Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 27)

 Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 27)


Semak-semak Berduri


27 Ramadhan 1446 H

Kamis Pon 27 Maret 2025


Menggali makna terpendam dalam kisah-kisah Maulana Jalaluddin Rumi dalam kitab Matsnawi Maknawi.

Oneday di masa lalukota dan desa di padang pasir dihubungkan oleh jalan setapak yang panjang dan berkelok-kelok. Di salah satu desa, hiduplah seorang lelaki kejam yang tak peduli pada siapa pun, bahkan tidak terhadap keluarga dekatnya. Dia selalu terlibat dalam konflik, kebanyakan dengan dirinya sendiri; seseorang dapat mengukur suasana hatinya hanya dengan mengamati apakah dia terlibat dalam suatu aksi balas dendam.


Selama beberapa waktu, lelaki ini menanam semak berduri di sepanjang jalan dari desanya ke desa berikutnya. Semak-semak ini tumbuh perlahan tetapi menancap kuat dan menggores kaki siapa pun yang melewati jalan setapak, mengubah perjalanan mereka menjadi siksaan. Setiap hari, ditanamnya semak-semak baru meski warga desa lain mengeluhkannya; dengan seenaknya dia menutup telinga atas perintah kepala desa agar menghentikan penanaman yang mencelakakan itu.


Meski terus berjanji untuk mencabut semak berduri itu, dia tidak pernah melaksanakannya, dan semak itu tumbuh lebih kuat dan lebih tebal, menyayat kulit para pengguna jalan setapak dan menyebabkan infeksi berdarah. Akhirnya lelaki egois itu dipanggil ke pengadilan.


"Aku telah meminta berkali-kali kepadamu agar menghentikan penanaman yang tak masuk akal itu," tegur kepala desa. "Kenapa kau berkeras menyakiti semua orang di sekitarmu? Setiap hari kau mengingkari janji untuk mencabut semak berduri itu, dasar orang malas tidak berguna! Aku telah memerintahkanmu untuk mencabut tanaman itu tetapi sebaliknya kau membiarkannya tumbuh, semakin memperkuat akarnya, dan kau menanam lebih banyak lagi setiap hari! Kau sudah semakin tua dan semakin lemah setiap hari sementara mereka tumbuh lebih kuat dan lebih tinggi. Pilihannya adalah kau memotongnya dari akarnya pagi ini juga atau mengubahnya menjadi semak mawar! Katakan, bisakah kau melakukan itu?"


Kepala desa akhirnya menantang lelaki itu secara hukum, tetapi dia tidak memiliki banyak harapan, hampir yakin bahwa kata-katanya tak akan membawa pengaruh besar. Dia sadar bahwa mungkin sudah terlambat bagi jiwa rusak ini untuk mengubah cara hidupnya yang telah mendarah daging, dan dengan putus asa dilihatnya lelaki itu meninggalkan ruang sidang dengan lagak angkuh, jelas-jelas menunjukkan dengan sikap kurang ajarnya bahwa dia tidak berniat mematuhi perintah pengadilan.


*****


Menurut Imam Ali Kw, dosa paling besar adalah dosa yang dianggap ringan. Ia pernah berkata, "Sebesar-besarnya dosa itu ialah dosa yang dianggap ringan oleh pelakunya".


Maulana Rumi Al Balkh menyiratkan pesan dari cerita di atas tentang bahayanya menganggap remeh dosa-dosa kecil. Awalnya dosa itu kita anggap kecil dan enteng. Pelan tapi pasti dosa yang kecil itu terus kita lakukan , terus kita tumpuk tanpa kita sadari dosa-dosa itu sudah menjadi bukit yang kokoh bahkan sudah menjadi sebesar Gunung Everest atau lebih besar dari itu.


Menganggap remeh dosa-dosa kita, dan menunda-nunda untuk  bertaubat akan membuat dosa itu akan mengakar kuat di dalam hati sehingga membuat hati mengeras. Ketika hati manusia sudah mengeras maka susah untuk melembutkannya bahkan butuh waktu lama untuk lama.


Terkadang juga menganggap remeh dosa-dosa itu yang menjadikan kita menunda untuk mentaubati dosa yang dilakukan. Masih muda, masih banyak waktu untuk bertaubat katanya. Nanti saja pas sudah tua baru kita  bertaubat! Tuhankan Maha Pemaaf, jadi nanti juga di maafkan! Dan masih banyak alasan-alasan yang kadang terlontar dari mulut orang yang berbuat dosa. Kalau tiba-tiba malaikat maut datang menjemput sebelum tua, sebelum sempat bertaubat akan dosa-dosanya, sungguh penyesalan yang akan terjadi.


Sebagaimana termaktub dalam Surah Al-An'am 6:31


Sungguh rugi orang-orang yang mendustakan pertemuan dengan Allah; sehingga apabila Kiamat datang kepada mereka secara tiba-tiba, mereka berkata, “Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang Kiamat itu,” sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Alangkah buruknya apa yang mereka pikul itu.

_____


Siapapun orang yang  membaca kisah Maulana Jalaluddin Rumi Al Balkh diatas, bisa berbeda interpretasi dalam menangkap makna yang tersirat dalam kisah ini. Semoga kita bisa menemukan hikmah terpendam dari kisah ini untuk jadi pelajaran hidup mengenal diri dan mengenal Sang Maha Ilmu, Allah SWT. Kalau ada perbedaan dalam melihat makna di balik kisah maka ingatlah selalu kisah gajah dalam gelap, kita hanya bisa meraba dan menerka binatang apa gajah itu, bukan melihatnya langsung.


Allahu A'lam Bissawab

Allahu A'lamu Wa Antum Laa Ta'lamun


*Hanya belajar berbagi. Aku berlindung kepada Allah SWT dari firman-Nya: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan🙏🏼


#kisahsufi #kisahhikmah #ceritasufi

#ceritahikmah

#hikmahteladan

#kisahteladan

#hikayatsufi

#hikayathikmah

#chikensoupformoslem


🙏🏼junsyam ininnawa🙏🏼

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 2)

Maha Suci Allah Yang memperjalankan Hamba-Nya Isra' Mi'raj (Bagian 1)

Membaca Alam Pikiran Rumi(Bagian 12)