Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 11)

 Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 11)


Persahabatan dengan Seekor Beruang


11 Ramadhan 1446 H

Selasa Pahing 11 Maret 2025


Menggali makna terpendam dalam kisah-kisah Maulana Jalaluddin Rumi dalam kitab Matsnawi Maknawi.

Oneday seekor beruang coklat besar merajalela di pegunungan bagian utara Persia. Mereka berkeliaran di wilayah yang luas itu dan hampir tak pernah harus mempertahankan diri dari pemangsa. Namun ada satu makhluk luar biasa yang meski tidak pernah dilihat penduduk setempat, dapat dengan mudah membunuh dan memangsa beruang. Makhluk itu adalah naga.


Seorang pemburu dari bagian tengah negeri itu pergi ke pegunungan di utara untuk mencari buruan, tetapi dia tidak tahu apa-apa tentang sang naga legendaris. Saat mendirikan tenda dan menyiapkan api untuk menghangatkan dirinya semalaman, si pemburu menyenandungkan melodi favoritnya, bersemangat dengan perburuan pagi yang sudah direncanakannya. Tiba-tiba dia mendengar jeritan binatang buas yang tersiksa dan raungan tajam dari makhluk lain yang tak pernah dia dengar sebelumnya. Keingintahuannya muncul, kemudian si pemburu segera mengambil busur dan anak panahnya.


Dengan cepat tapi berhati-hati, dia mendekati tempat pertarungan.


Tepat di hadapannya, sang naga memancarkan api dari mulut dan mengernyingkan giginya yang besar dan tajam ke arah seekor beruang. Beruang itu berdiri dengan kaki belakangnya, bersiap menghadapi pertarungan. Si pemburu tidak membuang waktu, membidik langsung di antara mata naga itu dan menembaknya. Si naga terjatuh diiringi bunyi menggelegar dari mulutnya.


Beruang tertegun melihat pemandangan itu dengan tidak percaya. Dia berpaling ke arah si pemburu dan menatapnya selama beberapa saat sebelum menurunkan diri ke posisi merangkak dan perlahan mendekatinya.


Awalnya pemburu khawatir beruang akan menyerangnya, tetapi ketakutannya mereda saat hewan besar itu duduk di depan kaki penyelamatnya, menyandarkan kepala pada cakar. Pemburu menduga hewan itu menunjukkan rasa terima kasih dengan caranya sendiri, dan dia pun merasa lega. Saat dia berbalik untuk berjalan kembali ke tenda, si beruang bangkit dan diam-diam mulai mengikutinya.


Sejak hari itu, beruang tidak pernah meninggalkan si pemburu, dan pemburu perlahan-lahan terbiasa dengan kehadirannya. Keduanya menjalin persahabatan yang ganjil, mengejutkan semua orang yang melihat mereka bersama. Orang-orang sering memperingatkan si pemburu bahwa berteman dengan binatang tak berakal itu berbahaya, bahkan lebih buruk daripada berteman dengan musuh manusia. Tetapi si pemburu tidak pernah mengindahkan nasihat mereka, meyakini bahwa orang-orang yang memberi nasihat itu cemburu atas persahabatannya dengan si beruang gagah. Segera saja, orang-orang berhenti memberinya nasihat, membiarkan pemburu itu melakukan apa pun sesuka hatinya.


Pada suatu pagi yang cerah, si pemburu memutuskan untuk memanfaatkan cuaca yang baik dan pergi berburu. Kedua sahabat itu melintasi jalan gunung untuk mencari mangsa, tetapi mereka sedang tidak beruntung sehingga tidak mendapat apa-apa setelah berjam-jam mengejar tanpa tujuan. Akhirnya si pemburu kelelahan dan memutuskan untuk tidur sebentar di bawah naungan pohon. Si beruang telah belajar untuk duduk dengan patuh di sisinya dan menjaga sang sahabat serta busur dan anak panahnya sampai dia bangun.


