Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 24)

 Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 24)


Tatapan Malaikat Izrail


24 Ramadhan 1446 H

Senin Kliwon 24 Maret 2025


Menggali makna terpendam dalam kisah-kisah Maulana Jalaluddin Rumi dalam kitab Matsnawi Maknawi.

Oneday Nabi Sulaiman As, sang nabi bijaksana, mengadakan pertemuan setiap hari untuk mendengarkan keluhan rakyatnya dan mencoba mengatasi persoalan-persoalan mereka. Suatu pagi, saat mendengarkan keluhan rakyatnya satu demi satu, seorang lelaki yang tampak kalut menghambur masuk ke balairung. Nabi Sulaiman As memperhatikan betapa tertekannya lelaki itu dan memberi isyarat agar dia maju. Si lelaki bersyukur karena dipanggil ke depan antrean, lalu berlutut di hadapan sang raja dermawan.


"Apa yang menyusahkanmu, kawan?" tanya Nabi Sulaiman As dengan lemah lembut.


"Malaikat Pencabut Nyawa, Baginda! Saya melihatnya satu menit lalu saat menyeberangi jalan. Dia memelototi saya dengan penuh amarah sampai-sampai jantung saya nyaris copot!"


"Kita semua tahu Izrail hanya menerima perintah dari Tuhan dan tidak pernah ragu dalam melaksanakan tugasnya," tegas Sang Nabi. "Sekarang beritahu aku, apa yang bisa kulakukan untukmu?"


"Saya mohon, hidup saya ada di tangan Anda, Yang Mulia. Tolong perintahkan angin agar membawa saya ke India, karena di sana saya akan terhindar dari Malaikat Pencabut Nyawa."


Nabi Sulaiman As, sang penguasa angin segera memerintahkan Angin Timur untuk membawa orang yang hampir semaput itu ke India dan menurunkannya di tempat yang dipilihnya. Kemudian sang nabi kembali memusatkan perhatian ke urusan rakyat lainnya yang sempat terbengkalai.


Keesokan harinya ketika kembali ke balairung, Nabi Sulaiman As melihat sekilas Malaikat Pencabut Nyawa di antara kerumunan. Dia memberi isyarat kepada sang malaikat untuk mendekat, lalu bertanya: "Mengapa kau menakuti-nakuti orang-orang dengan tatapan penuh murka itu, sampai mereka meninggalkan mata pencaharian, rumah, dan keluarga mereka? Apa yang telah dilakukan lelaki malang itu kemarin sehingga pantas mendapatkan tatapan menakutkan darimu?"


Izrail terkejut. "Tuanku, aku sama sekali tidak menatapnya dengan murka! Sebenarnya, aku terkejut melihatnya!" kata sang malaikat. "Tuhan telah memerintahkanku untuk mencabut hidupnya yang menyedihkan hari ini di India, dan aku tidak dapat membayangkan, bahkan jika dia memiliki sejuta sayap, bagaimana dia bisa sampai di sana tepat waktu. Aku terkejut menatapnya, bukan karena marah."


Subhanallah yang telah mempertemukan aku dengan orang itu kemarin. Berangkatlah engkau ke India dengan kekeuatan angin aku sudah mengirimnya ke sana untukmu.


*****


Dalam Al-Qur'an surah Al-A'raf , ayat 34 Allah SWT berfirman:


وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلࣱۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمۡ لَا يَسۡتَأۡخِرُونَ سَاعَةࣰ وَلَا يَسۡتَقۡدِمُونَ


Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.


Konon asal mula Bangsa Jepang itu adalah orang-orang China yang di utus oleh Kaisar Tiongkok untuk mencari tanaman keabadian yang ada di sebuah pulau. Maka di pilihlah pemuda dan pemudi terbaik kerajaan untuk di persiapkan mencari sebuah tanaman yang sudah di jelaskan ciri-cirinya oleh tabib kerajaan.


Setelah semuanya sudah siap, maka berangkatlah para utusan ini ke dalam hutan sebuah pulau. Sudah bertahun-tahun tim ini berkeliling di pulau itu tapi tidak pernah menemukan tanaman yang di maksud. Setelah mereka berpikir dan merenung bahwa tidak mungkin ada tanaman yang bisa membuat orang abadi. Mereka juga sudah tidak berani untuk kembali ke dataran China karena taruhannya adalah nyawa mereka karena tidak berhasil menemukan tanaman itu. Akhirnya mereka tinggal di pulau itu dan menjadi bangsa Jepang sekarang ini.


