Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 4)

 Membaca Alam Pikiran Rumi(Bagian 4)


Meludahi Imam Ali Kw


4 Ramadhan 1446 H

Selasa Kliwon 4 Maret 2025


Menggali makna tersirat kisah-kisah Maulana Jalaluddin Rumi dalam kitab Matsnawi Maknawi.


Oneday pada tahun-tahun awal Islam di wilayah Arab, orang- -orang Muslim yang baru memeluk Islam banyak berperang dengan pihak lain yang belum percaya atau mereka yang dikenal dengan sebutan kafir.


Dalam satu peperangan, Ali, menantu nabi yang merupakan pejuang gagah berani, berhadapan langsung dengan prajurit lain yang tak kalah cakapnya. Ali berhasil membuat lawannya bertekuk lutut dalam pertarungan singkat dan tajam, lalu mengangkat pedang untuk mengambil nyawa lelaki itu.


Prajurit yang angkuh itu percaya bahwa akhir hidupnya sudah dekat, dan yang dapat dia lakukan hanyalah mengambil satu tindakan tengik terakhir: dia meludahi Ali, tepat di wajahnya. Ali segera menarik pedangnya dan melangkah mundur, membiarkan musuhnya tetap hidup.


Prajurit yang takluk itu tertegun; dia telah mengharapkan yang terburuk dan sekarang tercengang menyadari bahwa dirinya masih hidup. Dia membutuhkan penjelasan; día perlu mengetahui alasan Ali mengasihaninya. Sebelum Ali sempat menjauh, prajurit itu memanggilnya: "Ali, kau telah menghunus pedangmu untuk menghabisiku tapi kau berubah pikiran. Apa yang membuatmu menurunkan senjatamu? Apa yang kaulihat dalam diriku ketika kita bertarung sehingga membuatmu kehilangan minat dan mengampuni hidupku? Kau sudah berada di atas angin; kau akan memenangkan pertarungan. Apa lagi yang lebih penting daripada menghabisiku? Apa yang menekan amarahmu saat itu?"


"Aku hanya berjuang untuk Tuhan," jawab Ali. "Aku adalah hamba Tuhan; aku tidak melakukan ini untuk menyelamatkan diriku sendiri. Aku adalah Singa Tuhan yang tak terkalahkan, bukan pejuang nafsu yang bertingkah tak keruan! Bukan kata-kata melainkan tindakanlah yang berbicara atas keyakinanku. Pedang itu mungkin ada di tanganku, tapi Tuhan-lah yang menyerang. Sama seperti angin yang tak bisa menggerakkan gunung, aku juga tak akan bergerak selain atas kehendak Tuhan.


"Kemarahan membuat kebanyakan penguasa hilang akal, tetapi amarah adalah budakku yang patuh! Justru kesabaranlah yang telah membebaskanku dari belenggu amarah. Pedangku tidak membunuh; sebaliknya, pedangku menganugerahkan hidup! Kau meludahiku, dan dengan demikian memunculkan persoalan yang tak secara langsung melibatkan Tuhan; dan aku tidak pernah bertarung untuk alasan apa pun selain Tuhan. Semburan ludahmu memunculkan egoku dan dengan demikian memicu kemarahanku. Seandainya tadi aku menebaskan pedangku, artinya aku akan berjuang setengah untuk Tuhan dan setengah untuk egoku! Karena itulah yang terbaik menurutku adalah menarik pedangku."


Kemudian Ali berbalik pergi tanpa menengok lagi ke belakang.


***


Maulana Rumi mungkin ingin menasehati kita tentang hati-hatilah dengan hawa nafsumu, terutama nafsu amarah kita. Dia bisa membinasakan siapa saja jika engkau tidak mengendalikannya. Setiap orang punya kendali atas dirinya sendiri. Kendali "kuda" hawa nafsumu dan syahwat nafsumu ada di tanganmu. Kalau engkau bisa mengendalikan "kudamu", engkau akan menjadi insan mulia, kalau tidak maka "kudamu" akan membuatmu jadi insan terhina. Hina di dunia dan hina di akhirat kelak.


Akibat kemarahan yang tidak bisa di kendalikan bisa menjadi bencana besar bagi kehidupan manusia. Karena kemarahan 1 orang bisa memakan banyak korban jiwa yang tidak bersalah.


Kemarahan Adolf Hitler memakan korban sampai belasan juta orang dan 6 juta diantaranya karena kebenciannya kepada kaum Yahudi.


Nafsu Amarah Joseph Stalin juga lebih parah dari diktator dunia lainnya. Ada yang menyebutkan sampai 20 juta orang menjadi korbannya selama dia memimpin.


Dari negeri Islam. Masih ingat kita dengan pemimpin Iraq Saddam Husein. Ada sekitar sejutaan orang mati karena nafsu amarahnya.


Begitu banyak korban dikarenakan nafsu amarah manusia.


Selain amarah ini berdampak kepada orang lain. Tidak sedikit juga amarah ini merusak diri sendiri, bahkan ada yang sampai stop jantung seketika karena sedang marah. Banyak penyakit yang bisa di akibatkan karena marah: tekanan darah tinggi, jantung, stres, stroke, gangguan tidur, masalah pernapasan, sakit kepala, gangguan pernapasan, gangguan kecemasan, gangguang hubungan sosial, dan masih banyak lagi.


Masih ada yang mau marah-marah?

_____


Saya, anda dan siapapun membaca kisah Maulana Rumi diatas bisa berbeda interpretasi dalam menangkap makna yang tersirat dalam kisah ini. Ingatlah selalu kisah gajah dalam gelap, kita hanya bisa meraba dan menerka bukan melihatnya langsung.


Allahu A'lam Bissawab

Allahu A'lamu Wa Antum Laa Ta'lamun


*Hanya belajar berbagi. Aku berlindung kepada Allah SWT dari firman-Nya: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan🙏🏼


#kisahsufi #kisahhikmah #ceritasufi

#ceritahikmah

#hikmahteladan

#kisahteladan

#hikayatsufi

#hikayathikmah

#wisdomstory

#chikensoupformuslim


🙏🏼junsyam ininnawa🙏🏼

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 2)

Membaca Alam Pikiran Rumi(Bagian 12)

Maha Suci Allah Yang memperjalankan Hamba-Nya Isra' Mi'raj (Bagian 1)