Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 15)

 Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 15)


Jeweran dari Cinta


15 Ramadhan 1446 H

Sabtu Legi 15 Maret 2025


Menggali makna terpendam dalam kisah-kisah Maulana Jalaluddin Rumi dalam kitab Matsnawi Maknawi.

Oneday berita tentang kisah cinta Majnun dan Laila telah beredar di segala penjuru, tetapi masih banyak orang yang meragukan ketulusan cinta mereka. Suatu hari, sekelompok orang yang curiga, yang penglihatannya jelas-jelas dibatasi oleh kecerdasan bermutu rendah, berpapasan dengan Majnun saat dia mengeluyur di jalanan, kepalanya dipenuhi pemikiran tentang Laila.


"Halo, Majnun," sapa salah seorang lelaki itu. "Kami telah memikirkannya selama beberapa waktu dan tidak tahu mengapa engkau begitu mencintai Laila. Dia tidak cantik, dan apa yang kaulihat dalam diri wanita itu?"


Majnun benar-benar lengah; pikirannya dipenuhi oleh kekasihnya dan tidak bisa menangkap alur pemikiran orang-orang itu. Ditatapnya mereka dengan bingung.


"Majnun, jangan kaget begitu; kami serius! Jika kau ikut dengan kami, kami akan memperkenalkanmu kepada banyak gadis cantik, dan kau tak akan pernah melirik Laila lagi!" sesumbar seorang lelaki lain, puas dengan dirinya sendiri.


"Matamu buta," balas Majnun. "Kau tidak pernah bisa melihat kecantikannya! Tidak seperti aku! Hanya melihat apa yang ada di permukaan adalah reaksi orang bodoh!" Dia berbalik untuk pergi tetapi berubah pikiran dan kembali menghampiri sekelompok orang itu.


"Biar kuberitahu kalian," dia menegaskan, suaranya kian lama kian meninggi. Hanya melihat apa yang kasatmata itu sama dengan memiliki kendi yang indah tetapi tidak menyadari bahwa keindahan sebenarnya terletak pada anggur di dalamnya, karena engkau hanya dapat melihat wadahnya. Aku sudah minum dari kendi itu, dan dari wadah yang sama, Tuhan hanya akan mengizinkan kalian merasakan cuka. Cinta Laila tak akan pernah masuk ke hati kalian. Cinta untuknya tak akan pernah menjewer telinga kalian. Aku akan mencicipi madu dari wadahnya sementara kalian akan merasakan racun. Setiap orang melihat apa yang dia pilih untuk dilihatnya." 


Kali ini, Majnun menerobos sekelompok orang itu sambil mengangkat kepala tinggi-tinggi, semakin mabuk dalam cintanya terhadap Laila.


*****


Begitu banyak kisah cinta yang di ciptakan oleh para pujangga di dunia ini tetapi kisah cinta Laila Majnun ini yang paling "gila" dari roman cinta yang pernah ada.


Bagaimana seorang Nizami Ganjavi, sastrawan Persia di akhir abad 12 menggambarkan atau menganalogikan cinta kepada Allah SWT dengan roman cinta antara dua orang insan.


Cinta Majnun kepada Layla adalah cinta yang di ungkapkan secara lahir dan di ketahui semua orang. Karena keanehan dan kegilaan cinta Qais kepada Layla sehingga namanya di ubah oleh masyarakat menjadi Majnun (gila).


Cinta Layla kepada Majnun adalah cinta yang diam dan terpendam. Tidak banyak orang yang tahu bagaimana dalam cintanya kepada Majnun sehingga nilai cinta Layla lebih tinggi daripada Majnun.

Qais Si Majnun gelandangan di padang pasir di sebelah kampung Layla kekasihnya. Ketika ada angin berhembus, Majnun biasanya langsung berdiri dan menghirup angin itu dengan bahagia karena Majnun yakin kalau angin itu melewati kampung Layla kekasihnya. Hembusan angin yang bertiup itu dari arah kediaman Layla. Majnun merasakannya sebagai napas kehidupannya. Majnun merasa angin itu bagaikan kehadiran langsung dari kekasihnya. Angin tersebut membawa keharuman Layla dan kerinduan yang mendalam Layla kepadanya. Dengan angin itu Majnun bisa mengobati kerinduannya kepada Layla walau hanya lewat hembusan angin yang menerpa tubuhnya.


Dalam ratap dan syukur Qais si Majnun berbicara kepada angin, dan menganggap hembusan itu sebagai satu-satunya penyejuk di tengah kesendirian dan penderitaan hidup menggelandanh di padang pasir.


Mungkin pesan dibalik itu yang diselipkan Nizami Ganjafi dalam Kisah Layla Majnun. Seorang hamba yang mencintai Tuhannya, harusnya selalu merasa diawasi oleh Allah SWT dimana saja berada. Apalagi kalau orang itu sudah merasakan Cinta Ilahi, harusnya sudah merasakan kehadiran Tuhan dimana saja dia berada.


Dalam Akhir ayat 4 Surah Al Hadid Allah berfirman:


 وَهُوَ مَعَكُمْ اَيْنَ مَا كُنْتُمْۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌۗ


Dia bersamamu di mana saja kamu berada. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.


Cinta itu aneh, cinta itu ajaib, cinta itu unik, cinta itu buta. Cinta itu tidak masuk akal. Cinta itu terkadang tragis. Terserah apa kata kalian tentang cinta. Cinta itu Majnun!

Di akhir buku Layla Majnun, Nizami Ganjafi mengakhiri kisah ini setelah keduanya (Layla dan Qais) sudah meninggal dunia. Suatu malam ada seorang sufi yang bermimpi tentang keduanya. Ternyata dalam mimpi sang sufi melihat Layla lebih dekat dan lebih tinggi disisi Tuhan dari pada Qais. Ini dikarenakan Layla mencintai Qais dengan cinta yang terpendam dalam hati, cinta yang 'mabuknya' hanya di dalam hati saja. Cinta yang begitu dalam tapi tidak terungkap. Sedangkan  cinta Qais adalah cinta yang diungkapkan, terlihat dan terekspos kepada  semua orang, Keadaan 'mabuk' cintanya sampai seperti orang gila (majnun).

_____


Saya, anda dan siapapun membaca kisah Maulana Rumi diatas bisa berbeda interpretasi dalam menangkap makna yang tersirat dalam kisah ini. Semoga kita bisa menemukan hikmah terpendam dari kisah ini untuk jadi pelajaran hidup mengenal diri dan mengenal Sang Maha Ilmu, Allah SWT. Kalau ada perbedaan dalam melihat makna di balik kisah maka ingatlah selalu kisah gajah dalam gelap, kita hanya bisa meraba dan menerka binatang apa gajah itu, bukan melihatnya langsung.


Allahu A'lam Bissawab

Allahu A'lamu Wa Antum Laa Ta'lamun


Artikel ini bisa juga dibaca di blog:



*Hanya belajar berbagi. Aku berlindung kepada Allah SWT dari firman-Nya: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan🙏🏼


#kisahsufi #kisahhikmah #ceritasufi

#ceritahikmah

#hikmahteladan

#kisahteladan

#hikayatsufi

#hikayathikmah

#wisdomstory

#chikensoupformuslim

* Gambar sampul buku Layla Majnun, Penertbit Gala Media

🙏🏼junsyam ininnawa🙏🏼

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 2)

Membaca Alam Pikiran Rumi(Bagian 12)

Maha Suci Allah Yang memperjalankan Hamba-Nya Isra' Mi'raj (Bagian 1)