Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 7)

 Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 7)


Sang Muazin


7 Ramadhan 1446 H

Jumat Pon 7 Maret 2025


Menggali makna terpendam dalam kisah-kisah Maulana Jalaluddin Rumi dalam kitab Matsnawi Maknawi.



Oneday ada sebuah kota di Levant tempat mayoritas penduduknya bukan pemeluk agama Islam. Di kota ini tinggallah seorang muazin yang dikutuk dengan suara yang sangat sumbang. Ketika dia memulai azan, semua orang di sekitarnya melarikan diri agar tidak berada dalam jarak pendengaran. Para tetua di kota itu terus-menerus memohon agar dia berhenti, meyakinkannya bahwa, alih-alih memanggil orang untuk mendirikan shalat, dia mungkin malah membuat mereka ketakutan. Meski begitu sang muazin tidak menghiraukan pendapat orang. Setiap hari dia memanjat menara dan mengumandangkan seruannya yang menusuk telinga, membuat warga kocar-kacir berusaha melindungi diri dari kebisingan yang tak tertahankan.


Pada suatu subuh, seorang lelaki berpakaian bagus yang memegang nampan berisi manisan dan lilin, datang ke pusat kota dan bertanya kepada orang-orang bagaimana dia bisa menemukan sang muazin. Ketika warga menanyakan alasannya, dia bilang karena sang muazin telah membawa banyak kenyamanan dan ketenangan ke rumah tangganya.


"Bagaimana mungkin suaranya yang mengerikan bisa menghibur siapa pun?" tanya seorang warga kota.


"Aku memiliki seorang putri cantik dan lemah lembut yang sudah lama ingin masuk Islam," jawab lelaki berpakaian bagus itu. "Kami sudah mencoba mencegahnya, tetapi tidak berhasil. Seolah cintanya pada Islam telah merasuki jiwa dan memancangkan akarnya dalam-dalam di sana."


Ditariknya napas panjang untuk menenangkan diri, karena dia menyadari bahwa semua orang sangat ingin mengetahui bahwa jika dia mengubah keyakinannya, kami akan kehilangan dia. Aku tidak ingin kehilangan anakku tetapi tidak tahu harus berbuat apa!"


"Jadi, apa yang membuatmu mencari si muazin tanya salah seorang pendengarnya dengan tidak sabar.


"Baru setelah putriku mendengar suara sang muazin segalanya berubah!" kata orang itu dengan seringai lebar di wajahnya. "Ketika pertama mendengarnya, putriku terperanjat, karena dia tak pernah mendengar suara yang begitu mengerikan sebelumnya. Dia tidak percaya suara ini sebenarnya adalah azan, jadi dia bertanya kepada saudarinya, yang membenarkan keraguan terburuknya. Tetapi dia masih belum yakin dan bertanya kepada sejumlah orang lainnya, dan semuanya mengatakan hal yang sama. Ketika akhirnya terpaksa menerima bahwa itu memang azan, semua daya tarik yang putriku rasakan terhadap Islam langsung lenyap! Dia benar-benar tidak dapat menyelaraskan bahwa keyakinan indah yang dia cintai dapat mencakup elemen yang begitu kasar. Untuk kali pertama setelah sekian lama, aku bisa tidur nyenyak di malam hari, dan aku berutang budi kepada si muazin!"


Sang ayah kemudian melihat lelaki itu sendiri, yang sedang berjalan menuju masjid. Dia bergegas mendekatinya, dan dengan penuh rasa terima kasih, dia menawarkan hadiah yang dibawanya.


"Akhirnya kau bisa menenangkan pikiranku! Engkau telah mengembalikan putriku. Seandainya aku lebih kaya, akan kuletakkan harta yang lebih besar di depan kakimu tanpa berpikir dua kali. Aku selamanya berutang budi padamu."


Setelah mengungkapkan rasa terima kasihnya, sang ayah menyerahkan nampan berisi manisan dan lilin kepada si muazin, kemudian bergegas pulang sebelum lelaki itu dapat memulai azannya yang sumbang.


*****


Kisah Maulana Rumi ini mungkin ingin menyindir cara beragama kita yang kadang keliru dan kadang berlebihan. Kita hanya memperhatikan eksternal agama dan melupakan internalnya.


Kebanyakan umat Islam sekarang ini sibuk memperbaiki sisi luar yang tampak dan acuh dengan batiniah beragamanya.


