Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 17)

 Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 17)


Kematian Bilal


17 Ramadhan 1446 H

Senin Pon 17 Maret 2025


Menggali makna terpendam dalam kisah-kisah Maulana Jalaluddin Rumi dalam kitab Matsnawi Maknawi.

Oneday dalam kehidupan dimasa tua Bilal bin Rabah sang Muazzin Nabi. Bilal adalah seorang budak dari Habashi yang di siksa tuannya karena telah memeluk agama Muhammad. Atas perintah Nabi dia di beli dari tuannya dan dimerdekakan.


Semua orang mengenal Bilal dan mengetahui betapa hebatnya dia, meski dia hanya seorang budak. Dia telah menjalani kehidupan penuh kejujuran dan melayani tuannya yang luar biasa dengan cinta serta rasa hormat yang sedemikian besar. Bilal menua sebelum waktunya, tapi dia tidak keberatan. Saat menjelang ajal, istrinya bisa melihat bahwa dirinya akan kehilangan Bilal tak lama lagi.


"Kekasihku, engkau meninggalkanku!" isak perempuan itu. "Kemalangan sedang mengetuk pintu rumah kita; celakalah kita!"


"Tidak, tidak, Istriku tersayang!" ujar Bilal lemah tetapi dengan penuh kasih. "Sekarang waktunya untuk merayakan dan bersukacita! Sampai sekarang, hidup ini penuh dengan kesedihan dan duka. Izinkan aku memberitahumu bahwa kematian sebenarnya adalah hidup itu sendiri!"


Ketika Bilal berbicara tentang kematian, wajahnya merekah bagai bunga segar, matanya berkilat-kilat oleh sukacita. Seseorang tidak dapat mendeteksi tanda-tanda penyakit atau kematian yang segera menantinya, tetapi berkah ini tak terlihat oleh istrinya, dan perempuan itu terus menangis dengan sedih.


"Waktu perpisahan segera tiba!" ratap istri Bilal.


"Tidak, Sayangku, justru waktu pertemuan sudah semakin dekat!"


"Engkau harus meninggalkan keluargamu malam ini dan memasuki hunian yang jauh dan asing."


"Malam ini, justru pada akhirnya aku akan meninggalkan tempat asing ini dan memasuki hunian abadiku yang berharga!" ucap Bilal saat dirinya bersiap-siap melakukan perjalanan terakhirnya.


Akankah aku bertemu lagi denganmu setelah malam ini?" rengek istrinya.


"Aku akan berada di antara hamba-hamba Tuhan yang dimuliakan! Jika engkau dapat menjaga pikiranmu tetap jernih dan menjaga hatimu tetap suci, melepaskan keterikatan pada dunia yang rendah ini, suatu hari kita akan bertemu lagi."


*****


Mati itu bisa jadi menyedihkan, membahagiakan dan menakutkan. Kesedihan bagi yang di tinggal mati dan kesedihan juga bagi orang yang mati karena sudah meninggalkan dunia yang menyenangkan hidupnya dan meninggalkan jasad yang selama ini dia tinggali. Bisa jadi kebahagiaan bagi yang di tinggalkan, kalau orang yang mati itu buruk perangainya dan kebahagian bagi sang jiwa yang sudah siap menyonsong kematiannya, yang rindu bertemu Tuhannya. Mati itu juga menakutkan bagi orang yang tidak cukup bekal menghadapi alam setelah kematian.


Ada yang mengatakan kematian adalah sesuatu yang menakutkan. Secara tiba-tiba kita berpindah alam menuju alam yang baru (barzakh). Kita sebenarnya masih ada di dunia tapi kita tidak punya kendali dan kuasa dengan jasad kita. Jasad hanya bisa di gerakkan orang lain tanpa kendali pemilik jasad. Kita ingin masuk kembali untuk menggerakkannya tapi kita tidak kuasa memasuki jasad itu karena "pengikat" antara jasad dan diri sejati kita (jiwa) sudah kembali kepada Allah SWT. Ruh yang mengikat kesatuan jasad dan diri sejati yang di Al Qur'an di sebut: " wa nafakhtu fihi min ruhi" sudah kembali kepada pemilik sejatinya Pencipta Semesta Alam.


