Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 19)

 Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 19)


Raja yang Meninggalkan Singgasananya


19 Ramadhan 1446 H

Rabu Kliwon 19 Maret 2025


Menggali makna tersirat kisah-kisah Maulana Jalaluddin Rumi dalam kitab Matsnawi Maknawi.

Oneday Ibrahim, penguasa Balkh, adalah raja yang kaya, adil, dan dipuja oleh rakyatnya. Suatu malam saat dia tidur nyenyak di istananya, bunyi benturan di atap membangunkannya. Dia mengira bunyi itu mungkin berasal dari salah satu pengawalnya karena mengejar penyusup yang membuat kekacauan. Sebelum membuka mata, dia berpikir: "Siapa yang berani-beraninya mencoba memasuki istanaku? Mungkinkah pencuri? Tapi dengan semua prajurit dan penjaga yang ditempatkan di seluruh wilayah, siapa yang sebegitu putus asanya hingga mempertaruhkan nyawa?"


Dengan marah, Ibrahim turun dari ranjang dan berjalan menuju jendela, berpikir: "Bisa kudengar para penjaga mengejar, tapi tidak ada manusia yang cukup bodoh untuk mencoba mencuri apa pun dari istanaku! Mereka pasti jin," pungkasnya.


"Siapa yang ada di luar sana di tengah malam begini?" serunya ke luar jendela, sekeras dan sekuat yang dia bisa.


"Ini kami," sekelompok orang berteriak serempak.


"Apa yang sedang kalian cari?" tanya Ibrahim, bingung.


"Kami mengejar unta!" kata mereka apa adanya.


"Dasar bodoh! Untuk apa orang mengejar unta di atap?"


"Untuk alasan yang sama ketika kau mengejar Tuhan sambil berbaring di ranjang!" ujar mereka membenarkan. Apakah yang kami lakukan ini jauh lebih luar biasa daripada yang engkau lakukan?"


Ketika mendengar kata-kata itu, Ibrahim tersentak takjub, meraih pakaian pertama yang bisa dia kenakan, lalu meninggalkan istananya selamanya. Tak seorang pun pernah melihatnya lagi di Provinsi Khorasan. Namanya, sebagai sufi yang agung, menjadi terkenal di seluruh Persia, dan kisahnya terus-menerus dituturkan selama bertahun-tahun mendatang, menginspirasi orang-orang untuk menggali misteri dunia spiritual.


*****


Bagaimana caranya mencari Sang Maha Agung dalam istana yang mewah. Bisakah menemukan Sang Maha Agung dalam kemewahan istana? Jawabannya bisa, karena Nabi Daud AS dan Nabi Sulaiman As pernah mendapatkan puncak spiritual walaupun hidup mewah di istana. Konon Ibnu Araby juga sufi yang kaya raya.


Pertanyaannya! Mampukah seseorang mengeluarkan kenikmatan dunia dan segala isinya dan menyisakan Cahaya Ilahi di dalam hatinya?


Bisakah seseorang meletakkan dunia ini di tangannya dan mengisi hatinya dengan Cahaya Agung?


Mampukah seseorang sibuk dengan urusan dunia dan hatinya sibuk dengan dzikir kepada Allah?


Kalau anda mengatakan "Ya". Anda harus yakin bisa karena sudah pernah ada yang menggapainya. Mohonlah pertolongan-Nya agar membimbing anda menempuh perjalanan panjang itu.


Ibrahim bin Adam adalah raja pengusa Balkh tempat Jalaluddin Rumi Lahir. Dulu masuk dalam kekaisaran Persia dan sekarang masuk dalam negara Afghanistan. 


Memang agak sulit menggabungkan antara ketinggian spiritual dengan banyaknya harta benda. Sama juga susahnya memadukan kedudukan tahta dengan banyaknya harta benda dengan ketinggian spiritual. Tapi dalam sejarah manusia, bersatunya kedua hal ini pernah terjadi. Sebagaimana saya tuliskan diatas. Nabi Sulaiman As yang seorang manusia terkaya di bumi ini dan seorang raja di zamannya pernah merasakan kesempurnaan spiritual dan kekayaan yang melimpah dan tahta ditangannya tapi sukses menjalani kehidupannya spiritualnya. Begitupun dengan ayahnya Nabi Daud As. Seorang raja yang hebat tapi juga memiliki ketinggian spiritual yang sempurna. Nabi Yusuf As juga orang yang berhasil mencapai keadaan ini. 


