Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 23)
Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 23)
Merak
23 Ramadhan 1446 H
Ahad Wage 23 Maret 2025
Menggali makna terpendam dalam kisah-kisah Maulana Jalaluddin Rumi dalam kitab Matsnawi Maknawi.
Oneday seorang tabib sedang berjalan-jalan di padang rumput rimbun di belakang rumahnya, dia melihat burung merak jantan yang cantik di kejauhan. Saking inginnya melihat burung itu dari dekat, dia berjalan mengendap-endap ke arah si merak. Seraya menyipitkan mata agar bisa melihat lebih jelas, si tabib melihat burung itu mencabuti bulu indahnya dengan paruh lalu meludahkannya sejauh mungkin dari dirinya. Si tabib bingung dan memutuskan untuk menyelidiki. Maka perlahan-lahan didekatinya burung itu.
"Halo, makhluk indah! Mengapa kau mencabuti bulu indahmu itu?" tanyanya lembut, menjaga suaranya tetap rendah tetapi tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. "Bagaimana engkau sanggup menghancurkan keindahan seperti itu? Bulumu dikagumi di seluruh dunia. Para penghafal Al Qur'an menggunakannya sebagai penanda, dan bangsawan menggunakannya untuk mengipasi diri saat cuaca panas. Apakah engkau sadar siapa yang menciptakan kemuliaan tak tertandingimu itu?
Bisa-bisanya engkau menyingkirkan pemberian Tuhan dengan begitu tak tahu terima kasih?"
Ketika mengungkapkan pemikirannya, seraya berharap si burung merak bersedia mendengarkan, tabib bijak itu menyadari bahwa mungkin dia terlalu tergesa-gesa mempertanyakan tindakan si burung sejak awal.
Mungkin dia juga terlalu cepat memberikan nasihatnya; setiap tindakan memiliki alasannya sendiri-sendiri, dan dia tidak menghormati realitas fundamental ini. Namun demikian si tabib hampir tidak bisa menyembunyikan kesedihan saat melihat si burung melanjutkan pencabutan atas bulunya sendiri.
"Menyingkirlah dariku," seru si burung merak, jelas-jelas kesal. "Engkau masih terganggu oleh keindahan superfisialku! Tidak bisakah kau melihat bahwa karena bulu-bulu ini aku harus menanggung begitu banyak kesulitan? Setiap kali aku berbalik, ada pemburu yang menguntitku. Aku jadi tidak bisa melindungi diri dari bahaya; tubuhku memang besar, tapi sebenarnya aku cukup lemah. Jika aku tidak bisa menjauhkan bahaya, maka sebaiknya aku membuat diriku terlihat tidak pantas! Aku ingin bisa berkeliaran ke mana pun sesukaku, dengan damai dan tanpa rasa takut. Bulu-bulu ini penyebab egoismeku, bulu-bulu ini membawa banyak kerugian yang tak perlu bagiku. Saatnya aku menyingkirkan semua hiasan seperti itu! Hanya Tuhan yang bisa memahamiku."
Si merak kembali mencabuti bulu yang tersisa, mengabaikan si lelaki yang terus menyaksikan tanpa suara sementara airmatanya mengalir tak terkendali.
*****
Entah pesan penting apa yang ingin di sampaikan Maulana Rumi Al Balkhi dengan kisah merak ini. Apakah ini simbol hawa atau syahwat atau nafsu dengan berbagai tingkatannya.
Pesan tersirat dari Rumi Al-Balkhi dalam kisah ini adalah sesuatu yang kita miliki atau sesuatu yang ada pada diri kita tapi dengannya sesuatu itu di diri kita, banyak orang yang menginginkan untuk memilikinya dan karenanya membuat ancaman / bahaya dalam hidup kita karena banyak yang ingin mengambilnya dari diri kita. Saya membaca pesan dari tersirat dalam cerita ini yang dapat menjadi ancaman hidup kita adalah harta yang berlimpah.
