Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 28)

 Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 28)


Para Penjaga Malam dan Pemabuk


28 Ramadhan 1446 H

Jumat Wage 28 Maret 2025


Menggali makna terpendam dalam kisah-kisah Maulana Jalaluddin Rumi dalam kitab Matsnawi Maknawi.

Oneday ketika lewat tengah malam, para petugas ronda yang sedang berpatroli di lingkungan sekitar menemukan seorang pemabuk bersandar di dinding. Salah seorang dari mereka menghampiri lelaki itu, menepuk pundaknya, dan berteriak di telinganya, "Hei! Apa kau mabuk? Katakan cepat, apa yang sudah kau minum?"


"Apa pun yang ada di dalam botol itu," kata si pemabuk, menunjuk ke botol kosong yang terguling.


"Apa isi botol itu? Kau kan tahu bahwa alkohol ilegal di kota ini," teriak si petugas lagi.


"Aku meminum apa yang ada di dalam botol, Tuan," si pemabuk mengoceh tidak jelas.


"Aku tidak melihat apa pun di dalam botol; katakan cepat, apa yang sudah kau minum?"


"Sudah kubilang, aku meminum isi botol itu." pemabuk mengoceh tidak jelas.


"Aku tidak melihat apa pun di dalam botol; katakan cepat, apa yang sudah kau minum?"


"Sudah kubilang, aku meminum isi botol itu." pemabuk mengoceh tidak jelas.


"Aku tidak melihat apa pun di dalam botol; katakan cepat, apa yang sudah kau minum?"


"Sudah kubilang, aku meminum isi botol itu."


Si petugas menyadari bahwa sia-sia saja berbicara dengan lelaki ini. Dia mempertimbangkan bahwa jika dia ingin menangkap pemabuk itu, dia harus mencoba pendekatan lain.


"Buka mulutmu dan katakan ah," perintahnya pada si pemabuk, yang sekarang setengah tertidur, menyangka bisa mencium bau alkohol di napasnya.


"Hu!" desah si pemabuk riang.


"Aku memerintahkanmu untuk bilang ah dan kau

 malah bilang hu?" tukas petugas yang marah itu.


"Aku sedang mengalami kebahagiaan yang meluap - luap, mengapa aku harus mengatakan ah? Ah adalah suara untuk orang-orang menyedihkan sepertimu yang telah membiarkan punggungmu patah. Orang-orang sepertiku selalu bahagia, dan dari sanalah asal Hu-ku!"


"Jangan coba-coba melepaskan diri dari kekacauan ini dengan retorika bodohmu. Aku tak akan termakan spiritualitas palsumu. Jangan berdebat lagi; berdiri!" si petugas memerintahkan dengan penuh kewenangan, tahu betul bahwa jika tidak segera bertindak, dirinya akan diakali.


"Tidak apa-apa, kau bisa pergi sekarang; aku sudah selesai di sini," jawab si pemabuk.


"Aku menyuruhmu untuk berdiri! Kau mabuk, dan aku harus menahanmu."


"Tinggalkan aku sendiri. Bagaimana kau menyangka bisa mencuri pakaian dari seorang lelaki telanjang?" dalih si pemabuk. "Andai aku punya kekuatan, aku akan berjalan ke rumahku sendiri dan tidak membuang waktuku berdebat denganmu! Andai aku bisa menggunakan akal sehat seperti orang bijak, aku akan duduk di tokoku mengurus urusanku, dasar bodoh!"


Si pemabuk berjongkok, menyandarkan punggung ke dinding, dan memejamkan mata, langsung terlelap. Melihat kesia-siaan dari penangkapan ini, para petugas ronda dengan kesal beranjak pergi dan meninggalkan pemabuk itu sendirian.


*****


Oneday seorang murid Syaikhul Akbar Muhyiddin Ibnu Araby bertanya kepada gurunya. Wahai guru, kenapa engkau hanya berzikir dengan menyebut nama Allah (ٱللَّٰه) terus-menerus? Bukankah kalimat tauhid  "La ilaha illallah" - "لآ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ" juga bisa dilafazkan dalam berzikir?


Ibnu Araby dengan senyum penuh keramahan menjawab: "Wahai muridku, tidak ada yang mengetahui kapan seseorang itu dijemput oleh malaikat maut. Aku takut kalau aku belum menyebut nama Allah - ٱللَّٰه dalam kalimat tauhid  "La ilaha illallah" - "لآ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ", malaikat maut sudah mencabut nyawaku.


Ada ulama yang menjelaskan bahwa nama Allah - ٱللَّٰه ini ajaib. Kenapa ajaib? Karena kalau kita mengurangi hurufnya satu-persatu maka namanya akan selalu kembali kepada Allah SWT Sang pemilik Nama Yang Agung.


Lafzul-Jalalah: Allah (اللهُ), menurut para ahli zikir, adalah satu-satunya kosakata Arab yang bila hurup-hurupnya dihilangkan satu per satu dari awal (kanan), tetap memiliki makna yang utuh.


Lafaz ٱللَّٰه jika dihilangkan huruf 'alifnya' akan berbunyi "Lillahi" (لله), yang mempunyai arti "untuk Allah / karena Allah / semata untuk Allah". Apabila hurup lam (لَ) pertamanya dihilangkan maka akan berbunyi "Lahu" (لَهُ), yang berarti “hanya kepada-Nya / milik-Nya / kepunyaan-Nya”. Apabila hurup lam (لَ) keduanya dihilangkan maka akan berbunyi "Hu" (هُـ), yang merupakan kependekan dari kata huwa (هُـوَ) yang berarti “Dia”.


Dalam beberapa majlis zikir dan aliran tharikat, ada yang berzikir hanya menggunakan hurup "Hu" untuk menyebut nama Allah SWT.

Hu... Hu... Hu... Hu...

_____


Siapapun orang yang  membaca kisah Maulana Jalaluddin Rumi Al Balkh diatas, bisa berbeda interpretasi dalam menangkap makna yang tersirat dalam kisah ini. Semoga kita bisa menemukan hikmah terpendam dari kisah ini untuk jadi pelajaran hidup mengenal diri dan mengenal Sang Maha Ilmu, Allah SWT. Kalau ada perbedaan dalam melihat makna di balik kisah maka ingatlah selalu kisah gajah dalam gelap, kita hanya bisa meraba dan menerka binatang apa gajah itu, bukan melihatnya langsung.


Allahu A'lam Bissawab

Allahu A'lamu Wa Antum Laa Ta'lamun


*Hanya belajar berbagi. Aku berlindung kepada Allah SWT dari firman-Nya: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan🙏🏼


#kisahsufi #kisahhikmah #ceritasufi

#ceritahikmah

#hikmahteladan

#kisahteladan

#hikayatsufi

#hikayathikmah

#wisdomstory

#chikensoupformuslim


🙏🏼junsyam ininnawa🙏🏼

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 2)

Maha Suci Allah Yang memperjalankan Hamba-Nya Isra' Mi'raj (Bagian 1)

Membaca Alam Pikiran Rumi(Bagian 12)