Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 1)
Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 1)
Gajah Dalam Gelap
1 Ramadhan 1446 H
Sabtu Pahing 1 Maret 2025
Menggali makna kisah-kisah Maulana Jalaluddin Rumi dalam kitab Matsnawi Maknawi.
Oneday di sebuah wilayah yang jauh, terdapat kota terpencil yang dibangun murni dari kerja keras penduduknya. Penduduk kota ini tidak pernah melihat gajah sebelumnya, dan ketika pemeluk Hindu datang bersama hewan agung tersebut, hal itu merupakan peristiwa yang benar-benar baru bagi mereka. Gajah adalah harta kepemilikan yang berharga, dan orang-orang Hindu berkeras agar hewan itu dimasukkan ke dalam ruangan untuk menghindarkannya dari malam gurun yang dingin. Jadi, hewan mulia itu digiring ke dalam bangunan terbesar yang bisa disediakan para penduduk kota.
Penduduk kota sangat senang ketika mendapati bahwa sang pemilik akan menampilkan hewan itu di setiap kota yang mereka lewati. Mereka berkeras untuk melihat si gajah pada malam itu juga. Sang pemilik sudah menegaskan bahwa hewan itu tidak dapat dilihat dengan baik dalam kegelapan. Namun penduduk kota tidak keberatan dengan kegelapan, dan mereka bersedia membayar lebih. sampai esok pagi dan harus melihat hewan itu pada malam pertama. Akhirnya si pemilik mengalah dan mengizinkan orang-orang masuk ke kandang meski mereka harus bergiliran satu demi satu, karena gajah menempati sebagian besar ruang di dalam bangunan.
Orang pertama masuk dengan hati-hati dan meraba-raba belalai gajah. "Hewan ini menyerupai pipa!" kata- nya saat melangkah keluar.
Orang kedua masuk dan mulai membelai telinga gajah. "Tidak hewan ini seperti kipas besar!" lapornya.
Orang ketiga yang penasaran pun masuk dan menekankan telapak tangannya ke kaki gajah yang kuat dan kokoh, berseru sambil melangkah keluar, "Kipas apanya? Gajah itu sekokoh pilar!"
Orang keempat, yang berperawakan sangat tinggi, memasuki kandang dan mulai mengusap punggung gajah. "Makhluk ini sedatar tempat tidur!" ujarnya kecewa.
Semakin banyak orang yang bergantian masuk ke ruangan gelap itu, masing-masing keluar dengan pemahaman berbeda tentang fenomena yang mereka temui. Tak satu pun dari mereka dapat sungguh-sungguh mengetahui seperti apa rupa gajah yang sebenarnya, karena mereka berada dalam kegelapan dan harus bergantung pada keterbatasan indra masing-masing yang tak sempurna.
*****
Kalau kita menelaah kisah Rumi di atas. Rumi ingin mengajarkan kepada semua orang tentang kenapa selama ini, orang selalu berbeda pendapat tentang suatu hal. Manusia itu ternyata hanya berbeda sudut pandang.
Ada beberapa faktor yang bisa membuat orang berbeda sudut pandang:
1. Perbedaan keyakinan agama
2. Perbedaan kebudayaan
3. Perbedaan pendidikan
4. Perbedaan data yang di gunakan sehingga kesimpulannya berbeda.
5. Perbedaan kepentingan juga bisa membuat hasilnya berbeda
6. Perbedaan situasi dan kondisi
Semua perbedaan pendapat sebaiknya di sikapi dengan bijaksana, sedapat mungkin menjaga kebaikan dan keharmonisan demi kebaikan bersama.
Begitupun juga dengan perbedaan pendapat tentang hukum syariat terutama hukum fikih yang terkadang sampai menyalahkan satu sama lain karena perbedaan pendapat dan ekstrimnya sampai membenci dan menuduhnya kafir / keluar Islam. Padahal perbedaan ini terjadi karena perbedaan dalil yang digunakan atau perbedaan dalam menafsirkan dan memaknai sebuah dalil.
Menurut Rumi apa yang kita anggap perbedaan itu hanyalah berbeda ketika meraba-raba sesuatu dalam kegelapan.
Kebenaran yang sejati hanya milik Allah SWT. Manusia mendapatkan informasi kebenaran itu lewat utusan Nabi Allah SWT yang di utus untuk mengajarkan kebenaran kepada manusia. Pemahaman seseorang tentang suatu hal tergantung kepada kecerdasan dan pemahaman seseorang. Satu hal bisa dipahami berbeda oleh beberapa orang. Tergantung tingkat kecerdasan orang itu dan kemampuan orang itu mencerna informasi yang diterima.
Kebenaran agama yang kita pahami sekarang ini adalah pemahaman agama yang kita dapat dari guru atau ustadz yang kita dengar dan ikuti. Dengan kata lain Agama Islam yang kita pahami sekarang ini adalah tafsir agama atau pemahaman agama islam dari para guru atau pendakwah. Tentang kebenaran sejati dari tafsir agama itu hanya Allah SWT yang lebih tahu. Maka dari itu biasanya para pengajar atau pendakwah biasanya menutup ceramahnya dengan kata Allahu A'lam. Karena hanya Allah SWT yang Maha Benar, kita hanya bisa mengerti suatu hal lewat olah akal yang bisa kita pahami.
Lewat gajah dalam gelap Jalaluddin Rumi ingin mengingatkan pembacanya tentang jangan selalu merasa benar sendiri dan menganggap orang lain salah.
Kalau kita bisa memahami cerita Rumi tentang Gajah dalam gelap maka kita tidak akan pernah menyalahkan orang lain. Seseorang bisa memahami perbedaan yang banyak terjadi di tengah masyarakat. Semua orang hanya berbeda sudut pandang dalam melihat sesuatu terhadap objek yang sama.
Kita semua adalah orang-orang yang melihat gajah dalam gelap.
Kebenaran itu adalah sepanjang pengetahuan kita tentang suatu hal. Kebenaran bisa jadi lebih panjang atau lebih pendek dari kebenaran yang kita yakini. Kebenaran bisa jadi lebih luas dari yang bisa kita jangkau.
Bijaksanalah dalam melihat dan memahami kebenaran.
Allahu A'lam Bissawab
Allahu A'lamu Wa Antum Laa Ta'lamun
*Hanya belajar berbagi. Aku berlindung kepada Allah SWT dari firman-Nya: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan🙏🏼
#kisahsufi #kisahhikmah #ceritasufi
#ceritahikmah
#hikmahteladan
#kisahteladan
#hikayatsufi
#hikayathikmah
#wisdomstory
#chikensoupformuslim
*gambar diambil dari internet. Kalau ada orang yang merasa punya hak atas gambar ini. Mohon maaf karena saya menggunakan gambar anda tanpa seizin anda. Sekali lagi maaf.
🙏🏼junsyam ininnawa🙏🏼

Komentar
Posting Komentar