Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 20)
Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 20)
Burung Gagak dan Kuburan
20 Ramadhan 1446 H
Kamis Legi 20 Maret 2025
Menggali makna terpendam dalam kisah-kisah Maulana Jalaluddin Rumi dalam kitab Matsnawi Maknawi.
Oneday Qabil dengan keji telah membunuh Habil dan menjunjung mayat saudaranya di pundak, tidak dapat memutuskan bagaimana dan di mana menyembunyikan jasad itu supaya tidak ketahuan oleh orangtuanya, Adam dan Hawa. Belum pernah dia dihadapkan pada tugas yang sebegitu menyulitkan, dan sekarang dia merasa kebingungan. Sementara memikul mayat, dia mengedarkan pandangan ke sekitar mencoba mencari solusi, tapi pikirannya terlalu terbatas sehingga percuma saja.
Hari sudah malam, dan langit mulai gelap. Qabil menyadari bahwa kesempatannya untuk membereskan situasi itu hampir habis. Lalu dilihatnya seekor burung gagak terbang rendah ke arahnya. Awalnya dia mengira itu hanya halusinasi, tapi kemudian ketika burung gagak terbang mendekat, Qabil dapat dengan jelas melihat bahwa si burung membawa sesuatu yang tampak seperti gagak mati di paruhnya. Burung itu berputar-putar dengan anggun di udara sebelum akhirnya mendarat di dekatnya. Dengan perlahan, dibiarkannya gagak mati itu menggelinding dari paruhnya ke tanah, dan si gagak mulai menggali tanah dengan cakarnya yang kuat. Setelah lubangnya cukup dalam, burung gagak menggunakan paruh untuk mendorong bangkai gagak yang satunya dan mulai menutupinya dengan tanah yang baru saja digali.
Qabil mengamati tingkah polah si gagak dengan sangat takjub, bertanya-tanya bagaimana mungkin seekor burung sederhana bisa jauh lebih pintar daripada dirinya! Segera saja dia mengikuti teladan burung itu dan mengubur saudara lelakinya yang tewas di dalam tanah, tidak meninggalkan jejak apa pun yang dapat ditemukan oleh orangtuanya.
Qabil tidak tahu bahwa manusia membutuhkan bimbingan dalam hampir semua tugas yang mereka hadapi di bumi, dan seekor gagak sederhana telah ditugaskan untuk mengajarkan tindakan paling rendah ini: menggali kuburan.
*****
Entah sudah berapa ratus ribu orang atau mungkin sudah jutaan orang yang dipilih oleh Allah untuk menjadi pembimbing manusia untuk mengenal Tuhannya sejak Nabi Adam As sampai sekarang ini. Walaupun kenabian sudah di tutup dengan di utusnya Nabi Muhammad Saw, tapi sampai sekarang ini Allah SWT masih terus mengirim para pembimbing ini lewat para wali-wali, guru spiritual dan alim ulama yang selalu mengajarkan manusia tentang Tuhannya.
Pembimbing ini tidak hanya berasal dari manusia saja. Binatang, tumbuhan, bintang, bulan, matahari dan banyak lagi dari ciptaan Allah yang lainnya yang secara langsung dan tidak langsung membimbing manusia untuk mengenal Sang Pencipta.
Bahkan ada yang mengatakan bahwa syaitan pun merupakan pembimbing manusia. Membimbing manusia ke jalan kesesatan dan berusaha menjauhkan manusia dari Allah SWT. Dalam Al Qur'an di firmankan bahwa syaitan itu musuh yang nyata bagimu. Ini merupakan bimbingan dari Allah bahwa iblis dan sifatnya dan godaannya harus kita hindar. Karena syaitan itu musuh yang nyata maka wahai manusia hendaklah kamu selalu berlindung kepada Allah jika hendak memulai sesuatu.