Menghindari kematian, berlari jauh dari kematian, itulah yang di cari oleh orang yang takut kepada kematian. Berbagai macam cara ditempuh oleh umat manusia dari zaman dulu untuk menghindari kematian. 


Sampai sekarang ini, legenda tentang air keabadian dan tanaman keabadian masih kadang kita dengar. Orang-orang masih mencari tanaman keabadian dan air keabadian ini. Karena takut kematian maka di carilah berbagai macam cara untuk menghindarinya dan hidup abadi.


Karena tidak menemukan cara hidup abadi, maka orang-orang berusaha bagaimana cara hidup tanpa merasa tua.


Berbagai macam teknologi bermunculan agar seseorang itu tidak menjadi tua. Teknologi kecantikan sekarang menjamur di mana-mana. Mengganti organ manusia yang sudah rusak juga sudah banyak di lakukan oleh manusia. Berbagai macam serum dan teknologi peremajaan sel juga semakin maju penemuannya. Dan masih banyak cara-cara lain yang selalu di kembangkan manusia. Tanam benang, suntik silikon, tanam rambut, ganti organ dengan organ hewan, dan masih banyak lagi. Belum lagi cara-cara klenik yang banyak di lakukan manusia. Tanam emas, tanam berlian, tanam mutiara, tanam batu mulia dan berbagai macam benda-benda yang di masukkan ke tubuh agar kelihatan lebih cantik dan selalu nampak muda, nampak berwibawah dan mempesona didepan orang. 


Sebenarnya apa yang ingin di capai oleh makhluk yang namanya manusia?


Kalaulah umur manusia itu abadi, apakah mungkin jasad manusia yang rapuh ini bisa menopang kehidupan yang abadi itu? Mungkin manusia akan menyusahkan anak cucunya dengan hidup yang abadi tapi jasad yang lemah? Apakah manusia itu mau hidup abadi tapi berbaring di tempat tidur selamanya?


Dunia ini hanya persinggahan, kehidupan yang sebenarnya ketika manusia telah mati. Persiapkanlah bekalmu untuk kehidupan jiwamu yang kekal, alam keabadian, di alam akhirat nanti.


Seorang sahabatnya pernah bertanya kepada Imam Ali bin Abi Thalib. Kenapa manusia menghindari dan takut dengan kematian? 


Dengan singkat dijawab oleh Imam Ali nahwa, orang takut dan menghindari kematian karena semua orang berlomba-lomba memperbaiki kehidupan di dunianya dengan merusak kehidupan akhiratnya. Dengan kata lain, kita membangun rumah, kendaraan dan rekening kita dengan cara merusak rumah, kendaraan dan rekening kita di akhirat kelak. 


Jangan takut mati tapi persiapkanlah diri menuju mati, kehidupan jiwa yang abadi.

_____

Siapapun orang yang  membaca kisah Maulana Jalaluddin Rumi Al Balkh diatas, bisa berbeda interpretasi dalam menangkap makna yang tersirat dalam kisah ini. Semoga kita bisa menemukan hikmah terpendam dari kisah ini untuk jadi pelajaran hidup mengenal diri dan mengenal Sang Maha Ilmu, Allah SWT. Kalau ada perbedaan dalam melihat makna di balik kisah maka ingatlah selalu kisah gajah dalam gelap, kita hanya bisa meraba dan menerka binatang apa gajah itu, bukan melihatnya langsung.


Allahu A'lam Bissawab

Allahu A'lamu Wa Antum Laa Ta'lamun


*Hanya belajar berbagi. Aku berlindung kepada Allah SWT dari firman-Nya: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan🙏🏼


#kisahsufi #kisahhikmah #ceritasufi

#ceritahikmah

#hikmahteladan

#kisahteladan

#hikayatsufi

#hikayathikmah

#wisdomstory

#chikensoupformuslim


🙏🏼junsyam ininnawa🙏🏼

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 2)

Maha Suci Allah Yang memperjalankan Hamba-Nya Isra' Mi'raj (Bagian 1)

Membaca Alam Pikiran Rumi(Bagian 12)