Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 18)
Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 18)
Kawanan Semut dan Kaligrafi
18 Ramadhan 1446 H
Selasa Wage 18 Maret 2025
Menggali makna terpendam dalam kisah-kisah Maulana Jalaluddin Rumi dalam kitab Matsnawi Maknawi.
Oneday kawanan semut meninggalkan koloninya pada suatu pagi. Tidak seperti biasanya, mereka berbelok ke kiri alih-alih melanjutkan rute yang biasanya lurus ke depan. Tak lama kemudian semut-semut itu menyadari bahwa mereka berjalan di atas selembar kertas putih yang sedang ditulis seseorang. Saking takjub oleh keindahan tulisannya, seekor semut muda, yang tak dapat melihat jari pemegang pena, berpaling ke semut yang lebih tua dan berseru, "Lihat keindahan ini! Betapa menakjubkan corak-corak yang diciptakan oleh pena ini! Aku tidak pernah tahu bahwa corak bisa terlihat begitu mengagumkan!"
Si semut tua, yang sudah lebih banyak makan asam garam kehidupan, menjawab dengan penuh kesadaran: "Keindahan ini adalah hasil dari jemari yang memegang pena. Bukan pena yang menciptakan mahakarya ini, melainkan tangan."
"Kalian berdua salah!" sergah semut ketiga. "Keindahan ini adalah hasil kerja lengan. Lihat saja jemari yang kurus ceking itu. Bagaimana mungkin jemari itu bisa menciptakan mahakarya seperti ini?"
Sedikit demi sedikit ada lebih banyak semut yang bergabung dengan mereka, semuanya ingin menyampaikan pendapat masing-masing.
Pemimpin mereka, yang terkenal dengan kecerdasannya, akhirnya buka suara, "Jangan memercayai bahwa karya ini milik ranah material, karena semua materi akan lenyap seiring bertambahnya usia seperti mimpi. Benda material dimaksudkan untuk kehidupan fisik, sementara corak pada awalnya diciptakan dari ranah intelektual dan spiritual."
Tanpa sepengetahuan bahkan si pemimpin yang bijaksana, di luar ranah intelektual dan spiritual, pada akhirnya segala sesuatu akan terwujud dengan adanya kehendak Tuhan.
*****
Mungkin pesan yang ingin di sampaikan oleh Rumi Al Balkhi bahwa semua hasil karya yang di hasilkan oleh manusia itu adalah hasil dari ranah intelektual dan spiritual yang terwujud karena kehendak Tuhan dan izin dari-Nya.
Ada yang memaknai
لَا إِلَهَ إِلاَّ الله
Lailahaillallah
dengan mengatakan:
Tidak ada sesuatu yang wujud, yang wujud hanya Allah. Sesuatu yang lain itu ada, karena adanya Wujud Mutlak. Karena kehendak Wujud Mutlak inilah sehingga adanya Wujud makhluk. Karena adanya Sang Khalik maka makhluk itu ada. Semua yang terjadi kepada makhluk karena kehendak Sang Khalik.
Wujud Mutlak ini kadang di sebut ilmuwan dan filsuf sebagai Wajibul Wujud, Sesuatu Yang Agung, Sesuatu yang Wujud, Realitas Agung, Wujud Realitas, Realitas Nyata, The One, The Real One, Realitas transenden dan masih banyak istilah yang lainnya yang biasa kita temui di buku-buku para ilmuan.
Wujud Mutlak inilah yang sepanjang peradaban manusia di cari oleh para calon Nabi dan Rasul, Filosof, pertapa, biarawan, budayawan, ilmuwan dan semua pencari kebenaran yang pernah lahir ke dunia ini. Ada yang menemukan-Nya, ada yang katanya tidak menemukan-Nya. Ada yang ragu ketika menemukan-Nya, ada yang ragu akan keberadaan-Nya dan ada juga yang mengingkari keberadaan-Nya dengan mengatakan semua ini ada dengan sendirinya tanpa harus ada wujud yang menciptakannya.
Semua filosof klasik ternama seperti, Plato, Aristoteles, Descartes, Leibniz, Spinoza, Immanuel Kant, Hegel, Locke, dan Berkeley melihat bahwa alam semesta berasal dari suatu realitas yang transenden. Sebagian besar kajian yang serius tentang asal muasal dan hakikat semesta tampaknya bersepakat bahwa universe (alam semesta) bersumber pada sesuatu yang di luar dirinya, yang non fisik, memiliki inteligensi dan kekuasaan yang besar.
