Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 21)
Membaca Alam Pikiran Rumi (Bagian 21)
Majnun Sakit Difteri
21 Ramadhan 1446 H
Junat Pahing 21 Maret 2025
Menggali makna terpendam dalam kisah-kisah Maulana Jalaluddin Rumi dalam kitab Matsnawi Maknawi.
Ada banyak kisah cinta hebat yang diceritakan dari masa ke masa, tetapi kisah Majnun serta cintanya terhadap Laila lebih terkenal lagi di seluruh dunia.
Oneday ketika Majnun jatuh sakit, dan dia tahu persis alasannya: dia telah berpisah terlalu lama dengan Laila yang dikasihinya. Penderitaan karena tidak bisa berada di dekat gadis itu telah menurunkan semangat Majnun, dan melemahkan tubuhnya yang sudah ringkih. Dia batuk tak henti-henti dan kesulitan bernapas, tidak bisa makan atau minum.
Teman-temannya akhirnya memanggil tabib, yang berjanji akan berupaya keras untuk memulihkan kesehatan Majnun. Setelah memeriksanya secara menyeluruh, tabib mengumumkan si pecinta yang kesepian itu terjangkit difteri.
"Jadi, apa solusinya?" tanya teman-teman Majnun tak sabar.
"Aku tidak tahu ada pengobatan lain selain mengeluarkan darahnya!" perintah tabib. "Kecuali kita buang darah yang terinfeksi, dia tidak bakal bertahan melewati malam." Tabib pun memanggil tenaga ahli untuk prosedur pembuangan darah.
Majnun, yang setengah sadar, mendengar rencana pengobatan tabib dan berusaha keras untuk duduk di ranjangnya. Tabib mencoba mencegah pemuda itu membuang-buang energi sementara berusaha mengikat lengannya dengan sehelai kain yang kuat. Dia mempersiapkannya untuk memulai prosedur pembuangan darah dengan sayatan silet yang tajam, tetapi Majnun memberi isyarat bahwa dia ingin berbicara. Tinggalkan aku sendiri!" teriaknya sambil mengibaskan tangan.
"Tapi Sobat, kau tak akan bertahan melewati malam ini!" tabib mencoba meyakinkannya.
"Biarlah! Jika tubuhku yang ringkih ini ingin meninggalkan bumi, maka biarlah itu terjadi."
Teman-temannya, si ahli pembuang darah, dan tabib, yang kesemuanya mengetahui bahwa Majnun telah menunjukkan keberanian dalam sejumlah petualangannya di masa lalu, bertanya-tanya apakah sekarang dia kehilangan keberanian dan takut disayat.
"Majnun," seru salah seorang temannya. "Sejak kapan kau takut dengan luka kecil? Kau, yang kukenal tak gentar menghadapi binatang buas di negeri yang tak diketahui, mengapa harus takut dengan ini?"
"Aku tidak takut disayat; faktanya seluruh tubuhku dipenuhi luka sayatan cinta," jawabnya sambil menerawang. "Aku sudah tidak ada lagi, karena seluruh keberadaanku dirampas oleh kecintaanku terhadap Laila. Aku hanya takut jika kau menyayatku, kau mungkin akan ikut menyayat Lailaku juga! Hanya orang sangat sensitif yang bisa mengetahui bahwa tidak ada perbedaan antara aku dan Laila, bahwa kami adalah satu dan sama!"
Setelah mengutarakan pemikirannya, Majnun berpaling dari mereka yang berusaha membantunya dan menolak untuk disentuh, secara naluriah melindungi cinta dalam hidupnya, Laila.
*****
Membaca ini saya benar kagum dengan Nizami Ganjavi (1141 – 1209), yang nama lengkapnya adalah Nizamuddin Abū Muhammad Ilyas binYusuf bin Zaki bin Mu'ayyid, adalah penyair yang dianggap sebagai penyair epik romantik terbesar dalam literatur Persia, yang membawa gaya realistik epik Persia. Bagaimana Nizami mengilustrasikan cinta kepada Ilahi Rabbi dengan kisah cinta epik Laila Majnun.
