Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 16)

 Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 16)


Hanya Mendoakan Para Pendosa


16 Ramadhan 1446 H

Ahad Pahing 16 Maret 2025


Menggali makna terpendam dalam kisah-kisah Maulana Jalaluddin Rumi dalam kitab Matsnawi Maknawi.

Oneday di sebuah kota terpencil di Persia, hiduplah seorang lelaki suci baik hati yang dihormati dan dipuja oleh semua orang. Namun ada satu masalah dengan dirinya! Dia hanya mendoakan para penjahat, pembunuh, dal para pendosa lainnya. 


Berikut ini permohonannya:


Wahai Tuhan Maha Pemurah


Aku memohon kepada-Mu agar tidak pernah berhenti melimpahkan belas kasih-Mu yang tak terhingga kepada orang-orang berdosa yang malang di dunia ini!


Dalam ceramahnya, dia hampir tidak pernah menyebut-nyebut kebaikan orang-orang yang dikenal karena tindakan kedermawanan mereka dan telah membantu kaum miskin sepanjang hidup mereka. Suatu hari, sekelompok orang yang rutin menghadiri ceramahnya mulai mencelanya, berkata bahwa caranya berdoa sungguh tidak biasa dan tidak dihargai oleh kebanyakan yang hadir. Si penceramah menanggapi keluhan mereka dengan ucapan sederhana ini:


"Sepanjang hidupku, aku secara tidak sengaja telah menerima banyak berkah atas kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang bengal ini. Hanya dari jahatnya tindakan mereka, mereka telah menunjukkan kepadaku mana yang benar dan yang salah. Setiap kali aku mengalihkan perhatian pada urusan duniawi, aku menyaksikan kekejaman mereka yang luar biasa; jadi aku mencari perlindungan kepada Pencipta kita. Sebagai gantinya, tindakan jahat mereka membimbingku menuju kebaikan yang lebih besar. Sangat penting bagiku untuk mendoakan keselamatan mereka!"


Orang-orang senantiasa mengeluh kepada Tuhan tentang penderitaan dan ketidakadilan yang mereka alami dalam hidup. Sementara itu, Tuhan selalu berfirman kepada para hamba yang meratap bahwa penderitaan yang sama itulah yang pada akhirnya akan membaqa mereka ke pintu-Nya. Teman-teman kita sesungguhnya adalah musuh terburuk kita, karena mereka menjauhkan kita dari sisi-Nya dan mengganggu kita dengan hal-hal kecil dari urusan pribadi mereka sendiri. Sungguh, setiap musuh dapat menjadi obat bagi kita, karena untuk menghindarinya kita harus mencari bantuan dari Dia yang telah menciptakan kita semua.


*****


Terkadang tindakan dan perbuatan seorang sufi dari pandangan orang-orang dilingkungan tempat dia tinggal agak nyeleneh dan tidak masuk akal. Tingkah laku seorang sufi keluar dari kebiasaan orang-orang disekitarnya. Alasannya mungkin karena sufi itu tidak boleh mengeluh dan berusaha menjalani hidup ini seperti air mengalir.


Filosofi hidup air itu selalu mengalir. Kalau ada yang menghambat alirannya maka akan berbelok dan mencari jalan lain untuk sampai ke sungai menuju laut tempat asal dan tujuan akhir perjalanannya. Kalau air itu di bendung maka air itu akan bersabar tinggal sementara di sana dan memberi manfaat kepada manusia  dengan tempat hidup ikan dan akan melanjutkan perjalanan lewat uap air menuju langit untuk jadi air hujan atau bisa dengan kekuatan air memutar turbin listrik untuk keluar ke sungai dan akhirnya ke laut.


Dimana saja sang sufi air berada selalu bersyukur dan bersabar. Dan yang lebih penting selalu berbaik sangka kepada Allah SWT dengan kehidupan yang dia jalani dan berprasangka baik dengan orang-orang di sekitarnya.


Kisah dari Maulana Rumi ini menyindir kita semua yang sering egois dalam berdoa. Kecenderungan kita hanya mendoakan orang yang kita kenal, orang terdekat, orang dermawan, orang yang berjasa buat kita, orang yang baik. Intinya semua orang yang pantas didoakan menurut kita. 


Coba kita perhatikan terutama di masjid-masjid. Kita hanya mendoakan orang-orang dermawan yang telah berkontribusi lewat sumbangan ke masjid. Masjid di kampung saya setiap Bulan Ramadhan dan mimbar-mimbar Jumat selalu mendoakan almarhum-almarhumah yang keluarganya menyumbangkan sejumlah uang ke masjid atas nama yang sudah meninggal. 


Tersirat pesan dalam kisah yang ditulis Rumi Al-Balkhi ini dalam Matsnawi Manawi yang menyindir kita yang hanya mendoakan orang-orang yang baik saja.


Pernahkah kita mendoakan orang-orang yang berlumuran dosa di sekitar kita?


Pernahkah kita melisankan nama-nama orang yang selalu bermaksiat kepada Allah SWT, melanggar larangan-larangan-Nya, menzalimi dirinya sendiri? 


Pernahkah kita berdoa untuk orang-orang yang malang atau tertimpa musibah di belahan dunia manapun ia berada?


