Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 29)

 Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 29)


Lelaki Tuli dan Tetangganya yang Sakit


29 Ramadhan 1446 H

Sabtu Kliwon 29 Maret 2025


Menggali makna terpendam dalam kisah-kisah Maulana Jalaluddin Rumi dalam kitab Matsnawi Maknawi.

Oneday seorang lelaki telah kehilangan pendengarannya selama beberapa waktu, tetapi harga diri mencegahnya untuk mengakui kelemahan dan terus berpura-pura bahwa tidak ada yang salah dengan dirinya. Suatu hari, dia berpapasan dengan salah seorang kawan di luar rumahnya. Sang kawan mengabarkan bahwa lelaki tua yang tinggal di sebelah sedang jatuh sakit dan alangkah baiknya jika si tuli membesuknya, karena si lelaki tua sebatang kara. Lelaki yang hampir tuli itu entah bagaimana bisa memahami apa yang disampaikan oleh temannya dan berjanji untuk mengunjungi si tetangga yang sakit pada hari itu juga.


Si lelaki tuli bertanya-tanya dalam hati, bagaimana dia akan mendekati tetangganya yang sakit. Apalagi sekarang setelah orang itu jatuh sakit dan lemah, sehingga kemungkinan besar hanya dapat berbicara dengan sangat lirih. Tetapi tidak ada jalan lain; sesuai tatakrama yang berlaku, dia harus mengunjungi si lelaki tua dan menanyakan kondisi kesehatannya. Dia memutuskan untuk menebak ucapan si sakit dengan membaca gerak bibirnya dan mengeluarkan tanggapan yang sesuai. Meski begitu, biar aman, dia sudah menyiapkan pertanyaan dalam hati dan memperkirakan kemungkinan jawaban yang akan diutarakan si tetangga.


Si lelaki tuli memutuskan bahwa ketika dia bertanya, "Bagaimana keadaanmu?" tetangga yang sakit mungkin akan menjawab, "Alhamdulillah, aku masih hidup." Lalu dia akan melontarkan tanggapan selanjutnya, "Syukurlah!" dan melanjutkan: "Apa yang kau makan tadi malam?" Si tetangga mungkin akan menjawab, "Aku menyantap sup sayuran yang lezat, dengan segelas sorbet dingin," dan dia akan menanggapinya dengan: "Semoga kau menikmatinya!" Selain itu, dia akan bertanya: "Dokter mana yang telah merawatmu?" dan pasien mungkin akan memberitahukan nama salah seorang dokter setempat, dan dia akan menanggapinya dengan, "Semoga Tuhan memberkatinya."


Lalu, dibesarkan hati oleh rencananya, si tuli segera pergi ke rumah sebelah untuk membesuk. Dia duduk di samping ranjang si lelaki tua yang dihamparkan di lantai, dan bertanya dengan ramah: "Bagaimana keadaanmu?"


"Aku sekarat!" erang si sakit.


"Syukurlah!" sahut si tuli riang, dan lanjut mengutarakan pertanyaan yang sudah dengan hati-hati dipersiapkannya: "Apa yang kau makan tadi malam?"


"Racun!" gerutu si lelaki tua, sudah tersinggung mendengar tanggapan pertama tamunya.


"Semoga kau menikmatinya!" jawab si tuli tak sadar.


Si sakit, yang semakin kesal dengan komentar terakhir, menggigit bibir untuk menahan diri agar tidak mengumpat pada tamunya yang menjengkelkan. Namun si tuli melanjutkan pertanyaannya: "Dokter mana yang telah merawatmu?"


"Izrail, Malaikat Pencabut Nyawa!" tukas si sakit.


"Semoga Tuhan memberkatinya. Kehadirannya selalu merupakan kabar baik. Siapa pun yang dia kunjungi pasti tersembuhkan dari semua rasa sakit dan pedih selamanya!"


Tanpa menyadari kerusakan yang ditimbulkan atas kondisi pikiran tetangganya, si tuli meraih tangan si tetangga dan menjabatnya kuat-kuat sebelum akhirnya pergi, percaya bahwa dia telah melakukan tugasnya sebagai tetangga yang baik dan membuat si sakit merasa sangat terhibur dan lega.


*****


Dulu waktu SD saya pernah membaca sebuah ungkapan yang mengatakan "di dunia ini tidak ada pertengkaran / perselisihan diantara manusia, yang banyak terjadi itu hanya kesalah pahaman". Mungkin ungkapan ini bisa menjelaskan cerita Maulana Rumi ini.


Banyak perselisihan yang terjadi itu sebenarnya bisa di hindari kalau orang-orang yang berselisih ini mau duduk untuk membicarakan apa sebenarnya yang terjadi. Karena terkadang perselisihan itu terjadi karena hanya hal yang sepele dan masing-masing pihak tidak mau saling berkomunikasi untuk melakukan konfirmasi tentang apa sebenarnya yang terjadi.


Perselisihan juga kerap terjadi karena salah satu pihak atau kedua pihak saling curiga dan berprasangka buruk kepada pihak lain. Padahal belum tentu yang kita curigai berbuat begitu, belum tentu yang kita prasangkai itu benar melakukan seperti yang kita duga.


Semua manusia itu anak Adam As. Semua agama samawi tertulis dalam kitabnya bahwa manusia itu adalah Bani Adam, sang manusia pertama penghuni bumi ini. Karena manusia adalah anak-anak Adam jadi manusia itu bersaudara. Saudara sesama Bani Adam, saudara seagama, saudara sebangsa. Kalau ada perselisihan diantara mereka maka sebaiknya ada yang mendamaikan mereka.


Dalam Al Qur'an Allah Ta’ala berfirman:


إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ


“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujuraat [49]: 10)


Pertengkaran atau perselisihan sering terjadi karena ada yang selalu merasa mau lebih mulia dari manusia yang lainnya.


Ada juga yang mengatakan cerita  Si Tuli dan Si Sakit dalam Kitab Matsnawi Rumi ini menggambarkan dua macam jiwa manusia. Pertama jiwa manusia yang merasa dirinya sempurna alias sombong, namun tanpa mengira dirinya sombong. Kedua jiwa manusia yang mudah marah dan mengumpat. Keduanya adalah sifat buruk yang perlu dihindari. Semoga kita dijauhkan dari penyakit jiwa dari seperti ini.

_____


Siapapun orang yang  membaca kisah Maulana Jalaluddin Rumi Al Balkh diatas, bisa berbeda interpretasi dalam menangkap makna yang tersirat dalam kisah ini. Semoga kita bisa menemukan hikmah terpendam dari kisah ini untuk jadi pelajaran hidup mengenal diri dan mengenal Sang Maha Ilmu, Allah SWT. Kalau ada perbedaan dalam melihat makna di balik kisah maka ingatlah selalu kisah gajah dalam gelap, kita hanya bisa meraba dan menerka binatang apa gajah itu, bukan melihatnya langsung.


Allahu A'lam Bissawab

Allahu A'lamu Wa Antum Laa Ta'lamun


*Hanya belajar berbagi. Aku berlindung kepada Allah SWT dari firman-Nya: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan🙏🏼


#kisahsufi #kisahhikmah #ceritasufi

#ceritahikmah

#hikmahteladan

#kisahteladan

#hikayatsufi

#hikayathikmah

#wisdomstory

#chikensoupformuslim


🙏🏼junsyam ininnawa🙏🏼

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 2)

Maha Suci Allah Yang memperjalankan Hamba-Nya Isra' Mi'raj (Bagian 1)

Membaca Alam Pikiran Rumi(Bagian 12)