Singkat kisahnya, ayah Layla melakukan segala upaya untuk memisahkan anaknya Laila dengan Majnun, termasuk menjodohkan Laila dengan salah seorang pemuda kaya raya: Ibnu Salam. Laila akhirnya dinikahkan tapi Laila sama sekali tak membiarkan Ibnu Salam menyentuhnya. Bertahun-tahun Laila sengsara dan tinggal bersama suami yang tak dicintainya.
Kabar Laila menikah diketahui oleh Majnun. Betapa hancur dan kacau hidupnya mengetahui fakta itu. Majnun membenturkan kepalanya dengan batu sampai berdarah, ia nangis tersedu-sedu.
Karena kasihan kepada Majnun, ada seseorang yang berkata bahwa Laila tidak bahagia atas pernikahannya. Bahwa Laila tak membiarkan tubuhnya disentuh oleh laki-laki itu. Karena tubuh dan hati Laila sepenuhnya hanya milik Majnun.
Laila meninggal karena sakit memikirkan cintanya. Ia benar-benar menjadi perempuan yang sengsara selama hidupnya. Karena perlakuan ayahnya.
Majnun sedih bukan main ketika mendengar kabar meninggalnya Laila. Bahkan Majnun tidak pernah beranjak dari makam Laila. Peziarah yang ingin datang ke makam Laila pada takut sebab disekitar Majnun banyak hewan liar yang menemaninya dan menjadi sahabatnya. Pada akhirnya Majnun juga ikut mati di sisi makam Laila. Tubuhnya telah ditemukan membusuk oleh masyarakat. Akhirnya Majnun di makamkan di samping makam kekasih sejatinya Laila.
Di akhir kisahnya, seorang Sufi dalam mimpinya melihat Majnun memperoleh tempat terbaik dan dipenuhi rasa cinta dan sayang dari Allah SWT, kemudian Allah SWT mendudukkan Majnun disamping-Nya. Kemudian Allah SWT kepada Majnun “apakah engkau tidak malu wahai Qais memanggil-manggil nama-Ku dengan sebutan Laila, setelah kau meminum anggur Cintaku?”
Tak begitu lama sang sufi pun terbangun dan berpikir panjang mencari Laila dalam mimpinya: “Jikalau Majnun sebegitunya diperlakukan dengan penuh kasih sayang oleh Allah SWT, lantas bagaimana dengan Laila?”. Seketika Allah memberikan ilham kepadanya bahwa kedudukan Laila jauh lebih agung dan tinggi daripada Majnun, karena ia menyembunyikan segala rahasia cintanya dalam diri dan hidupnya sendiri. Laila mencintai Majnun tanpa membuatnya segila Majnun. Laila memendam cintanya sendiri tanpa mengumbar-umbar cintanya sedangkan Qais mencintai Laila dengan diumbar-umbar sampai semua orang tahu dan menyematkan Majnun pada dirinya.
Ingat... Ingat... Ingat...
Ini ilustrasi yang menggambarkan tentang Cinta Ilahi dengan mengilustrasikan lewat cinta dua orang kekasih.
_____
Siapapun orang yang membaca kisah Maulana Jalaluddin Rumi Al Balkh diatas, bisa berbeda interpretasi dalam menangkap makna yang tersirat dalam kisah ini. Semoga kita bisa menemukan hikmah terpendam dari kisah ini untuk jadi pelajaran hidup mengenal diri dan mengenal Sang Maha Ilmu, Allah SWT. Kalau ada perbedaan dalam melihat makna di balik kisah maka ingatlah selalu kisah gajah dalam gelap, kita hanya bisa meraba dan menerka binatang apa gajah itu, bukan melihatnya langsung.
Allahu A'lam Bissawab
Allahu A'lamu Wa Antum Laa Ta'lamun
*Hanya belajar berbagi. Aku berlindung kepada Allah SWT dari firman-Nya: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan🙏🏼
#kisahsufi #kisahhikmah #ceritasufi
#ceritahikmah
#hikmahteladan
#kisahteladan
#hikayatsufi
#hikayathikmah
#wisdomstory
#chikensoupformuslim
🙏🏼junsyam ininnawa🙏🏼
.jpg)
Komentar
Posting Komentar