Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 22)
Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 22)
Keledai Pengangkut Air
22 Ramadhan 1446 H
Sabtu Pon 22 Maret 2025
Menggali makna terpendam dalam kisah-kisah Maulana Jalaluddin Rumi dalam kitab Matsnawi Maknawi.
Oneday pada zaman dahulu, kota-kota pada umumnya tidak memiliki air ledeng untuk mencukupi dipakai sehari-hari. Oleh karenanya, pengangkut air akan mendatangi rumah demi rumah guna memenuhi kebutuhan air sehari-hari warganya. Di ibukota, ada seorang pengangkut air tua dengan keledai setia yang menarik gerobak air milik lelaki itu sepanjang hidupnya. Punggung hewan malang itu sampai membungkuk karena beban yang harus dipikulnya setiap hari, dan tubuhnya penuh dengan koreng dan luka yang tak diobati oleh tuannya.
Si pemilik bukanlah seorang penyayang binatang, dia tidak memberi makan keledai itu dengan layak, hanya mampu memberinya jerami tua. Dia akan mencambuk keledai itu untuk membuatnya berjalan lebih cepat, menimbulkan lebih banyak luka pada tubuh hewan itu. Si keledai, diberkati oleh kesabaran dan ketaatan yang baik, setiap hari berharap Tuhan mengambil nyawanya dan membebaskannya dari penderitaan terus-menerus ini.
Suatu hari ketika sedang berkeliling, mereka berpapasan dengan teman lama si pengangkut air, yang mengurusi istal milik sultan. Ketika melihat kondisi keledai yang menyedihkan itu, si teman sangat terkejut, "Ada apa dengannya sobat? Mengapa dia terlihat begitu payah?"
"Bukan salahnya," si pemilik keledai menjawab cepat. "Dia kelihatan seperti ini karena aku tidak sanggup memberinya makan."
"Izinkan aku membawanya ke istal dan merawatnya. Aku akan memberinya makan dengan layak dan membiarkannya memulihkan diri," tawar si teman dengan murah hati.
Si pengangkut air bersukacita atas tawaran itu dan berpisah dengan temannya, berharap seminggu ke depan bisa menjemput si keledai yang sudah dalam keadaan siap untuk bekerja lagi. Si keledai segera dibawa ke istal sultan yang dipenuhi oleh kuda-kuda Arab yang cantik dan kuat. Ketika menyadari betapa besar perbedaan antara dirinya dan teman-teman barunya, si keledai berkecil hati dan mengeluh kepada Tuhan.
Meski keledai rendahan, aku tetap salah satu ciptaan-Mu! Mengapa harus ada perbedaan yang begitu besar antara aku dan kerabat berkaki empatku ini? Mengapa aku harus menderita kelaparan sepanjang waktu? Mengapa aku harus menahan rasa sakit sepanjang malam, hanya bisa tidur dengan gelisah, mengharapkan kematian setiap hari? Di mana letak keadilannya, sementara kuda-kuda ini hidup dalam kemewahan, aku harus hidup dalam penderitaan?"
Si keledai terus meracau selama beberapa waktu, tenggelam dalam perasaan mengasihani diri. Tiba-tiba didengarnya bunyi trompet yang keras di luar. Perang telah pecah dan bunyi trompet itu mengumumkannya. Dalam sekejap, para prajurit berkumpul di dalam istal dan mulai memasangi pelana pada kuda-kuda Arab yang merupakan kuda perang. Tak lama kemudian, si keledai mendapati dirinya sendirian di istal yang besar, bertanya-tanya apa yang baru saja terjadi.
Keesokan paginya, kuda-kuda itu tersaruk-saruk kembali ke istal, dipenuhi luka dalam dan ditembusi anak panah, kaki mereka dibaluti perban. Satu tim dokter hewan tiba di lokasi, berusaha keras untuk merawat luka, berharap tidak menyebabkan lebih banyak kerusakan pada tunggangan sultan yang berharga.
"Ya Tuhan, ampuni aku!" si keledai berdoa, dikuasai rasa malu karena sudah mengasihani diri sebelumnya. "Aku puas dengan kemiskinanku; setidaknya aku memiliki keamanan! Dengan senang hati aku bersedia menukar kenyamanan sementara dari istal ini dengan gaya hidupku yang dulu kapan saja!"
Si keledai merasa lega ketika minggu berikutnya dia dipertemukan kembali dengan majikan lamanya yang dianggapnya kejam, karena kini dia tahu bahwa segala sesuatu tidak benar-benar seperti yang tampak olehnya dulu.
