Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 13)
Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 13)
Surat Cinta
13 Ramadhan 1446 H
Kamis Wage 13 Maret 2025
Menggali makna terpendam dalam kisah-kisah Maulana Jalaluddin Rumi dalam kitab Matsnawi Maknawi.
Oneday sepasang kekasih muda yang saling jatuh cinta telah berpisah selama lebih dari setahun. Si pemuda sangat menderita dan menulis banyak surat panjang yang menyentuh hati kepada kekasihnya, mengeluh tentang kesedihan yang melanda hati dan pikirannya. Suatu pagi dia pergi ke taman yang hijau di dekat rumah gadis itu. Mujur tak dapat ditolak, gadis itu juga berada di sana. Tanpa keraguan sedikit pun, si pemuda segera mendekati kekasihnya, menyadari bahwa pengasuh tua gadis yang biasa menemaninya tidak ada.
Senang karena setelah sekian lama akhirnya bisa duduk di samping gadis itu dan mengunci tatapan lembutnya, si pemuda mengeluarkan salinan surat cinta yang dibawanya ke mana-mana setiap saat, dan mulai membacanya keras-keras. Dia tuturkan berulang kali betapa menderita dirinya siang dan malam, betapa bibirnya tidak menyentuh sepotong pun makanan, betapa airmata membasahi matanya setiap hari. Gadis itu membutuhkan beberapa menit untuk menenangkan diri dan menyadari apa yang sedang dilakukan kekasihnya.
"Bila kau sudah menulis semua kata ini kepadaku, mengapa engkau mengulanginya lagi dan membuang- -buang waktu kecil kita yang berharga bersama?" kata si gadis dengan nada pedih. "Aku duduk di sini di sebelahmu, dan kau malah membacakan surat cinta untukku? Ini bukanlah perilaku seseorang yang sedang jatuh cinta.
Terperanjat, si pemuda menjawab dengan nada tidak percaya: "Sepertinya aku tidak mengenali gadis serupa yang kukenal tahun lalu! Aku mereguk dari mata airnya yang segar setahun silam dan membasuh mata serta hatiku dalam air sebening kristal. Aku masih bisa melihat mata air, tapi tidak ada air! Apakah mungkin ada pencuri yang telah mengubah aliran sungainya?"
"Aku bukan orang yang engkau cintai, Sayangku!" seru gadis itu sedih. "Aku milik satu sisi dunia dan kau milik sisi lain. Yang kaucintai adalah perasaan jatuh cinta, bukan aku! Kau mengikatkan diri denganku dengan harapan dapat mengalami perasaan itu sekali lagi. Ini bukanlah cinta sejati. Pecinta sejati akan menjadi satu dengan kekasihnya; awal dan akhirnya terkandung dalam awal dan akhir sang kekasih. Mereka satu kesatuan. Jika engkau benar-benar mencari cinta yang murni, teruslah mencari, karena hanya itulah air yang akan memuaskan dahagamu seumur hidup. Itulah mata air kemurnian asli yang dicari oleh jiwamu, bukan aku!"
Si gadis pun berdiri, memandangi wajah tertegun pemuda itu untuk terakhir kalinya, lalu berjalan pergi dengan tenang.
*****
Setelah membaca berkali-kali kisah ini, saya masih berpikir yang dalam tentang pesan dari kisah Surat Cinta ini. Entah apa yang mau di sampaikan Maulana Rumi Al Balkhi dalam kisah ini? Saya seperti mengerti tentang maksud kisah ini tapi sulit untuk menemukan makna yang mau disampaikan Maulana Rumi lewat kisahnya? Entah apa yang hendak disindir Maulana Rumi dengan kehidupan cinta kita dalam kisahnya?
Mungkin Rumi Al Balkhi ingin menyindir orang-orang yang mengaku mencintai Tuhan tapi tidak ada usaha untuk mendekati-Nya, mengenali-Nya. Atau mungkin juga ingin menyindir para darwis/salik/irfan yang mengaku pecinta Tuhan tapi malah puas dengan perasaan "jatuh cinta", tanpa usaha untuk membersihkan diri dengan benar.
