Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 5)

 Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 5)


Tidak Menangisi

Orang-Orang yang Telah Mati


5 Ramadhan 1446 H

Rabu Legi 5 Maret 2025


Menggali makna tersirat kisah-kisah Maulana Jalaluddin Rumi dalam kitab Matsnawi Maknawi.


Oneday dahulu kala, hiduplah seorang syekh sufi yang saleh, suci, dan dihormati oleh semua orang. Tak dinyana, penyakit tak dikenal merenggut nyawa dua anaknya. Rumah tangganya, seluruh lingkungan tempat tinggalnya, bahkan orang-orang yang jauh turut berduka atas musibah ini selama berminggu-minggu.


Satu-satunya orang yang tak pernah meneteskan airmata adalah sang syekh sendiri. Lama berselang, tetap tidak ada airmata, tidak ada tanda-tanda duka. Orang-orang kebingungan, tidak dapat memahami apa yang terjadi pada orang suci yang mereka hormati ini. Akhirnya seorang pengikut dengan sopan mendekatinya: "Maafkan atas gangguanku, Syekh yang agung, tapi kami semua sedang dalam keadaan sangsi," katanya malu-malu.


"Apa yang bisa kubantu, sahabatku?" tanya sang syekh, mendongak dari bacaannya.


"Bagaimana engkau bisa tetap begitu tenang dan tidak peduli atas kehilangan anak-anakmu yang tersayang, sementara kesedihan atas tragedi mereka telah membuat kami patah hati? Engkau adalah pemimpin dan orang yang kami percayai penuh, dan pada akhirnya kami berharap dapat menemukan pelipur lara dalam dirimu atas penyakit dan kematian kami sendiri. Mengapa engkau diam? Tidakkah engkau merasakan kesedihan? Mungkin kah tidak ada lagi kasih sayang yang tersisa di hatimu? Bagaimana kami dapat terus mengharapkan bimbinganmu pada saat kami membutuhkan?


Perempuan itu terus mengusik sang syekh, yang tetap diam, membiarkannya mengutarakan pikiran dan melepaskan diri dari kekecewaan yang ditanggungnya. Ketika akhirnya perempuan itu selesai, sang syekh dengan lembut menjelaskan: "Gadis yang tersayang, jangan bayangkan sejenak pun bahwa aku hampa dari kasih sayang dan cinta. Aku merasakan empati bahkan untuk para pendosa; aku berbelas kasih bahkan terhadap batu dan karang yang dapat melukai orang! Bahkan anjing yang menggigit bisa mendapatkan simpatiku, dan aku berdoa semoga Tuhan membebaskan mereka dari kebiasaan buruk ini!"


"Bila engkau merasakan belas kasihan kepada orang asing dan menawarkan mereka bimbingan seolah engkau gembala yang baik, mengapa engkau tidak berduka atas kehilangan anakmu sendiri? Airmata adalah tanda kebaikan dan cinta, tetapi matamu tidak pernah basah seperti mata kami."


Sang syekh memalingkan wajah ke perempuan itu dan berkata: "Gadis yang baik, izinkan aku memberitahumu, musim dingin tidaklah seperti musim panas! Meski anak-anakku sudah tiada, mereka tetap hadir di depan mata hatiku; bahkan mereka sangat hidup. Ketika aku melihat mereka hidup dengan riang seperti ini, bagaimana aku bisa menangisinya seperti kalian? Mereka mungkin tidak hadir pada saat ini, tetapi aku dapat melihat mereka bermain-main di sekitarku. Mereka menangis saat merasakan perpisahan di antara kami, tetapi aku selalu bersama mereka. Beberapa orang mungkin melihatnya dalam mimpi mereka, tapi aku melihatnya saat aku terjaga. Aku telah melepaskan kemampuan indra-indraku dan menyembunyikan diri dari orang-orang di dunia ini, dan begitulah caraku dapat mengamati semua orang dalam keheningan. Dengan memiliki harta seperti itu, mengapa aku harus meneteskan airmata yang tak perlu?"


