Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 6)

Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 6)


Tato Suku Qazwin


6 Ramadhan 1446 H

Kamis Pahing 6Maret 2025


Menggali makna tersirat kisah-kisah Maulana Jalaluddin Rumi dalam kitab Matsnawi Maknawi.


Oneday salah seorang penduduk Qazwin mendatangi ahli tato. Orang Qazwin mempunyai kebiasaan merajah tubuhnya sebelum memasuki masa dewasa. Salah seorang di antara mereka datang kepada tukang tato dan berkata: "Rajahlah bagiku seekor singa yang garang. Leo bintangku. Gambarlah sebagus-bagusnya. Sebarkan warna biru di atasnya."

"Di mana saya harus merajah Anda?" tanya ahli tato.

"Rajahlah pada bahuku yang bidang. Biarkan nanti wajah singa menyeringai garang dari sana."

Mulailah tukang tato menusukkan jarum-jarumnya. Rasa sakit mulai menjalar ke sekujur tubuhnya. Sang jagoan kita menjerit kesakitan, "Kamu membunuhku. Makhluk apa yang sedang kamu lukis?"

"Seperti pesanan Anda, saya sedang melukis singa." jawab sang ahli tato.

"Maksudku, bagian tubuh singa yang mana?"

"Saya sedang melukis ekornya."

"Hentikan, Kawan. Ekor singa itu hampir menghentikan napas- ku. Lukis saja singa tanpa ekor?" 


Tidak lama kemudian, tangan perajah mulai bermain lagi. Sekali lagi yang dirajah mengerang kesakitan. "Anggota badan singa yang mana yang sedang kamu lukis?"

Perajah segera menghentikan tusukan jarum. "Saya sedang melukis telinga singa." 


Orang Qazwin berteriak, "Biarkan singaku tanpa telinga. Pendekkan juga rumbai-rumbainya. 


Perajah meneruskan pekerjaannya. Dan kembali lagi si jagoan Qazwin melolong kesakitan. "Apa yang sedang kamu buat?" tanya orang Qazwin. "Saya sedang menggambar perut singa," jawab perajah.


"Hentikan. Aku ingin singa yang tidak punya perut." 


Perajah tidak sabar lagi. Ia melemparkan jarum-jarumnya. "Tidak pernah ada orang seperti ini. Di mana ada singa tanpa ekor, tanpa kepala, dan tanpa perut? Tuhan pun tak menciptakan singa seperti itu."


*****


Rumi mengakhiri kisah ini dengan sebuah nasehat:


Kisah ini mengajarkan keharusan kita untuk menerima penderitaan ketika kita harus meninggalkan dorongan hawa nafsu kita, gejolak syahwat nafsu kita.


Begitulah hawa nafsu manusia akan selalu berteriak ketika ada keinginan yang tidak terpenuhi. Sebagaimana hawa nafsu, hawa syahwat juga akan memberontak ketika keinginannya tidak kesampaian. Setiap orang harus mengendalikan keduanya hawa nafsu dan syahwat nafsu walaupun kita merasa kesakitan.


Kalau mau jadi jagoan atau pendekar. Para jawara dulu, hidup menderita di pegunungan untuk berguru di berbagai padepokan. Kalau di China, orang biasanya pergi ke gunung tempat Kuil Shaolin berada, yaitu Gunung Songshan. Gunung ini terletak di provinsi Henan, Tiongkok. Para pendekar shaolin hidup menderita dengan berbagai macam latihan, ditempa dengan beratnya latihan Shaolin bertahun-tahun, berbagai macam larangan selama latihan. Baru setelah penderitaan panjang itu, seseorang baru bisa mendapatkan keindahan kungfu shaolin. Setelah itu, baru bisa turun gunung untuk membela kebenaran, menumpas kejahatan😊.


Begitupun dengan hidup di dunia ini. Beratnya ketika seseorang melawan keinginan hawa nafsunya, keinginan hawa syahwatnya. Jiwa/nafs yang selalu mengikuti keinginan hawa dan syahwatnya akan selalu menzalimi dirinya karena ketidak mampuannya mengendalikan diri.