Selagi si pemburu tidur nyenyak, memimpikan hari-hari musim panas yang indah. Seekor lalat mulai berputar-putar di atas kepala, mendengung dengan berisik. Si pemburu berusaha menepis lalat itu, tidur bergulak-gulik dengan gelisah, tetapi lalat itu tidak mau menyerah. Beruang, yang tujuan hidupnya kini hanyalah menjaga sang tuan, juga tidak berhasil mengusir si lalat, sehingga dia menjadi frustrasi dan tidak sabar. Dengung lalat tak kunjung mereda, membuat kekesalan beruang semakin menjadi-jadi. Dalam satu gerakan kuat, si beruang akhirnya mengambil batu terdekat yang bisa dia pegang dengan kaki depannya dan, ketika lalat mendarat di dahi pemburu, dihantamkannya batu itu ke arah si serangga, meremukkan tengkorak pemburu bersama dengan si lalat dalam satu gerakan cepat.



Rumi dalam kisahnya kali ini menitipkan pesan kepada pembacanya. Berhati-hatilah berteman dengan orang yang tidak berakal atau pikirannya pendek (milenial biasa juga mengistilahkan Sumbu Pendek). Terkadang niatnya bagus tapi caranya yang salah sehingga mengorbangkan temannya atau orang lain. Terkadang juga kurang memaksimalkan akalnya jadi teledor sehingga menjerumuskan orang lain. Waspadalah...! Waspadalah...!


Terkait hal ini Sayyidina Ali pernah memberi nasihat. "Jangan engkau bersahabat dengan orang yang jahil atau bodoh, jauhi dia. Berapa banyak orang yang jahil yang telah membinasakan orang alim ketika ia bersahabat dengannya."


Bila ingin mencari teman yang bisa saling tolong menolong dalam hidup ini, maka perlu memperhatikan lima syarat ini menurut Imam Al Ghazali, diantaranya: 


Orang yang berakal. Sebab tidak ada kebaikan bersahabat dengan orang yang bodoh, karena akibatnya akan membawa pada permusuhan dan menyakiti hati.


Orang yang baik akhlaknya. Maka jangan bersahabat dengan orang yang jahat, yaitu orang yang tidak dapat mengontrol dirinya ketika marah dan tidak dapat mengontrol dirinya ketika dirangsang nafsu syahwatnya.


Orang yang shaleh. Maka jangan bersahabat dengan orang yang fasik, yakni orang yang selalu mengerjakan dosa besar. Orang fasik adalah orang yang tidak takut pada Allah SWT, sehingga ia tidak dapat dipercaya sepenuhnya. Bahkan pendiriannya tidak tetap, selalu berubah-ubah mengikuti keadaan dan tekanan.


Jangan bersahabat dengan orang yang tamak dunia. Orang yang tamak dunia adalah racun yang dapat membunuh. Bila sering duduk bersama orang yang tamak dunia akan membuat kita semakin bertambah tamak pada dunia. Sebaliknya, sering duduk bersama orang yang zuhud akan menambah zuhud kita.


Orang yang benar. Maka jangan bersahabat dengan pendusta. Kemungkinan besar ia akan menipu kita.

______


Saya, anda dan siapapun membaca kisah Maulana Rumi diatas bisa berbeda interpretasi dalam menangkap makna yang tersirat dalam kisah ini. Semoga kita bisa menemukan hikmah terpendam dari kisah ini untuk jadi pelajaran hidup mengenal diri dan mengenal Sang Maha Ilmu, Allah SWT. Kalau ada perbedaan dalam melihat makna di balik kisah maka ingatlah selalu kisah gajah dalam gelap, kita hanya bisa meraba dan menerka binatang apa gajah itu, bukan melihatnya langsung.


Allahu A'lam Bissawab

Allahu A'lamu Wa Antum Laa Ta'lamun


*Hanya belajar berbagi. Aku berlindung kepada Allah SWT dari firman-Nya: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan🙏🏼


#kisahsufi #kisahhikmah #ceritasufi

#ceritahikmah

#hikmahteladan

#kisahteladan

#hikayatsufi

#hikayathikmah

#wisdomstory

#chikensoupformuslim


*foto dari Ruaridh Connelian


🙏🏼junsyam ininnawa🙏🏼

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 2)

Membaca Alam Pikiran Rumi(Bagian 12)

Maha Suci Allah Yang memperjalankan Hamba-Nya Isra' Mi'raj (Bagian 1)