Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 30)

 Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 30)


Empat Orang India yang Shalat


30 Ramadhan 1446 H

Ahad Legi 30 Maret 2025


Menggali makna terpendam dalam kisah-kisah Maulana Jalaluddin Rumi dalam kitab Matsnawi Maknawi.

Oneday ketika matahari sudah bertengger di puncaknya, dan empat Muslim India yang taat memasuki masjid untuk melakukan shalat Zuhur. Mereka pun berdiri bahu-membahu, masing-masing dengan harapan yang berbeda di hatinya, dan mulai shalat. Di pertengahan shalat, azan berkumandang di udara, keraguan langsung menyergap benak keempatnya apakah mereka terlalu tergesa-gesa dalam memulai shalat. Salah seorang dari empat lelaki itu menoleh ke sang muazin dan bertanya: "Muazin yang terhormat, apakah engkau yakin dirimu tidak terlambat hari ini untuk menyerukan azan?"


Salah satu orang India itu dengan cepat menyahut temannya: "Kawan, apa yang telah kaulakukan? Kau berbicara di tengah-tengah shalat, dan sekarang shalatmu tidak sah!"


Orang India ketiga menoleh ke arah yang kedua dan berseru: "Hei, kenapa kau menyalahkannya? Kau melakukan hal yang persis sama dan sekarang telah membatalkan shalatmu sendiri!"


"Alhamdulillah, aku tidak mengatakan hal yang tak perlu seperti mereka bertiga!" ujar orang India keempat. "Aku terlalu pintar untuk melakukan kesalahan bodoh seperti itu! Shalatku masih sah!" sesumbar orang itu, tidak menyadari kekurangannya.


Dengan demikian, shalat keempat lelaki tadi pun tidak sah pada siang hari itu, karena masing-masing merasa dirinya lebih baik daripada yang lain.


*****


Ajaran Islam yang dibawa oleh Baginda Nabi Muhammad Saw sudah berumur sekitar sekitar 1415 tahun lamanya semenjak Nabi Muhammad Saw diangkat menjadi Nabi di usia 40 tahun. Tepatnya ketika Nabi Muhammad Saw menerima Wahyu pertama pada 17 Ramadhan 610 Masehi. 


Dalam perjalanan sejarah umat Islam. Berbagai macam pemahaman agama dan kebudayaan dalam beragama silih berganti muncul dalam masyarakat Islam. Belum lagi ditambah oleh sistem politik yang kadang mempengaruhi pemahaman beragama dalam kelompok masyarakat.


Para ulama Islam dan cendekiawan muslim berusaha mempertahankan pemahaman agama dengan menulis kitab-kitab Islam menurut apa yang di fahami oleh sang penulis.


Perbedaan beragama yang sekarang ada di masyarakat adalah akibat perbedaan pemahaman tentang dalil yang digunakan, baik itu Al Qur'an, hadits, pendapat sahabat, tabi'in dan ulama yang dijadikan rujukan dalam menjalankan agama.


Ada kebiasaan umat Islam zaman sekarang ini selalu sibuk menyalahkan orang lain. Semuanya kegiatan keberagamaan selalu di lihat dari sudut pandang pemahaman pribadi atau kelompok tertentu. Padahal bisa jadi semuanya benar menurut referensi atau mazhab yang diikutinya.


Kita zaman ini terlalu gampang mengkafirkan sesama muslim. Hanya perbedaan cara beribadah, perbedaan masalah fikih kita menyalahkan orang lain. Bahkan sampai mengkafirkan dan menyerang orang / kelompok lain.


Agama Islam ini adalah agama Kasih Sayang, Agama Rahmat Seluruh Alam. Perbedaan di perbolehkan tapi menyalahkan apalagi sampai mengkafirkan orang yang berbeda faham Islamnya itu yang di larang.


Semua umat Islam itu bersaudara.


Saya jadi ingat pesan Sa'di Al Syirazi yang terpampang di gedung PBB:


“Anak-anak Adam adalah bagian tubuh satu sama lain,


Yang telah diciptakan dari satu esensi.


Ketika malapetaka menimpa satu bagian tubuh


Bagian tubuh yang lain turut merasakannya.


Jika engkau tidak bersimpati dengan penderitaan orang lain,


Engkau tidak layak disebut manusia.”


Ingat..., Manusia itu bersaudara dari nenek moyang kita Adam As. Dari nabi pertama sampai nabi terakhir mengajarkan tentang Islam yang damai dan penuh kasih. Tidak layak kita menghianati dakwah para nabi dengan saling menyalahkan karena perbedaan pendapat dalam memahami Islam.

____


Siapapun orang yang  membaca kisah Maulana Jalaluddin Rumi Al Balkh diatas, bisa berbeda interpretasi dalam menangkap makna yang tersirat dalam kisah ini. Semoga kita bisa menemukan hikmah terpendam dari kisah ini untuk jadi pelajaran hidup mengenal diri dan mengenal Sang Maha Ilmu, Allah SWT. Kalau ada perbedaan dalam melihat makna di balik kisah maka ingatlah selalu kisah gajah dalam gelap, kita hanya bisa meraba dan menerka binatang apa gajah itu, bukan melihatnya langsung.


Allahu A'lam Bissawab

Allahu A'lamu Wa Antum Laa Ta'lamun


*Hanya belajar berbagi. Aku berlindung kepada Allah SWT dari firman-Nya: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan🙏🏼


#kisahsufi #kisahhikmah #ceritasufi

#ceritahikmah

#hikmahteladan

#kisahteladan

#hikayatsufi

#hikayathikmah

#wisdomstory

#chikensoupformuslim


🙏🏼junsyam ininnawa🙏🏼

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 2)

Maha Suci Allah Yang memperjalankan Hamba-Nya Isra' Mi'raj (Bagian 1)

Membaca Alam Pikiran Rumi(Bagian 12)