bin Al-Asham, sang penanya Isham bin Yusuf pun kaget sekaligus kagum dengan penjelasan shalat Hatim dan membanding-bandingkan shalatnya tidak seperti shalat yang dilakukan Hatim Al-Asham.
*****
Salah satu cara mendapatkan khusyu' kata para alim ulama adalah dengan keyakinan serta kehadirkan hati ketika seseorang shalat. Meyakini bahwa kita sedang berdiri berhadapan dengan Allah SWT, Tuhan pencipta semesta diri dan semesta alam. Dalam sebuah hadits, Nabiyullah Muhammad Saw bersabda:
إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ فِي صَلاَتِهِ فَإِنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ
“Sesungguhnya jika salah seorang di antara kalian berdiri untuk shalat, maka dia sedang berhadapan kepada Rabb-nya.” [HR. Bukhari no. 405 dan Muslim no. 551]
Meyakini bahwa shalat adalah dialog suci antara makhluk yang menyembah dan Khalik yang disembah. Dalam shalat banyak mengandung puja-puji seorang hamba dengan Khaliknya. Ketika hamba memuji Sang Khalik maka Allah SWT akan menjawab pujian itu. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah ra, Nabiyullah Muhammad Saw bersabda:
قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ
“Allah Taala berfirman, “Aku membagi shalat (yaitu surat Al-Fatihah, pent.) untuk-Ku dan hamba-Ku menjadi dua bagian. Dan hamba-Ku mendapatkan sesuai dengan apa yang dia minta.”
فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ: {الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: حَمِدَنِي عَبْدِي
Ketika hamba-Ku berkata (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ), “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”. Allah SWT menjawab dengan berfirman, “Hamba-Ku memujiku.”
وَإِذَا قَالَ: {الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي
Ketika hamba berkata (الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ), “Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. Allah SWT menjawab dengan berfirman, “Hamba-Ku menyanjungku.”
وَإِذَا قَالَ: {مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ} ، قَالَ: مَجَّدَنِي عَبْدِي – وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي
Ketika hamba berkata مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ), “Yang menguasai hari pembalasan”. Allah SWT menjawab dengan berfirman, “Hamba-Ku memuliakan-Ku.” Dan terkadang Allah berfirman, “Hamba-Ku memasrahkankan urusannya kepada-Ku.”
فَإِذَا قَالَ: {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} قَالَ: هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ
Ketika hamba berkata إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ), “Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan”. Allah SWT menjawab dengan berfirman, “Ini adalah antara Aku dan hamba-Ku. Dan untuk hamba-Ku apa yang dia minta.”
فَإِذَا قَالَ: {اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ} قَالَ: هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ
Dan ketika hamba berkata (اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ), “(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”. Allah SWT menjawab dengan berfirman, “Ini adalah untuk hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku sesuai apa yang dia minta.” [HR. Muslim no. 395]
Ibadah shalat adalah ibadah yang sangat istimewa. Ibadah shalat adalah sarana yang disiapkan oleh Allah SWT untuk mendekati-Nya. Ada berbagai macam jenis shalat, baik yang wajib maupun sunnat, yang bisa di jadikan sarana dialog setiap saat bagi seorang muslim apabila rindu dengan Tuhan-Nya. Apabila kita menghadirkan hati kita, bahwa kita sedang berdialog dengan Allah SWT ketika shalat, maka hal ini akan berperan besar dalam mendatangkan kekhusyu'an.
(Bersambung)
Allahu A'lam Bissawab
Allahu A'lamu Wa Antum Laa Ta'lamun
Artikel ini bisa juga dibaca di blok kami:
*Hanya belajar berbagi. Aku berlindung kepada Allah SWT dari firman-Nya: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan🙏🏼
#kisahsufi #kisahhikmah #ceritasufi
#ceritahikmah
#hikmahteladan
#kisahteladan
#hikayatsufi
#hikayathikmah
#wisdomstory
#chikensoupformuslim
🙏🏼junsyam ininnawa🙏🏼
.jpg)
Komentar
Posting Komentar