Kenapa kematian itu menakutkan? Kenapa kematian itu di hindari? Sudah banyak cerita masa lalu tentang para penguasa yang mencoba mencari rahasia hidup abadi. Ada yang mencari air kehidupan agar hidup bisa awet muda dan abadi. Ada juga yang mencari tumbuhan tertentu yang khasiatnya membuat awet muda dan abadi. Ada yang menggunakan jin dan makhluk supranatural. Dan berbagai cara lainnya yang tujuannya bagaimana bisa hidup abadi.


Oneday seorang sahabat Ali bin Thalib bertanya kepadanya. Kenapa banyak orang yang takut akan kematian?

Di jawab oleh Amirul Mukminin. Itu karena orang-orang berlomba-lomba memperbaiki kehidupannya di dunia dengan merusak kehidupan akhiratnya. Tidak ada orang yang mau berpindah dari tempat yang baik ke tempat yang buruk.

Dari awal kehidupan manusia sampai sekarang ini kebanyakan manusia berlomba-lomba memperindah rumahnya, kendaraannya, tapi merusak rumah dan kendaraannya di akhirat kelak. Manusia berlomba mengisi rekening dan deposito di bank untuk kesejahteraannya dan 7 turunannya tapi lupa mengisi rekening akhiratnya dengan pahala dan amal shaleh bahkan rekening akhirat nya diisi dengan dosa. Padahal kehidupan sebenarnya yang abadi dan kekal itu di akhirat. Kata keren zaman now "dunia sementara akhirat selamanya".


Kematian harusnya disambut dengan kebahagiaan karena dengan cara itulah hamba bisa menemui Sang Khalik. Lewat pintu kematian, manusia berpindah dari dunia yang fana ini menuju alam barzakh yang penuh kebahagiaan. 


Bilal bahagia menyongsong kematiannya karena dia sudah menyiapkan bekal yang cukup untuk melanjutkan di alam berikutnya. Bilal bahagia karena sudah menjalani 'mati sebelum mati - Die before death'.


Siapa yang mau mati lebih dulu? Silahkan duluan! saya nanti belakangan saja, karena saya belum siap dan belum cukup bekal menuju alam berikutnya🙏🏼

Saya menutup tulisan ini dengan pesan Imam Ali bin Abi Thalib Kw pernah berkata:


الناس نيام فإذا ماتوا انتبهوا.


Annasu niyamun faiza matuw intabahuw.


Manusia itu tertidur dan ketika dia mati barulah terbangun dari tidurnya.


Kehidupan sebenarnya nanti ketika kematian menjemput dan jiwa kita melanjutkan perjalanan dialam barzakh untuk menunggu kedatangan kiamat dan kita akan pindah ke alam akhirat.


Persiapkan dirimu untuk mati!

___

Siapapun orang yang membaca kisah Maulana Jalaluddin Rumi Al Balkh diatas, bisa berbeda interpretasi dalam menangkap makna yang tersirat dalam kisah ini. Semoga kita bisa menemukan hikmah terpendam dari kisah ini untuk jadi pelajaran hidup mengenal diri dan mengenal Sang Maha Ilmu, Allah SWT. Kalau ada perbedaan dalam melihat makna di balik kisah maka ingatlah selalu kisah gajah dalam gelap, kita hanya bisa meraba dan menerka binatang apa gajah itu, bukan melihatnya langsung.


Allahu A'lam Bissawab

Allahu A'lamu Wa Antum Laa Ta'lamun


*Hanya belajar berbagi. Aku berlindung kepada Allah SWT dari firman-Nya: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan🙏🏼


#kisahsufi #kisahhikmah #ceritasufi

#ceritahikmah

#hikmahteladan

#kisahteladan

#hikayatsufi

#hikayathikmah

#wisdomstory

#chikensoupformuslim


🙏🏼junsyam ininnawa🙏🏼

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 2)

Membaca Alam Pikiran Rumi(Bagian 12)

Maha Suci Allah Yang memperjalankan Hamba-Nya Isra' Mi'raj (Bagian 1)