Atau bisa jadi, mungkin Maulana Rumi menyindir orang-orang yang mencari makna hidup atau gejolak dalam batinnya mencari jati diri tapi mengabaikannya dan sibuk dengan pekerjaannya. Seseorang yang di dalam pikirannya, didalam hatinya berkecamuk pencarian cinta sejati, pencarian hakikat kehidupan, pencarian makna kehidupan, pencarian tujuan hidup.
Begitu banyak orang yang mengaku cinta kepada Allah SWT, tapi apa yang terjadi? Cinta itu hanya di mulut saja tapi tidak sampai kehatinya. Tidak ada usahanya untuk menggapai cinta itu apalagi usaha untuk merasakan cinta itu.
Kalau ada orang ditanya, apakah kamu mencintai Allah SWT?
Kebanyakan kita akan menjawab, ya iyalah saya cinta kepada Allah SWT, cinta kepada Baginda Nabi SAW!
Tapi apa yang terjadi?
Katanya cinta tapi setiap hari Malaikat Atib Sang Pencatat di sebelah kirinya sibuk mencatat begitu banyak dosa-dosa kita, maksiat kita, kezaliman kita. Tak terhitung dosa lahir yang kita perbuat, tak terhitung dosa batin yang di produksi didalam hati. Dosa mata, dosa hati, dosa pikiran, dosa kaki, dosa tangan, dosa telinga, dosa lidah, dosa tangan, dan dizaman digital ini dosa tangan kita makin bertambah banyak yang dilakukan oleh jempol dan telunjuk. Belum lagi dosa digital, dosa medsos dan banyak lagi dosa-dosa yang malaikat laporkan kepala Allah SWT yang katanya kita cintai ini.
Bagaimana mungkin ada dosa yang mengingkari yang dicintainya?
Bagaimana ada cinta yang 'menyakiti' yang dicintainya?
Ini cinta yang harus di renungi. Bagaimana mencintai-Nya sesuai dengan keinginan-Nya bukan keinginan kita.
Mungkin kita harus belajar kepada para sufi yang pernah mengarungi samudra cinta ini. Mungkin kita harus masuk ke dunia tasawuf yang banyak di takuti atau enggan di pelajari oleh banyak orang. Karena para sufilah yang bisa menjelaskan apa cinta itu? Bukan sekedar teori cinta.
Ingat... Ingat... Ingat...
Cinta itu bukan karena, tapi cinta itu walaupun!
Walaupun banyak ujian yang datang, seorang Sufi tetap men-Cinta-i Sang Pemilik Cinta.!
Dalam Al-Qur'an Allah mengingatkan dengan firmannya yang mengingatkan kita semua tentang semua akan dipertanggung jawabkan di yaumil akhir.
Dalam Surah Al-Isra' Ayat 36:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا
"Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya." (QS. Al-Isra: 36)
Dalam Surah Yasin Ayat 65:
اَلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلٰٓى اَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَآ اَيْدِيْهِمْ وَتَشْهَدُ اَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
"Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan." (QS. Yasin: 65).
Saya tidak akan menjelaskan ayat ini. Karena Al-Qur'an itu sudah dipermudah bahasanya untuk dipahami oleh manusia kata Allah SWT dalam salah satu ayatnya.
_____
Saya, anda dan siapapun membaca kisah Maulana Rumi diatas bisa berbeda interpretasi dalam menangkap makna yang tersirat dalam kisah ini. Semoga kita bisa menemukan hikmah terpendam dari kisah ini untuk jadi pelajaran hidup mengenal diri dan mengenal Sang Maha Ilmu, Allah SWT. Kalau ada perbedaan dalam melihat makna di balik kisah maka ingatlah selalu kisah gajah dalam gelap, kita hanya bisa meraba dan menerka binatang apa gajah itu, bukan melihatnya langsung.
Allahu A'lam Bissawab
Allahu A'lamu Wa Antum Laa Ta'lamun
*Hanya belajar berbagi. Aku berlindung kepada Allah SWT dari firman-Nya: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan🙏🏼
#kisahsufi #kisahhikmah #ceritasufi
#ceritahikmah
#hikmahteladan
#kisahteladan
#hikayatsufi
#hikayathikmah
#wisdomstory
#chikensoupformuslim
🙏🏼junsyam ininnawa🙏🏼

Komentar
Posting Komentar