Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 9)
Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 9)
Luqman dan Majikannya
9 Ramadhan 1446 H
Ahad Kliwon 9 Maret 2025
Menggali makna terpendam dalam kisah-kisah Maulana Jalaluddin Rumi dalam kitab Matsnawi Maknawi.
Oneday pada zaman kuno, banyak orang-orang kaya yang memiliki budak, dan Luqman dimiliki oleh tuan yang baik hati dan penuh kasih. Sang majikan telah menyaksikan budak setianya selalu berhasil melakukan tugasnya dengan kejujuran dan kesetiaan penuh selama bertahun-tahun. Dia sangat menyayangi Luqman seperti budak itu menyayanginya, sedemikian rupa sampai-sampai sang majikan berpikir dia bahkan mungkin lebih mencintai budaknya daripada anak-anaknya sendiri.
Meski hanya seorang budak, Luqman memiliki banyak kualitas sebagai orang yang dalam pengetahuan spiritualnya. Majikannya sangat menyayanginya sehingga dia menolak menyentuh makanan apa pun sebelum mengizinkan Luqman mencicipinya terlebih dahulu. Jika budak itu tidak memakan apa yang disajikan, sang majikan akan membuang makanan itu tanpa menyentuhnya. Suatu hari, seorang kenalan membawakan melon-melon langka dari ladangnya. Saat itu akhir musim panas tetapi hari tetap gerah, dan Luqman memutuskan untuk mencelupkan beberapa melon di kolam dangkal untuk mendinginkannya sebelum menyajikannya kepada sang majikan sore itu.
Hari sudah agak siang, dan majikannya terbangun dari tidur siangnya ketika Luqman cepat-cepat membawakan melon dingin sebagai kudapan. Sang majikan memilih pisau panjang lalu mengiris tipis buahnya, tetapi seperti biasa sebelum mencicipinya, dia terlebih dahulu menawarkannya kepada Luqman mengambil melon itu dan dengan penuh rasa syukur menggigitnya. Dalam waktu singkat, dia menghabiskannya dengan nikmat. Ketika melihat betapa si budak sangat menikmati irisan pertama, sang majikan memotongnya lagi. Luqman memakan irisan kedua dengan penuh selera sampai-sampai tuannya terus memberinya lagi, dan sang majikan berpikir lebih baik dia mencicipinya sendiri.
Dengan senang hati, sang majikan menggigit melon yang tampak enak itu, tetapi bahkan sebelum dia bisa mulai mengunyah, mulutnya sudah serasa terbakar! Melon itu rupanya sangat pahit dan mulut sang majikan langsung ditutupi begitu banyak lepuh sampai-sampai dia hampir tidak bisa bernapas. Butuh lebih dari satu jam baginya untuk menenangkan diri dan berbicara: "Budakku yang tersayang, bagaimana kau bisa menyantap seluruh melon yang pahitnya seperti racun, lalu tersenyum padaku dengan binar sukacita di matamu? Apakah kau sebegitu membenci dirimu sendiri?" tanya sang majikan dengan penuh kasih sayang.
"Tuanku yang terhormat, sepanjang hidupku engkau telah memberiku makanan paling lezat. Aku terlalu malu untuk mengeluh, karena ini kali pertama engkau memberiku sesuatu yang tak enak. Alasan seluruh keberadaanku adalah kemurahhatianmu; bagaimana mungkin aku mengeluh hanya gara-gara satu kali disajikan santapan yang tak bisa dimakan?"
*****
Sepertinya Rumi sedang menasehati kita atau sedikit ekstrim sedang menyindir kita, orang-orang yang tidak pandai bersyukur kepada Allah SWT.
Cerita Rumi Al Balkhi di atas, tersirat didalamnya simbol-simbol dunia spiritual. Bagaimana seorang Lukman dengan santai memakan melon yang diberikan oleh tuannya. Pesan yang ingin di sampaikan adalah, seorang hamba yang taqwa harusnya mencontoh Lukman yang bersabar dan tidak mengeluh apalagi sampai menampakkan wajah yang berubah ketika memakan buah melon yang kecut dan pahit. Ketika Allah SWT memberi cobaan kepada hamba-Nya, bagaimana di sambut / di jalani dengan dengan sabar dan tanpa keluhan.
