Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 31)

 Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 31)


Pelukis Yunani dan Cina


1 Syawal 1446 H

Senin Pahing 31 Maret 2025

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1446 H, 31 Maret 2025.

Taqabbalallahu Minna Wa Minkum Taqabbal Ya Karim.

Mohon maaf lahir dan batin.

Semoga amal ibadah kita selama bulan Ramadhan ini di terima oleh-Nya. Dan membuat hati kita semakin bersih agar cahaya-Nya bisa menembus kedalam hati kita. Dengan cahaya Ilahi dalam hati memantulkan kesegenap semesta alam, merahmati para makhluk ciptaan Allah SWT.

*****

Menggali makna terpendam dalam kisah-kisah Maulana Jalaluddin Rumi dalam kitab Matsnawi Maknawi.

Oneday di Asia Minor, seorang pelukis dari Cina selalu memandang rekan pelukis dari Yunani sebagai saingan berat sejak dulu, masing-masing menganggap diri lebih unggul dari yang lain. Tidak ada yang benar-benar bisa menunjukkan gaya siapa yang lebih canggih atau karya pelukis mana yang lebih indah. Persaingan itu telah berlangsung terlalu lama, dan sultan dari Rum, di Asia Minor, jemu dengan pertengkaran tak kunjung henti dari kedua belah pihak.


Akhirnya sang sultan memutuskan untuk mengadakan kompetisi dalam rangka menetapkan pelukis mana yang paling hebat di zaman mereka. Sultan mempersiapkan dua pondok kosong yang posisinya saling berhadap-hadapan di pelataran istana untuk digarap oleh kedua kelompok yang bersaing. Para pelukis Cina akan menempati satu pondok, sedangkan para pelukis Yunani akan menempati pondok yang berlawanan. Mereka memiliki waktu satu bulan untuk mempresentasikan proyek masing-masing kepada sultan.


Para pelukis Cina tak sabar untuk mulai bekerja dan meminta berbagai warna cat, segera menggambar desain mereka di dinding. Para pelukis Yunani tidak meminta apa-apa, mereka membawa batu-batu khusus untuk memoles permukaan dinding. Tak lama setelah tiba di pondok masing-masing, mereka memulai tugas yang melelahkan untuk membersihkan sisa-sisa kerusakan selama bertahun-tahun yang menutupi semua dinding pondok.


Para pelukis Yunani membutuhkan waktu berjam-jam dengan bekerja keras menghilangkan efek kerusakan selama bertahun-tahun pada dinding tua, cat tua, dan jamur yang mereka gosok dan poles berulang kali. Sementara itu, para pelukisa Cina mengoleskan berlapis-lapis cat, mempercantik desain mereka sendiri sambil menutupi sisa-sisa cat lama.


Para pelukis Yunani sangat mengenal seni Cina dan tidak asing dengan metode yang mereka gunakan. Namun orang-orang Cina tidak mengetahui apa yang sedang dilakukan orang Yunani. Para penonton tidak sabar untuk melihat apa yang sedang dikerjakan oleh seniman-seniman hebat pada masanya dan hampir tidak sanggup menunggu satu hari lagi. Setelah sebulan bekerja, akhirnya para seniman siap memamerkan mahakaryanya kepada hakim agung, sang sultan sendiri.


Hari penilaian pun tiba, dan kedua kelompok pelukis tidak sabar menunggu kedatangan sultan. Musisi memenuhi halaman istana, dan orang-orang menari serta bergembira sambil menunggu hasil akhir diumumkan. Sultan akhirnya tiba bersama rombongan dan langsung melihat mahakarya para pelukis Cina. Desain dan warna yang dipoleskan pada dinding pondok kecil itu telah mengubahnya menjadi istana impian yang megah! Sang sultan belum pernah melihat seni yang sedemikian indah dalam hidupnya dan benar-benar terperanjat. Dia membutuhkan waktu sangat lama untuk menjauhkan diri dari keindahan yang mengelilinginya, lalu melangkah keluar pondok.


Setelah melihat apa yang mungkin dicapai oleh seniman terhebat, sang sultan sekarang sangat penasaran ingin melihat apa yang telah diciptakan oleh para pelukis Yunani. Dengan enggan, ditinggalkannya pondok para pelukis Cina lalu berjalan ke pondok satunya lagi, yang tersembunyi dari pandangan oleh tirai yang sangat besar. Dia perintahkan agar tirai ini disingkap, dan sang sultan langsung memahami keajaiban yang telah dicapai oleh para pelukis Yunani.