Masih ada yang meragukan keberadaan-Nya?
Menjadi perbincangan para ilmuwan, siapa yang menciptakan alam semesta ini, khususnya bumi yang kita tinggali sekarang ini? Apakah ada Sesuatu Yang Agung dibalik penciptaan ini? Ataukah alam semesta ini terbentuk dengan sendirinya?
Memang masih banyak ilmuwan zaman ini yang berteori bahwa alam semesta ini terbentuk dengan sendirinya. Mereka menafikan atau menolak adanya campur tangan Tuhan dibalik alam semesta ini.
Mungkin karena sebagian besar ilmuwan ini adalah orang-orang yang tidak mempercayai adanya Tuhan atau ateis. Bahkan ada anekdot diantara para ilmuwan ini ketika bertemu bagaimana para saintis bisa mengakui adanya Tuhan sedangkan semua kejadian semesta ini terjadi secara ilmiah dan bisa dipelajari, bagaimana mungkin Tuhan terlibat di dalam penciptaan ini. Walaupun mereka sadar ketika berpikir lebih dalam bahwa terlalu banyak keanehan, keajaiban dan sesuatu tidak masuk akal dalam penciptaan bumi dan semesta alam ini. ketika meyakini teori ini. Terlalu banyak keseimbangan dan keteraturan yang sulit dijelaskan dengan teori kebetulan dan terbentuk dengan sendirinya.
Teori yang paling banyak diyakini tentang pembentukan alam semesta adalah Teori Big Bang (Ledakan Besar). Teori ini dikemukakan oleh Georges Lemaitre. Teori ini menjelaskan alam semesta dimulai dari satu titik padat dan panas yang meledak, kemudian terus berekspansi/mengembang dengan sendirinya sehingga terjadilah bumi dan alam semesta yang kita tinggali ini. Dari ledakan inilah yang menyebar dan membentuk alam semesta.
Pertanyaan yang sulit untuk dijawab adalah bagaimana mungkin ada ledakan tapi bisa membentuk alam semesta yang sangat sempurna pengaturannya. Ini sulit untuk diterima oleh akal sehat ada sebuah ledakan yang teratur. Tapi itulah kesepakatan ilmuwan yang kita terima dengan terpaksa sebagai ilmu pengetahuan sekarang ini.
Sy mengingat kutipan yang terkenal dari seorang Albert Einstein yang dulu diajarkan oleh seorang guru saya di sekolah. Kutipan ini mengenai hubungan ilmu pengetahuan dan agama: "Science without religion is lame, religion without science is blind". Terjemahannya adalah "Ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh". Om Einstein ini bermakna sains butuh nilai moral agama agar terarah, dan agama butuh sains agar tidak dogmatis.
Betapa penting keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan agama. Einstein menekankan bahwa ilmu dan agama saling melengkapi, bukan saling bertentangan. Ilmu memberikan pengetahuan metodologis, sedangkan agama memberikan tujuan atau nilai dalam pengetahuan. Jika ilmu pengetahuan berkembang tanpa nilai moral dan nilai spiritual maka sains akan kehilangan arah kemanusiaannya. Begitupun sebaliknya, agama tanpa pemahaman rasional pengetahuan akan menjadi tertutup dan terhambat. Seperti bom atom di tangan seorang saintis yang tanpa agama yang mengajarkan nilai moral kemanusian.
_____
Siapapun orang yang membaca kisah Maulana Jalaluddin Rumi Al Balkh diatas, bisa berbeda interpretasi dalam menangkap makna yang tersirat dalam kisah ini. Semoga kita bisa menemukan hikmah terpendam dari kisah ini untuk jadi pelajaran hidup mengenal diri dan mengenal Sang Maha Ilmu, Allah SWT. Kalau ada perbedaan dalam melihat makna di balik kisah maka ingatlah selalu kisah gajah dalam gelap, kita hanya bisa meraba dan menerka binatang apa gajah itu, bukan melihatnya langsung.
Allahu A'lam Bissawab
Allahu A'lamu Wa Antum Laa Ta'lamun
*Hanya belajar berbagi. Aku berlindung kepada Allah SWT dari firman-Nya: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan🙏🏼
#kisahsufi #kisahhikmah #ceritasufi
#ceritahikmah
#hikmahteladan
#kisahteladan
#hikayatsufi
#hikayathikmah
#wisdomstory
#chikensoupformuslim
🙏🏼junsyam ininnawa🙏🏼

Komentar
Posting Komentar