Ketika seorang hamba di uji dengan cobaan yang buruk menurut manusia, manusia lupa dengan nikmat yang tak terhingga yang selama ini di nikmatinya.
Begitu tak terhingganya nikmat Allah SWT yang diberikan kepada umat manusia tapi banyak di antara orang-orang yang lupa, bahkan tidak mensyukurinya. Ketika manusia itu di timpa sedikit masalah, musibah dan cobaan, tiba-tiba manusia itu mengeluh dan marah dan menyalahkan Tuhan. Dan lupa dengan banyaknya nikmat yang telah di beri.
Manusia itu banyak mengeluh dan lupa untuk bersyukur.
Baik atau buruk ujian itu dari sudut pandang manusia. Dari sudut pandang Allah Swt, semuanya sama. Fungsi dari ujian itu untuk meningkatkan kualitas seseorang dan kualitas spiritual bagi penempuh jalan spiritual.
Aneh bin ajaib, banyak orang yang berhasil melewati ujian yang buruk (kemiskinan) dan banyak orang yang gagal dengan cobaan yang baik (harta).
Ketika ekonomi umat islam agak maju di Madinah, Khalifah Umar Bin Khattab pernah berpesan kepada umat muslim Madinah:
"Saya tidak takut kalian miskin, namun saya takut kalian bergelimang harta (kekayaan) lalu kalian saling berlomba-lomba mendapatkannya, sebagaimana kaum sebelum kalian. Akhirnya, kekayaan itu membinasakan kalian sebagaimana membinasakan mereka."
Makna dari Pesan Umar bin Khattab tersebut adalah kemiskinan adalah ujian kesabaran. Saat umat Islam hidup sederhana atau miskin, mereka cenderung lebih dekat kepada Allah, sabar, dan saling membantu.
Kekayaan adalah Ujian bagi Umat IsIam. Saat wilayah Islam meluas dan harta melimpah (hasil penaklukan Persia/Romawi), Khalifah Umar bin Khattab khawatir kekayaan tersebut membuat umat Islam lalai, cinta dunia (wahn), dan melupakan akhirat. Sang khalifah takut dengan mengalirnya kekayaan lewat pajak akan melalaikan umat dari agamanya, dari Tuhannya.
Senada dengan Kalifah Umar bin Khattab, Imam Ali bin Abi Thalib juga pernah berpesan: Berhati-hatilah dengan harta dunia karena harta bisa mengeraskan hatimu.
Kekayaan Adalah Ujian, Seseorang yang percaya pada dunia (harta) akan dikhianati oleh dunia itu sendiri.
Tapi Umat Islam harus kaya, karena umat islam harus kuat secara ekonomi, kata sebagian orang. Pendapat ini benar, tapi yang lebih tepatnya adalah. Umat Islam boleh kaya dan sebaiknya kaya tapi hatinya tidak terikat dengan kekayaan dunia. Engkau sibuk dengan harta dunia tapi hatimu jangan lalai dari hiruk pikuknya dan tetap sibuk mengingat Sang Pemilik Hati.
_____
Saya, anda dan siapapun membaca kisah Maulana Rumi diatas bisa berbeda interpretasi dalam menangkap makna yang tersirat dalam kisah ini. Semoga kita bisa menemukan hikmah terpendam dari kisah ini untuk jadi pelajaran hidup mengenal diri dan mengenal Sang Maha Ilmu, Allah SWT. Kalau ada perbedaan dalam melihat makna di balik kisah maka ingatlah selalu kisah gajah dalam gelap, kita hanya bisa meraba dan menerka binatang apa gajah itu, bukan melihatnya langsung.
Allahu A'lam Bissawab
Allahu A'lamu Wa Antum Laa Ta'lamun
*Hanya belajar berbagi. Aku berlindung kepada Allah SWT dari firman-Nya: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan🙏🏼
#kisahsufi #kisahhikmah #ceritasufi
#ceritahikmah
#hikmahteladan
#kisahteladan
#hikayatsufi
#hikayathikmah
#wisdomstory
#chikensoupformuslim
🙏🏼junsyam ininnawa🙏🏼

Komentar
Posting Komentar