Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 10)

 Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 10)


Musa dan Gembala


10 Ramadhan 1446 H

Senin Legi 10 Maret 2025


Menggali makna terpendam dalam kisah-kisah Maulana Jalaluddin Rumi dalam kitab Matsnawi Maknawi.

Oneday ketika matahari hampir terbenam, dan panasnya hari sudah mereda. Seorang gembala mengumpulkan kawanan kambingnya untuk kembali pulang. Angin sepoi-sepoi mulai bertiup, membuat pikiran tentang malam yang akan datang terasa semakin nikmat. Dalam suasana hati yang baik, si gembala memuji Tuhan yang dikasihinya, tidak menyadari bahwa Nabi Musa berada dalam jangkauan pendengaran:


"Di manakah Engkau, Kekasihku yang Maha Esa, sehingga aku dapat terus melayani-Mu, memperbaiki sepatu-Mu saat koyak, menyisir rambut-Mu saat tidak rapi, mencuci pakaian-Mu saat kotor, dan mengambil kutu dari rambut-Mu yang acak-acakan? Kekasihku yang Maha Agung, aku berjanji akan selalu mencium tangan-Mu dengan penuh hormat, membawakan-Mu susu segar setiap hari, dan memijit kaki-Mu yang lelah ketika terasa pegal. Saat waktunya tidur, aku akan merapikan tempat tidur-Mu dan membersihkan kamar-Mu. Hidupku milik-Mu untuk diperlakukan sesuai keinginan-Mu; kambing- -kambingku, seluruh mata pencaharianku, semua adalah milik-Mu, karena Engkau adalah sang Maha Cinta."


Dengan sabar, Musa mendengarkan litani sesat si gembala sampai akhirnya dia terdiam. Dia pun melangkah maju dan bertanya kepada gembala sederhana itu dengan penuh wibawa: "Dengan siapa kau berbicara?"


Dia yang telah menciptakan engkau dan aku, Dia yang menciptakan bumi dan langit," si gembala menjawab polos, tidak mengenali Nabi Musa As.


Musa tidak bisa menahan amarahnya lebih lama lagi dan berseru dengan ngeri: "Kau orang yang menyedihkan, menyedihkan! Omong kosong macam apa yang kau lontarkan itu? Aku Musa, nabimu, dan aku menyuruhmu untuk menutup mulutmu yang menghina saat ini juga. Sang Pencipta tidak memiliki anggota tubuh fisik duniawi. sepatu adalah untuk orang yang membutuhkannya, susu adalah untuk orang yang masih bertumbuh! Pujianmu tidak masuk akal, jadi hentikan saja sebelum hidupmu dikutuk selamanya!"


Terkejut dan malu, si gembala terkesiap: "Oh, Musa, engkau telah menjahit bibirku! Aku bertobat dan berharap hidupku dapat dibakar dalam api kekal saat ini juga!"


Kemudian dia berdiri, mengoyak bajunya, melemparkannya ke angin, dan terisak putus asa ke padang gurun. Segera setelah pertemuan ini, Musa dilanda kantuk yang teramat sangat, membuatnya terlelap, dan akhirnya mendapat wahyu dalam tidurnya: "Musa, apa yang telah kau perbuat?" Musa langsung mengenali suara Tuhan yang tak terbantahkan. "Kau telah mengasingkan hambaku yang setia dariku! Apakah aku mengutusmu sebagai nabi untuk mempersatukanku dengan orang-orangku atau untuk memisahkanku dari mereka? Aku mengizinkan semua orang memiliki cara mereka sendiri dalam beribadah, memiliki bentuk ekspresi mereka sendiri. Aku tidak membutuhkan doa mereka, tetapi mereka membutuhkannya. Apa yang tampak seperti racun bagimu bisa menjadi madu bagi orang lain. Aku tidak memandang apa yang hambaku katakan secara lahiriah, aku hanya melihat apa yang ada di dalam hati mereka. Aku ingin melihat cinta yang membara! Jadi nyalakanlah api cinta dalam jiwamu dan buanglah pikiran menyusahkanmu itu untuk selamanya!"


Mendengar firman Tuhan, pusaka hikmah-Nya tertanam ke dalam jiwa Musa, sehingga membuka matanya terhadap rahasia yang tak dia ketahui sebelumnya dan meyakinkannya untuk selalu melihat dengan melampaui hal-hal yang dangkal. Beberapa saat kemudian, dia menuju padang gurun untuk mengikuti jejak si gembala, merasa tersiksa atas kata-katanya yang kasar kepada lelaki malang itu.


