Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 26)
Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 26)
Kacang Polong
26 Ramadhan 1446 H
Rabu Pahing 26 Maret 2025
Menggali makna terpendam dalam kisah-kisah Maulana Jalaluddin Rumi dalam kitab Matsnawi Maknawi.
Oneday seorang wanita pergi berbelanja dan kembali membawa sekantong besar kacang polong yang ingin dia gunakan untuk membuat beberapa jenis salad dan sup. Dia bersihkan kacang polong itu, membilasnya, kemudian merendamnya selama beberapa jam sebelum merebusnya perlahan dalam kuali besar.
Begitu kualinya mulai mendidih, kacang-kacang itu mulai melompat-lompat, berteriak: "Kau telah membeli kami, dan kami milikmu, tapi mengapa memasak kami sekarang?"
"Sudah waktunya bagi kalian untuk direbus, jadi diam dan bersabarlah. Aku harus memasak kalian dengan benar, sampai kalian siap untuk ditambahkan ke hidangan terbaikku," tegas wanita itu penuh arti. "Ketika kalian tumbuh di ladang, kalian cukup diberi makan, tetapi sekarang saatnya untuk menghadapi kesulitan. Kalian tahu bahwa tujuan akhir kalian adalah menjadi makanan bagi jiwa, bukan hanya tubuh! Begitulah pada akhirnya kalian akan menuai hasil terbesar kalian."
Kacang-kacang itu perlahan berhenti melompat-lompat dan diam, pasrah terhadap kenyataan bahwa jika mereka ingin menjadi bagian dari skema besar kehidupan, mereka harus kehilangan aspek material mereka dan memercayai bimbingan tuan mereka.
*****
Manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT yang paling mulia. Manusia lahir ke dunia ini untuk mempersiapkan diri untuk kehidupan yang kekal. Manusia lahir ke dunia dalam keadaan suci bersih dari noda dosa. Ketika kita di dunia, kita terlena dengan kehidupan dunia ini dan mengotori diri kita (jiwa kita), menzalimi diri yang sudah bersih.
Manusia 'mengotori' hatinya yang bersih dari lahir dengan memperturutkan hawa nafsu dan syahwat nafsunya dengan banyak melanggar perintah Allah dan mengerjakan larangan-Nya.
Nabi dan rasul di utus Allah SWT untuk menuntun manusia kembali ke jalan Allah SWT. Perjalanan kembali menuju Allah SWT ini manusia akan banyak menemukan ujian dan cobaan untuk mensucikan jiwanya menjadi insan paripurna atau Insan Kamil menurut Abdul Karim Al Jili.
Allah SWT berfirman:
اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ
Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, "Kami telah beriman," sedangkan mereka tidak diuji? (QS Al-Ankabut: 2)
Dalam hadis, Rasulullah SAW bersabda, "...Apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka".
Proses ujian inilah yang di simbolkan dalam cerita Jalaluddin Rumi di atas dengan proses pencucian, perendaman dan perebusan kacang polong untuk menjadi hidangan terbaik.
Hanya orang yang sabar dan pasrah dengan ujian Ilahi yang akan menjadi Insan Kamil.
Ayo siapa yang mau jadi kacang polong?
_____
Siapapun orang yang membaca kisah Maulana Jalaluddin Rumi Al Balkh diatas, bisa berbeda interpretasi dalam menangkap makna yang tersirat dalam kisah ini. Semoga kita bisa menemukan hikmah terpendam dari kisah ini untuk jadi pelajaran hidup mengenal diri dan mengenal Sang Maha Ilmu, Allah SWT. Kalau ada perbedaan dalam melihat makna di balik kisah maka ingatlah selalu kisah gajah dalam gelap, kita hanya bisa meraba dan menerka binatang apa gajah itu, bukan melihatnya langsung.
Allahu A'lam Bissawab
Allahu A'lamu Wa Antum Laa Ta'lamun
*Hanya belajar berbagi. Aku berlindung kepada Allah SWT dari firman-Nya: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan🙏🏼
#kisahsufi #kisahhikmah #ceritasufi
#ceritahikmah
#hikmahteladan
#kisahteladan
#hikayatsufi
#hikayathikmah
#wisdomstory
#chikensoupformuslim
🙏🏼junsyam ininnawa🙏🏼

Komentar
Posting Komentar