Masih ingatkah kita dengan kata-kata Nabi Yusuf As dalam suruh Yusuf : 53 yang berbunyi: 


وَمَآ أُبَرِّئُ نَفْسِىٓ ۚ إِنَّ ٱلنَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ ۚ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌ رَّحِيمٌ


Artinya: Dan aku tidak membebaskan diriku, karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.


Sebenarnya keinginan Yusuf mengikuti godaan Zulaikhah itu ada, tapi Yusuf bisa mengendalikan dirinya. Yusuf tidak membebaskan Nafsnya/jiwanya untuk dipengaruhi godaan syahwat dalam dirinya.


Sakit, penderitaan, kesulitan yang kita rasakan itu bagian dari jihad melawan keinginan kita untuk mensucikan diri, mensucikan jiwa dari pengaruh duniawi yang menjauhkan kita dari kasih Tuhan. 


Sakit ketika jarum tato merajah tubuh agar tato singa yang garang tergambar indah di bahu anda yang bidang dan berotot. Itu juga kalau bahu anda bidang dan berotot?

Dalam Al-Qur'an Allah SWT berfirman, QS. Al-Ankabut (29) : Ayat 2:

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ

"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, 'Kami telah beriman,' sedangkan mereka tidak diuji?"


Dalam ayat ini dijelaskan bahwa keimanan yang benar itu akan diuji. Dan yang namanya ujian itu pasti membuat orang yang diujinya akan menderita dan merasakan kesakitan. Kalau seseorang lulus dari ujian ini baru bisa dinamakan iman orang itu kuat. 


Selain itu, dalam Surah Al-Baqarah ayat 155 Allah SWT juga berfirman:


وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍۢ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍۢ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّـٰبِرِينَ


Artinya: "Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar."


Dalam kehidupan di dunia ini. Setiap manusia akan diuji dengan berbagai macam kesulitan hidup. Berbagai macam ketakutan silih berganti datang mengancam jiwa kita, mengganggu kehidupan kita, berbagai kesulitan kebutuhan primer dan sekunder untuk kenyamanan hidup kita bisa terjadi kapan saja. Ketika berbagai macam ujian yang menimpa dalam kehidupan ini terjadi hendaklah disikapi dengan kesabaran. Tapi dengan tetap mencari solusi keluar dari persoalan atau ujian yang datang menimpa. Karena menurut Al-Qur'an ada berita gembira dibalik ujian hidup ini.


Manusia hadir di bumi ini dengan ujian telanjang dan tangisan. Manusia mati dengan ujian tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya menunggu di urus sama orang lain dengan memandikannya, mengkafaninya dan menguburkannya.


Selamat datang dalam ujian kehidupan!

_____


Saya, anda dan siapapun membaca kisah Maulana Rumi diatas bisa berbeda interpretasi dalam menangkap makna yang tersirat dalam kisah ini. Ingatlah selalu kisah gajah dalam gelap, kita hanya bisa meraba dan menerka bukan melihatnya langsung.


Allahu A'lam Bissawab

Allahu A'lamu Wa Antum Laa Ta'lamun


*Hanya belajar berbagi. Aku berlindung kepada Allah SWT dari firman-Nya: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan🙏🏼


Allahu A'lam Bissawab

Allahu A'lamu Wa Antum Laa Ta'lamun


*Hanya belajar berbagi. Aku berlindung kepada Allah SWT dari firman-Nya: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan🙏🏼


#kisahsufi #kisahhikmah #ceritasufi

#ceritahikmah

#hikmahteladan

#kisahteladan

#hikayatsufi

#hikayathikmah

#wisdomstory

#chikensoupformuslim


🙏🏼junsyam ininnawa🙏🏼

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 2)

Membaca Alam Pikiran Rumi(Bagian 12)

Maha Suci Allah Yang memperjalankan Hamba-Nya Isra' Mi'raj (Bagian 1)