Tak lama kemudian Musa menemukan jejak si gembala, karena jejaknya sangat berbeda dari orang biasa. Di tempat-tempat tertentu si gembala menyeret kaki, dan segera setelah itu dia berjalan terpincang-pincang, lalu melangkah ke samping dan berjalan mundur, bahkan kadang merangkak, semua menunjukkan keadaan pikirannya yang kacau. Akhirnya Musa melihat si gembala di kejauhan dan dengan hati-hati mendekatinya, berbicara dengan lembut:


"Wahai gembala yang terkasih, kau telah diberkati oleh Tuhan Yang Maha Kuasa sendiri! Dia menegurku karena berbicara kepadamu dengan begitu kasar. Dia ingin engkau berdoa dengan cara apa pun yang kau suka. Bahkan Tuhan memuja kata-kata sederhanamu yang datang langsung dari hatimu. Kau dapat melanjutkan doamu dengan cara yang sama, dan Tuhan ingin engkau tahu bahwa Dia benar-benar puas terhadapmu."


Si gembala mengangkat wajah ke arah Musa. Dia bukan orang yang sama lagi, matanya bukan milik dunia ini, dan suaranya naik dari kedalaman.


"Musa, aku telah melampaui kata-katamu yang hampa jiwaku dipenuhi kegilaan. Aku telah melakukan perjalanan melintasi bumi dan langit, seribu tahun setelahnya. Kau menjatuhkan cambukmu terhadap keberadaanku,  melemparkanku ke dunia di luar impianku. Terpujilah dengan cambukmu, yang memberikan lecutan dan membangunkanku atas hakikatku sendiri. Aku tidak dapat menjelaskan siapa atau apa lagi diriku ini; yang kutahu adalah bahwa aku akan berlayar, tapi ke mana, aku pun tidak tahu."


Si gembala mengucapkan selamat tinggal dengan penuh hormat, membelakangi Musa, dan tersaruk-saruk pergi, berjalan lebih jauh ke dalam padang gurun sampai hilang dari pandangan.


*****


Begitulah ketika seseorang  di penuhi cinta kepada Allah. Dia seakan-akan gila tapi bukan gila kehilangan akal. Cuma hatinya dipenuhi cahaya ma'rifat yang membuatnya akstase akan Cinta Tuhannya. Biasa juga Wahdatul Wujud dalam bahasa arabnya dan Manunggaling Kawula Gusti dalam istilah dunia spiritual Jawa.


Wahdatul wujud adalah ajaran yang menyatakan bahwa Tuhan dan alam semesta dan segala ciptaan-Nya adalah satu kesatuan. Wahdatul wujud berasal dari ajaran Ibnu Araby Dan di kembangkan oleh para sufi dengan pengalaman spiritual masing-masing. 


Penjelasan tentang Wahdatul Wujud:


Wahdatul wujud mengajarkan bahwa Tuhan adalah Dzat Yang Maha Esa, sedangkan makhluk adalah bagian dari Dzat Yang Maha Esa tersebut.


Wahdatul wujud mengajarkan bahwa Tuhan memperlihatkan Diri pada apa saja yang ada di alam semesta ini.


Wahdatul wujud mengajarkan bahwa eksistensi alam semesta merupakan manifestasi dari keberadaan Tuhan.


Wahdatul wujud mengajarkan bahwa Tuhan meliputi segala yang ada, namun berada pada dimensinya masing-masing.

Ada beberapa pemikir muslim kontenporer yang mengkritisi atau mungkin lebih tepatnya meluruskan pemahaman umum masyarakat tentang wahdatul wujud ini.


Para pemikir muslim kontenporer ini atau yang lebih umum disebut neo-sufisme ini menolak interpretasi ekstrim Wahdatul Wujud yang mengaburkan batas antara Tuhan sebagai pencipta dan manusia dan alam semesta sebagai makhluk. Atau dengan kata lain, memperjelas pemisahan antara Khalik dan makhluk-Nya.


Pendapat ini memperkuat alasannya dengan pandangan bahwa Tuhan adalah Wujud Hakiki yang mutlak, sedangkan manusia dan alam adalah wujud yang bergantung (mungkin al-wujud). Ia menekankan bahwa wujud makhluk bukanlah wujud Tuhan itu sendiri.

_____


Saya, anda dan siapapun membaca kisah Maulana Rumi diatas bisa berbeda interpretasi dalam menangkap makna yang tersirat dalam kisah ini. Semoga kita bisa menemukan hikmah terpendam dari kisah ini untuk jadi pelajaran hidup mengenal diri dan mengenal Sang Maha Ilmu, Allah SWT. Kalau ada perbedaan dalam melihat makna di balik kisah maka ingatlah selalu kisah gajah dalam gelap, kita hanya bisa meraba dan menerka binatang apa gajah itu, bukan melihatnya langsung.


Allahu A'lam Bissawab

Allahu A'lamu Wa Antum Laa Ta'lamun


*Hanya belajar berbagi. Aku berlindung kepada Allah SWT dari firman-Nya: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan🙏🏼


#kisahsufi #kisahhikmah #ceritasufi

#ceritahikmah

#hikmahteladan

#kisahteladan

#hikayatsufi

#hikayathikmah

#wisdomstory

#chikensoupformuslim


🙏🏼junsyam ininnawa🙏🏼

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 2)

Membaca Alam Pikiran Rumi(Bagian 12)

Maha Suci Allah Yang memperjalankan Hamba-Nya Isra' Mi'raj (Bagian 1)