Binatang itu tidak punya akal tapi berapa banyak bimbingan yang di peroleh manusia lewat polah tingkah laku binatang. Dulu dijaman Yunani kuno ada seorang bijak yang bernama Aesop yang selalu menceritakan kepada masyarakat Yunani tentang fabel-fabel dari dunia binatang. Aesop bercerita tentang hikmah kehidupan dan kebijaksanaan dari dunia binatang. Sarat pesan moral, menampilkan hewan yang berpikir dan berbicara seperti manusia. Beberapa cerita Fabel Aesop yang terkenal:
Kura-kura dan Kelinci (The Tortoise and The Hare):
Kelinci yang sombong meremehkan kura-kura yang lambat, tapi tertidur ditengah perlombaan. Kura-kura yang lambat tapi konsisten melangkah akhirnya memenang perlombaan. Pesan moralnya: Tidak boleh meremehkan orang lain dan teruslah berusaha karena akhirnya engkau akan berhasil.
Belalang dan Semut (The Grasshopper and The Ants): Belalang menghabiskan musim panas dengan santai dan bernyanyi, sementara kawanan semut sibuk mengumpulkan makanan untuk bekal di musim dingin. Saat musim dingin tiba, belalang kelaparan sementara kawanan semut bahagia dengan limpahan makanan. Pesan
Moral: Ada waktunya bekerja dan ada waktunya bermain, sediakan payung sebelum hujan. Selalu bersiaplah untuk menghadapi masa sulit.
Gembala dan Serigala (The Boy Who Cried Wolf): Seorang anak gembala sering berbohong tentang ada serigala yang datang mengancam tapi sebenarnya cuma bercanda. Disaat masyarakat sudah tidak mempercayainya, serigala benar-benar datang dan memakan semua gembalanya tanpa ada masyarakat yang datang menolongnya. Pesan moral: Pembohong tidak akan dipercaya meski suatu saat mereka berkata benar.
Anjing dan Bayangannya (The Dog and It's Shadow): Anjing yang membawa tulang melihat bayangannya di air sungai, mengira itu anjing lain dengan tulang yang lebih besar. Anjing itu lalu menggonggong untuk merebut tulang itu yang membuat tulang di mulutnya sendiri terjatuh. Pesan moral: Keserakahan membuat kita kehilangan apa yang sudah kita dimiliki. Maka dari itu selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki.
Singa dan Tikus (The Lion and The Mouse): Tikus kecil menyelamatkan singa besar dari jerat tali pemburu dengan menggigit tali sampai putus. Dilain waktu singa menyelamatkan tikus dari pemangsa. Pesan moral: semua makhluk saling membutuhkan. Yang besar dan kecil, yang kuat dan lemah. Jangan meremehkan satu sama lain.
Allah SWT mengilhamkan kepada sekawanan serangga yang memberi pelajaran berharga kepada manusia tentang kerja keras yang menghasilkan sesuatu yang terbaik untuk dikonsumsi manusia. Lebah yang berkerja keras dan manusia yang mendapatkan manfaatnya, itulah madu yang sering kita konsumsi. Al-Qur'an surah An-Nahl: 68-69:
Dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah, 'Buatlah sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia.
Kemudian, makanlah (wahai lebah) dari segala (macam) buah-buahan lalu tempuhlah jalan-jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu).” Dari perutnya itu keluar minuman (madu) yang beraneka warnanya. Di dalamnya terdapat obat bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.
-----
Saya, anda dan siapapun membaca kisah Maulana Rumi diatas bisa berbeda interpretasi dalam menangkap makna yang tersirat dalam kisah ini. Semoga kita bisa menemukan hikmah terpendam dari kisah ini untuk jadi pelajaran hidup mengenal diri dan mengenal Sang Maha Ilmu, Allah SWT. Kalau ada perbedaan dalam melihat makna di balik kisah maka ingatlah selalu kisah gajah dalam gelap, kita hanya bisa meraba dan menerka binatang apa gajah itu, bukan melihatnya langsung.
Allahu A'lam Bissawab
Allahu A'lamu Wa Antum Laa Ta'lamun
*Hanya belajar berbagi. Aku berlindung kepada Allah SWT dari firman-Nya: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan🙏🏼
#kisahsufi #kisahhikmah #ceritasufi
#ceritahikmah
#hikmahteladan
#kisahteladan
#hikayatsufi
#hikayathikmah
#wisdomstory
#chikensoupformuslim
🙏🏼junsyam ininnawa🙏🏼
.jpg)
Komentar
Posting Komentar