*****
Bersyukur dan bersabar adalah 2 kata yang mudah diucapkan tapi berat di jalani. Mensyukuri nikmat yang baik itu mudah bagi seseorang tapi bagaimana dengan mensyukuri keburukan atau musibah? Itu perlu pengetahuan dan kelapangan hati. Perlu pengetahuan bahwa apa yang terjadi dalam hidup ini sudah di tuliskan dalam ummul kitab di lauhul mahfudz dan perlu hati yang lapang menerima apapun ketentuan-Nya. Ketentuan baik ataupun buruk itu menurut ukuran manusia, kalau menurut Allah SWT itu semuanya baik untuk manusia.
Mungkin cerita Maulana Rumi ini ada bisa di hubungkan dengan sebuah cerita fiksi tentang bersyukur:
Oneday ada seorang malaikat yang mengantar seorang manusia yang ingin melihat kesibukan para malaikat di langit yang sibuk membantu urusan manusia di bumi.
Ketika di ajak keliling-keliling, orang ini kaget, karena ternyata di langit itu malaikat memiliki beberapa departemen.
Malaikat memperkenalkan departemen pertama. “Ini adalah departemen penerimaan. Di departemen ini dicatat semua permintaan atau permohonan dari penduduk bumi.” Orang itu melihat bahwa di departemen itu sangat banyak pegawai yang bertugas. Orang itu bisa mengerti mengapa departemen itu sibuk sekali karena pasti ada banyak permintaan dari penduduk bumi untuk berbagai kepentinga dan permohonan.
Kemudian mereka berjalan terus dan tiba pada departemen kedua. Orang itu bertanya, “Departemen apakah ini?” Malaikat itu menjawab, “Ini adalah departemen pengiriman. Pada departemen ini segala permintaan dari penduduk bumi disortir dulu mana yang mau dikabulkan dan mana yang di tunda sampai waktu tertentu, setelah itu dikirimkan ke seluruh penduduk bumi.” Orang itu melihat bahwa departemen itu juga sangat sibuk dan penuh dengan pegawai karena pasti ada banyak permintaan yang dikabulkan dan dikirim ke bumi.
Keduanya terus berjalan. Kini mereka tiba di sebuah departemen yang lain lagi. “Departemen apakah ini?” Malaikat itu menjawab, “Ini adalah Departemen Penerimaan Laporan dari penduduk bumi. Di departemen ini, para petugas mencatat laporan dari bumi yang telah menerima bantuan dari langit”. Tetapi orang itu melihat bahwa departemen itu sepi sekali. Pegawainya cuma beberapa orang saja dan duduk saja tidak terlalu sibuk, ada juga yang ngantuk-ngantuk karena tidak punya kesibukan. Lalu ia bertanya kepada malaikat itu, “Mengapa pegawainya cuma sedikit dan malah tidak memiliki sesuatu untuk dikerjakan?” Malaikat itu menjawab, “Yah... itulah herannya manusia di bumi. Mereka rajin meminta, tetapi ketika permintaan mereka dikabulkan cuma sedikit orang yang melaporkan bahwa permintaan mereka telah dikabulkan. Mereka hanya pandai meminta, tetapi tidak pandai bersyukur. Manusia suka minta ini dan itu cuma hanya sedikit yang pandai berterimakasih.”
Dalam Al-Qur'an Allah SWT menyindir orang-orang yang tidak pandai berterima kasih dengan berfirman dalam surat Al Isra' ayat 67:
فَلَمَّا نَجّٰىكُمْ اِلَى الْبَرِّ اَعْرَضْتُمْۗ وَكَانَ الْاِنْسَانُ كَفُوْرًا
Terjemahan:
"...Maka ketika Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling (dari-Nya). Dan manusia itu memang kufur (tidak berterima kasih)."
____
Saya, anda dan siapapun membaca kisah Maulana Rumi diatas bisa berbeda interpretasi dalam menangkap makna yang tersirat dalam kisah ini. Semoga kita bisa menemukan hikmah terpendam dari kisah ini untuk jadi pelajaran hidup mengenal diri dan mengenal Sang Maha Ilmu, Allah SWT. Kalau ada perbedaan dalam melihat makna di balik kisah maka ingatlah selalu kisah gajah dalam gelap, kita hanya bisa meraba dan menerka binatang apa gajah itu, bukan melihatnya langsung.
Allahu A'lam Bissawab
Allahu A'lamu Wa Antum Laa Ta'lamun
*Hanya belajar berbagi. Aku berlindung kepada Allah SWT dari firman-Nya: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan🙏🏼
#kisahsufi #kisahhikmah #ceritasufi
#ceritahikmah
#hikmahteladan
#kisahteladan
#hikayatsufi
#hikayathikmah
#wisdomstory
#chikensoupformuslim
🙏🏼junsyam ininnawa🙏🏼
.jpg)
Komentar
Posting Komentar