Rasulullah Saw pernah bersabda:
أَنَا مَدِينَةُ الْعِلْمِ وَعَلِيٌّ بَابُهَا
“Saya adalah kotanya ilmu, dan Ali adalah pintu gerbangnya”
Mendengar sabda Rasulullah Saw seperti itu, orang-orang Khawarij tidak setuju dan berusaha membuktikan dengan mencoba memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada Sayyidina Ali Kw. Kemudian orang Khawarij tersebut mengumpulkan 10 kelompok kaum Khawarij dan tiap kelompok diwakili satu orang sebagai penanya. Pertanyaan kesepuluh orang Khawarij tersebut sama, yaitu : “Hai Ali, manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?”. Kesepuluh pertanyaan yang sama dari sepuluh orang Khawarij tersebut dijawab oleh Ali dengan jawaban yang berbeda-beda, yaitu :
Pertama, ilmu adalah warisan para nabi dan rasul, sedangkan harta adalah warisan Qarun, Fir’aun, Namrud dan lain-lainnya;
Kedua, ilmu akan menjaga diri kita, sementara harta malah sebaliknya, malahan kita yang harus menjaganya;
Ketiga, orang yang memiliki banyak harta akan memiliki banyak musuh. Sedangkan orang yang kaya ilmu akan banyak sahabatnya serta orang yang menghormatinya;
Keempat, harta jika sering kita gunakan akan semakin berkurang. Berbeda dengan ilmu, semakin sering digunakan, maka akan semakin bertambah, semakin luas dan dalam.
Kelima, pemilik harta biasanya akan ada seseorang yang menyebutnya pelit, sedangkan pemilik ilmu akan dihargai dan disegani;
Keenam, pemilik harta akan selalu menjaganya dari kejahatan, baik maling, rampok maupun yang lain. Sedangkan ilmu tak perlu susah payah menjaganya, karena ia lah yang akan menjaga kita;
Ketujuh, pemilik ilmu akan diberi syafa’at oleh Allah Swt di hari kiamat kelak, sementara pemilik harta, setiap harta yang digunakan akan dihisab oleh Allah kelak di yaumul hisab;
Kedelapan, harta pada saatnya akan habis, sedangkan ilmu malah sebaliknya, ilmu akan abadi dan selalu bertambah;
Kesembilan, seseorang yang banyak harta akan dijunjung tinggi hanya karena hartanya. Sedangkan orang yang berilmu akan dijunjung tinggi karena ilmu pengetahuan dan intelektualnya;
Kesepuluh, harta sering kali membuat kita tidak tenang, bahkan dengan kata lain harta dapat mengeraskan hati kita. Tetapi, ilmu sebaliknya, dia akan menyinari hati hingga hati kita menjadi terang dan tentram.“
Andaikata engkau datangkan semua orang untuk bertanya, InsyaAllah akan aku jawab dengan jawaban yang berbeda-beda pula, selagi aku masih hidup,” jelas Ali kepada kaum Khawarij.
Itulah kehebatan dan kecerdasan Imam Ali Karramallahu Wajhahu. Tidak salah Rasulullah Saw menjulukinya pintu ilmu.
Untuk mengakhiri tulisan ini. Saya ingin menyampaikan bahwa ada yang unik dari Burung Merak ini. Selama ini orang seringkali menganggap bahwa Merak membentangkang ekor indahnya yang berbentuk kipas adalah Merak betina yang simbolis dari keindahan. Tapi ternyata ekor yang membentang indah dengan warna-warni yang cantik tiada tara itu ternyata Merak Jantan. Bentangan ekor yang indah itu ternyata untuk memikat Merak Betina untuk menarik perhatiannya dan menyampaikan isyarat cinta.
Indahnya bentangan Semesta Alam ini adalah isyarat Ilahi untuk memperkenalkan diri-Nya, sehingga cahaya cinta tumbuh dalam jiwamu untuk lebih mengenal-Nya.
"Man Arafa Nafsahu Faqad Arafa Rabbahu"
____
Siapapun orang yang membaca kisah Maulana Jalaluddin Rumi Al Balkh diatas, bisa berbeda interpretasi dalam menangkap makna yang tersirat dalam kisah ini. Semoga kita bisa menemukan hikmah terpendam dari kisah ini untuk jadi pelajaran hidup mengenal diri dan mengenal Sang Maha Ilmu, Allah SWT. Kalau ada perbedaan dalam melihat makna di balik kisah maka ingatlah selalu kisah gajah dalam gelap, kita hanya bisa meraba dan menerka binatang apa gajah itu, bukan melihatnya langsung.
Allahu A'lam Bissawab
Allahu A'lamu Wa Antum Laa Ta'lamun
*Hanya belajar berbagi. Aku berlindung kepada Allah SWT dari firman-Nya: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan🙏🏼
#kisahsufi #kisahhikmah #ceritasufi
#ceritahikmah
#hikmahteladan
#kisahteladan
#hikayatsufi
#hikayathikmah
#wisdomstory
#chikensoupformuslim
*sumber gambar kabarposnews.co.id
🙏🏼junsyam ininnawa🙏🏼

Komentar
Posting Komentar