Atau yang lebih extrimnya lagi, pernahkah mendoakan para wanita yang menjajakan tubuhnya kepada lelaki hidung belang untuk mencari rezeki, yang konon katanya banyak juga diantara mereka yang tidak senang bahkan sebenarnya tidak mau dengan pekerjaan 'menjual' tubuh itu. Mereka cuma tidak bisa mencari pekerjaan yang layak karena susahnya mencari pekerjaan dan tidak punya keahlian dan modal kalau mau membuka usaha?


Pernahkah kita memdoakan tetangga dan sanak famili yang masih hidup dengan minuman keras, mencuri, sabung ayam dan berbagai macam keburukan lainnya. Semoga Allah SWT memberikan hidayah dan menunjuki jalan yang lurus kepada mereka semua?


Atau mungkin mendoakan para pencuri uang rakyat atau bahasa halus yang sering kita dengar dengan istilah 'koruptor', agar para maling uang rakyat itu segera bertaubat dan mengembalikan uang rakyat yang dia curi? 


Kebanyakan dari kita mungkin tidak akan sudi mendoakan para pendosa yang setiap hari kerjanya hanya melakukan kejahatan dan kezaliman di sekitar kita. Bahkan mungkin ada diantara kita malah mendoakan yang buruk dengan melaknatnya  dan berbagai macam hinaan cacian dan permohonan yang buruk dalam doa kita. Bahkan mendoakannya agar orang itu kekal di neraka karena keburukannya.


Semoga kisah ini bisa merubah pandangan kita tentang para pendosa disekitar kita. Mereka butuh doa kita yang dengannya Allah SWT menganugrahinya dengan ampunan dan kasih sayang-Nya agar menemukan kebenaran bukan laknat dan hinaan yang bisa membuatnya makin terpuruk dalam lembah dosa.


Saya mau menutup artikel ini dengan sebuah kisah. Oneday di tepian Sungai Tigris, Ma'ruf Al-Karkhi sedang berjalan bersama murid-muridnya di tepi sungai Tigris. Sambil berjalan mereka bertemu dengan sekelompok pemuda sedang mabuk-mabukan, berpesta, bernyanyi, dan bertingkah laku tidak pantas dipinggiran sungai. 


Melihat kejadian itu membuat murid-murid Ma'ruf Al-Karkhi merasa muak dan merasa marah melihat perilaku para pemuda tersebut yang memperlihatkan keburukan di depan mereka. Salah seorang diantara murid itu memberanikan diri meminta guru mereka untuk mendoakan yang buruk kepada para pemuda itu: "Wahai Guru, berdoalah kepada Allah SWT agar menghancurkan atau menenggelamkan mereka karena perbuatan maksiat mereka". 


Bukannya mendoakan yang buruk agar perbuatan mereka di balas dengan kehancuran. Sang Arif Ma'ruf Al-Karkhi justru mengangkat tangan dan berdoa:


"Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memberikan mereka kebahagiaan di dunia ini, berikanlah juga mereka kebahagiaan di akhirat kelak."


Mendengar doa yang dipanjatkan oleh gurunya untuk pemuda itu dan juga telah diaminkan oleh mereka. Murid-muridnya merasa heran dan tidak memahami doa yang dipanjatkan oleh gurunya tersebut.


Ma'ruf Al-Karkhi kemudian berkata kepada muridnya yang merasa aneh dengan do'anya: "Dia yang memintaku berdoa, tahu rahasia doa ini."


Tidak lama kemudian, remaja-remaja tersebut melihat Ma'ruf al-Karkhi mendekati mereka. Melihat Sang Sufi mendekat, mereka gemetar dan menyadari kesalahan yang telah mereka lakukan. Mereka membuang alat musik dan minuman mereka segera dan mendatangi Ma'ruf Al-Karkhi untuk dibimbing bertobat.


Kisah ini mengajarkan tentang kasih sayang seorang guru sufi dalam merangkul umat. Sang guru mengajarkan berdakwah dilakukan dengan mendoakan kebaikan dan petunjuk, bukan kehancuran. Berdakwah dengan kasih justru lebih efektif menyentuh hati manusia yang bersalah dari pada dengan cercaan dan hinaan.

_____


Siapapun orang yang  membaca kisah Maulana Jalaluddin Rumi Al Balkh diatas, bisa berbeda interpretasi dalam menangkap makna yang tersirat dalam kisah ini. Semoga kita bisa menemukan hikmah terpendam dari kisah ini untuk jadi pelajaran hidup mengenal diri dan mengenal Sang Maha Ilmu, Allah SWT. Kalau ada perbedaan dalam melihat makna di balik kisah maka ingatlah selalu kisah gajah dalam gelap, kita hanya bisa meraba dan menerka binatang apa gajah itu, bukan melihatnya langsung.


Allahu A'lam Bissawab

Allahu A'lamu Wa Antum Laa Ta'lamun


*Hanya belajar berbagi. Aku berlindung kepada Allah SWT dari firman-Nya: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan🙏🏼


#kisahsufi #kisahhikmah #ceritasufi

#ceritahikmah

#hikmahteladan

#kisahteladan

#hikayatsufi

#hikayathikmah

#wisdomstory

#chikensoupformuslim

*foto diambil dari pngtree

🙏🏼junsyam ininnawa🙏🏼

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 2)

Membaca Alam Pikiran Rumi(Bagian 12)

Maha Suci Allah Yang memperjalankan Hamba-Nya Isra' Mi'raj (Bagian 1)