Kerjakanlah tuntunan agamamu tapi jangan sampai menzalimi orang lain. Ada kalanya kita berbuat zalim kepada orang lain dengan membawa dalil agama, kita merasa benar karena sudah berlindung di balik agama yang menurut pemahaman kita. Kadang juga memaksakan pemahaman kita kepada orang lain. Pemahaman agama kita harus seragam dengan pemahaman orang lain.


Masih sering kita mendengar protes dari masyarakat yang merasa terganggu dengan suara toa masjid yang terlalu keras dan juga bukan pada waktunya, sehingga mengganggu orang lain. Meminjam bahasa Pak Jusuf Kalla suara masjid ini kadang menimbulkan polusi suara, apalagi kalau ada beberapa masjid berdekatan. Makanya ini yang harus di kontrol dan di atur demi kebaikan bersama.


Ada juga kebiasaan baru di masyarakat kita yang melihat agama islam. Di mana-mana kita melihat banyak orang Indonesia yang memakai baju jubah arab setiap hari bagi laki-laki dan memakai cadar untuk perempuan. Ada juga yang lebih ekstrim dengan memakai burqa (menutup seluruh tubuh). Ada berbagai macam alasan yang di pakai: biar terlihat  lebih islami, ini ciri khas Islam, ini pakaian Islami, ini pakaian yang di sunnahkan Rasulullah Saw. Memakai pakaian yang katanya islami ini tidaklah salah, karena sudah memenuhi syarat menutup aurat, dan juga yang lebih penting lagi, selain bukan budaya Indonesia, jangan sampai memakai pakaian arab ini lantas membuat kita merasa lebih baik, lebih sholeh, lebih islami dari orang yang tidak memakainya.

Maaf saya tidak menyalahkan pendapat yang mengatakan bahwa memakai gamis Arab bagi laki-laki, memakai cadar dan burqah bagi perempuan adalah bukan pakaian IsIam. Semua pakaian yang saya sebutkan diatas sudah termasuk pakaian yang sopan dan layak untuk dipakai umat muslim di budaya masing-masing pakaian itu berasal. Saya hanya mau mengatakan bahwa ketiga pakaian itu adalah budaya Timur Tengah yang masuk ke Nusantara sebagai pakaian yang Standar Islam. Karena sependek pengetahuan saya tidak ada hadits nabi yang memerintahkan jenis baju tertentu yang standar islam.


Jenis pakaian yang saya sebutkan diatas adalah pakaian kebudayaan bangsa-bangsa muslim di Timur Tengah bukan standar muslim seluruh dunia. Silahkan memakai pakaian kebudayaan bangsa kita yang menutupi aurat dan tidak menonjolkan aurat.


Kalau ada pakaian kebudayaan bangsa yang tidak menutup aurat, apalagi menonjolkannya maka tanggung jawab kita anak bangsa memodifikasi pakaian tersebut agar lebih islami, pakaian yang bisa menutup dan tidak menonjolkan aurat.


Ingat pesan Nabi Muhammad Saw dalam sabdanya:

Innallaha la yandzuru ila ajsamikum wala ila suwarikum, walakinnallaha yandzuru ila qulubikum. 

Sesungguhnya Allah tidak melihat fisik (ras, suku, bangsa) dan harta kalian tetapi Allah melihat ke dalam hati kalian". [HR. Muslim].

_____


Saya, anda dan siapapun membaca kisah Maulana Rumi diatas bisa berbeda interpretasi dalam menangkap makna yang tersirat dalam kisah ini. Semoga kita bisa menemukan hikmah terpendam dari kisah ini untuk jadi pelajaran hidup mengenal diri dan mengenal Sang Maha Ilmu, Allah SWT. Kalau ada perbedaan dalam melihat makna di balik kisah maka ingatlah selalu kisah gajah dalam gelap, kita hanya bisa meraba dan menerka binatang apa gajah itu, bukan melihatnya langsung.


Allahu A'lam Bissawab

Allahu A'lamu Wa Antum Laa Ta'lamun


*Hanya belajar berbagi. Aku berlindung kepada Allah SWT dari firman-Nya: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan🙏🏼


#kisahsufi #kisahhikmah #ceritasufi

#ceritahikmah

#hikmahteladan

#kisahteladan

#hikayatsufi

#hikayathikmah

#wisdomstory

#chikensoupformuslim


🙏🏼junsyam ininnawa🙏🏼

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 2)

Membaca Alam Pikiran Rumi(Bagian 12)

Maha Suci Allah Yang memperjalankan Hamba-Nya Isra' Mi'raj (Bagian 1)