*****


Seperti biasa Maulana Jalaluddin Rumi Al Balkhi menyiratkan pesan dari kisah ini. Pesannya adalah bahwa seorang kekasih Allah itu ketika keluarganya yang sholeh, ada yang meninggal dunia atau mati itu sebenarnya tidak pergi meninggalkannya. Tidak ada yang hilang dari rumahnya dan tidak ada yang pergi meninggalkan rumah untuk pergi selamanya. Yang pergi atau yang mati hanyalah jasadnya yang di kuburkan. Yang di bawah pergi atau yang kuburkan hanya wadah jasadiyah / wadah fisik / wadah jasmaniyah seseorang.


Ada bagian manusia yang sebenarnya tidak mati waktu seseorang meninggal dunia/mati. Bagian manusia yang tidak mati itu adalah jiwa atau diri jati (jati diri). Dalam bahasa Al quran, jiwa atau diri jati ini biasa di sebut dengan Nafs. Dan Nafs inilah yang merupakan hakikat dari manusia. Manusia sejati dalam struktur insan seseorang itu adalah Nafs-nya. Nafs inilah yang nantinya akan di hisab di akhirat kelak. Nafsu inilah yang akan melanjutkan kehidupan setelah kematian. Nafs inilah yang akan menderita dialam barzakhnya. Nafs inilah yang akan disiksa di neraka atau mendapat nikmat di surga. 


Seseorang bersedih ketika di tinggal mati karena kita tidak akan bertemu lagi dengan keluarga yang mati. Sedangkan seorang yang jiwanya bersih itu akan selalu bertemu dengan keluarganya yang meninggal. Ada waktu-waktu tertentu seseorang akan bertemu keluarga yang sudah meninggal. Ketika dia (yang masih hidup) mendoakan, biasanya yang di doakan akan hadir di hadapan orang yang mendoakannya. Kalau yang hidup menghadiahkan sesuatu seperti doa, haji, umrah, sedekah, bacaan Al quran maka yang sang jiwa akan hadir menyaksikan dan berterima kasih kepada yang memberi.


Manusia atau insan itu terdiri dari 3 entitas (satuan wujud). Atau dengan kata lain, bersatunya 3 entitas ini terbentuklah seorang manusia.


Ketiga entitas itu adalah:

Ruh : 

Ruh - Arab

Spirit - English

Atma / atman dalam literatur Hindu sansekerta


Jiwa : 

Nafs - Arab, 

Soul - English. 

Jivatman dalam literatur Hindu / sansekerta. 


Jasad : 

Jism - Arab

Body - English

Sharira dalam literatur Hindu sansekerta. 


Ketika seseorang kufur atau tidak taat terhadap perintah dan larangan Allah SWT. Al qur'an melabeli orang itu dengan istilah menzalimi diri sendiri. Jangan banyak menzalimi diri atau nafs-mu karena dia itu adalah hakikat dirimu yang akan di hisab di yaumil akhir.

_____


Saya, anda dan siapapun membaca kisah Maulana Rumi diatas bisa berbeda interpretasi dalam menangkap makna yang tersirat dalam kisah ini. Ingatlah selalu kisah gajah dalam gelap, kita hanya bisa meraba dan menerka bukan melihatnya langsung.


Allahu A'lam Bissawab

Allahu A'lamu Wa Antum Laa Ta'lamun


*Hanya belajar berbagi. Aku berlindung kepada Allah SWT dari firman-Nya: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan🙏🏼


#kisahsufi #kisahhikmah #ceritasufi

#ceritahikmah

#hikmahteladan

#kisahteladan

#hikayatsufi

#hikayathikmah

#wisdomstory

#chikensoupformuslim


🙏🏼junsyam ininnawa🙏🏼

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 2)

Membaca Alam Pikiran Rumi(Bagian 12)

Maha Suci Allah Yang memperjalankan Hamba-Nya Isra' Mi'raj (Bagian 1)