Di hadapan sang sultan, berdirilah sebuah pondok usang, yang kini tidak lagi tampak tua atau bobrok. Jamur dan noda-noda lama telah dibersihkan dengan sabar dan susah payah. Para seniman telah menggosok, memoles, dan memugar dinding sedemikian rupa sampai-sampai segala sesuatunya, termasuk lukisan khas Cina di pondok seberang, secara sempurna terpantul dari sana, menunjukkan kemurniannya. Dinding pelukis Yunani itu bagaikan sebuah cermin yang memantulkan dinding lukisan di depannya. Karya para pelukis Cina, dalam segala kerumitan dan keindahannya, termanifestasi dalam kesederhanaan seni para pelukis Yunani, sehingga membuatnya semakin gemilang.


Sang sultan tidak bisa menyembunyikan kekagumannya pada bagaimana cara para pelukis Yunani berhasil menciptakan kembali keindahan dalam bentuknya yang paling elok, menciptakan kondisi yang sempurna. Tanpa keraguan sedikit pun, sang sultan mengetahui kelompok mana yang memiliki seniman lebih unggul.


*****


Sungguh indah Jalaluddin Rumi mengilustrasikan cerita pelukis Yunani dan China ini. Apa yang hendak di sampaikan oleh Rumi Al Balkhi dengan perbandingan 2 kelompok pelukis ini? 


Mungkin Rumi ingin menasehati kita yang hatinya tertutup oleh 'noda-noda' dosa.


Wahai orang-orang yang beriman, bersihkan hatimu dari kotoran yang menyebabkan hatimu tertutupi. Bersihkan jiwamu dengan taubat dan menyesalan diri. Bersihkan dirimu dari pengaruh hawa dan syahwat yang mengakibatkan hatimu gelap.


Bagaimana mungkin engkau bisa memancarkan cahaya Ilahi bila hatimu tertutupi noda dan dosa. Bagaimana mungkin cahaya bisa menembus qalbumu kalau di penuhi dengan kotoran dosa-dosamu.


Kalau hatimu sudah bersih dan bening maka Cahaya Allah akan menembus hatimu, dan hatimu akan bercahaya menyinari sekelilingmu, memberkahi alam tempatmu bernaung. Petunjuk Ilahi akan langsung menembus ke dalam jiwamu untuk menyinari  hatimu sehingga orang tersebut beribadah kepada Allah seakan-akan dia melihat-Nya. Hatinya penuh dengan pengenalan akan Tuhannya, mencintai dan mengagungkan-Nya, takut dan gentar terhadap-Nya. Jika hatinya telah penuh dengan itu semua, maka hilanglah ketergantungannya terhadap segala sesuatu selain Allah dan tidak ada ketergantungan hamba terhadap sesuatupun berdasarkan hawa nafsu dan syahwat nafsunya. Tidak ada yang dia kehendaki selain apa yang dikehendaki Tuhannya. Maka ketika itu, seorang hamba tidak berucap selain untuk mengingat-Nya, tidak bergerak selain dengan perintah-Nya. Jika dia berbicara, dia berbicara dengan Allah, jika dia mendengar, dia mendengar dengan Allah. Jika dia melihat, dia melihat dengan Allah. Semua tindakannya karena ridha Allah SWT. Tangannya tidak memukul dan kakinya tidak berjalan selain apa yang diridahi Allah sebagai Tuhannya.


فَبِي يَسْمَعُ وَبِي يُبْصِرُ وَبِي يَبْطِشُ وَبِي يَمْشِي


"Dengan-Ku dia mendengar, dengan-Ku dia melihat, dengan-Ku dia memukul, dengan-Ku dia berjalan.

_____


Siapapun orang yang  membaca kisah Maulana Jalaluddin Rumi Al Balkh diatas, bisa berbeda interpretasi dalam menangkap makna yang tersirat dalam kisah ini. Semoga kita bisa menemukan hikmah terpendam dari kisah ini untuk jadi pelajaran hidup mengenal diri dan mengenal Sang Maha Ilmu, Allah SWT. Kalau ada perbedaan dalam melihat makna di balik kisah maka ingatlah selalu kisah gajah dalam gelap, kita hanya bisa meraba dan menerka binatang apa gajah itu, bukan melihatnya langsung.


Allahu A'lam Bissawab

Allahu A'lamu Wa Antum Laa Ta'lamun


*Hanya belajar berbagi. Aku berlindung kepada Allah SWT dari firman-Nya: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan🙏🏼


#kisahsufi #kisahhikmah #ceritasufi

#ceritahikmah

#hikmahteladan

#kisahteladan

#hikayatsufi

#hikayathikmah

#wisdomstory

#chikensoupformuslim


🙏🏼junsyam ininnawa🙏🏼


Jun - Dessy - Nawa

Komentar