Di zaman sekarang ini juga pernah terjadi seorang manusia yang sempurna spiritual dengan tahta dan harta. Abdul Qadir ibn Muhyiddin kelahiran 6 September 1808 dan meninggal 26 Mei 1883. Banyak diantara kita yang tidak mengenal beliau. Nama yang terkenal diseluruh dunia adalah Abdul Qadir Al-Hassani Aljaza'iri atau Abdul Qadir Aljaza'iri. Beliau adalah seorang Amir di Aljaza'ir. Selain menjadi pemimpin tertinggi, beliau juga adalah seorang pemimpin agama dan pemimpin militer Aljazair yang memimpin perjuangan melawan invasi kolonial Prancis ke Aljaza'ir pada awal abad ke-19. Selain sebagai seorang cendekiawan Islam, beliau juga seorang sufi yang memimpin kampanye militer dan membangun kekuatan dengan menyatukan kelompok suku-suku di Aljazair yang selama bertahun-tahun berhasil bertahan melawan salah satu pasukan paling maju di Eropa, negara yang pernah dipimpin oleh Napoleon Bonaparte yaitu Prancis.


Ada juga seorang pemimpin revolusioner dari Negara Islam Iran yaitu Imam Khomeini. Dari Prancis dia mendeklarasi Revolusi Iran. Seorang pemimpin negara yang juga seorang pemimpin agama dan juga seorang sufi yang berhasil melakukan revolusi di Negara Islam Iran. Pemimpin politik, pemimpin militer, pemimpin spiritual dan juga seorang sufi ada dalam seorang Imam Rohullah Khomeini. 


Di negeri kita ada nama Bendara Raden Mas Mustahar atau yang lebih dikenal dengan nama Pangeran Diponegoro. Selain seorang pemimpin atau Raja Jawa waktu itu. Beliau juga seorang ulama dan juga seorang sufi. Pangeran Diponegoro juga seorang pejuang yang memimpin perlawanan terhadap Belanda selama bertahun-tahun. 


Orang-orang yang saya sebutkan diatas adalah orang yang telah berhasil memadukan antara ketinggian spiritual, kesuksesan di dunia dengan tahta dan kekayaan tapi tidak hidup hedonis seperti kebanyakan pemimpin sekarang ini. Hidup mereka sederhana walaupun mereka bisa hidup dengan harta benda yang melimpah.


Hiduplah dengan harta dan tahta tapi hatimu jangan pernah lalai dari Tuhanmu. Harta dan tahta ditanganmu tapi Allah dihatimu. Susah bin sulit..? Iya memang susah tapi kamu bisa karena bukan hanya sudah ada, tapi sudah banyak yang berhasil melakukannya.


Satu lagi contoh seorang pemimpin dengan harta yang melimpah tapi seorang sufi. Beliau adalah raja dan pemimpin militer dari Tanah Hindustan yaitu Abul Fath Jalaluddin Muhammad Akbar atau yang lebih dikenal dengan Jalaluddin Akbar. Ia merupakan Kaisar Mughal dan juga seorang sufi. Beliau berhasil sebagai seorang Kaisar di India dan juga seorang sufi dengan ketinggian spiritual. 


-----


Siapapun orang yang  membaca kisah Maulana Jalaluddin Rumi Al Balkh diatas, bisa berbeda interpretasi dalam menangkap makna yang tersirat dalam kisah ini. Semoga kita bisa menemukan hikmah terpendam dari kisah ini untuk jadi pelajaran hidup mengenal diri dan mengenal Sang Maha Ilmu, Allah SWT. Kalau ada perbedaan dalam melihat makna di balik kisah maka ingatlah selalu kisah gajah dalam gelap, kita hanya bisa meraba dan menerka binatang apa gajah itu, bukan melihatnya langsung.


Allahu A'lam Bissawab

Allahu A'lamu Wa Antum Laa Ta'lamun


*Hanya belajar berbagi. Aku berlindung kepada Allah SWT dari firman-Nya: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan🙏🏼


#kisahsufi #kisahhikmah #ceritasufi

#ceritahikmah

#hikmahteladan

#kisahteladan

#hikayatsufi

#hikayathikmah

#wisdomstory

#chikensoupformuslim


🙏🏼junsyam ininnawa🙏🏼

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 2)

Membaca Alam Pikiran Rumi(Bagian 12)

Maha Suci Allah Yang memperjalankan Hamba-Nya Isra' Mi'raj (Bagian 1)